Warung Bebas

Sabtu, 04 Agustus 2012

PENDIDIKAN DAN PERUBAHAN SOSIAL-BUDAYA

PENDIDIKAN DAN PERUBAHAN
SOSIAL-BUDAYA
A. Pendidikan sebagai Sosialisasi Kebudayaan
Telah kita ketahui bersama bahwasanya pendidikan lahir
seiring dengan keberadaan manusia, bahkan dalam proses pembentukan
masyarakat pendidikan ikut andil untuk menyumbangkan
proses-proses perwujudan pilar-pilar penyangga masyarakat.
Dalam hal ini, kita bisa mengingat salah satu ungkapan para
tokoh antropologi seperti Goodenough, 1971; Spradley, 1972; dan
Geertz, 1973 mendefinisikan arti kebudayaan di mana kebudayaan
merupakan suatu sistem pengetahuan, gagasan dan ide yang
dimiliki oleh suatu kelompok masyarakat yang berfungsi sebagai
landasan pijak dan pedoman bagi masyarakat itu dalam bersikap
dan berperilaku dalam lingkungan alam dan sosial di tempat
mereka berada (Sairin , 2002).
Sebagai sistem pengetahuan dan gagasan, kebudayaan yang
dimiliki suatu masyarakat merupakan kekuatan yang tidak tampak
(invisble power), yang mampu menggiring dan mengarahkan
manusia pendukung kebudayaan itu untuk bersikap dan berperilaku
sesuai dengan pengetahuan dan gagasan yang menjadi
milik masyarakat tersebut, baik di bidang ekonomi, sosial, politik,
kesenian dan sebagainya.
Sebagai suatu sistem, kebudayaan tidak diperoleh manusia
dengan begitu saja secara ascribed, tetapi melalui proses belajar
yang berlangsung tanpa henti, sejak dari manusia itu dilahirkan
sampai dengan ajal menjemputnya. Proses belajar dalam konteks
kebudayaan bukan hanya dalam bentuk internalisasi dari sistem
“pengetahuan” yang diperoleh manusia melalui pewarisan atau
transmisi dalam keluarga, lewat sistem pendidikan formal di
sekolah atau lembaga pendidikan formal lainnya, melainkan juga
diperoleh melalui proses belajar dari berinteraksi dengan lingkungan
alam dan sosialnya.
Melalui pewarisan kebudayaan dan internalisasi pada setiap
individu, pendidikan hadir dalam bentuk sosialisasi kebudayaan,
berinteraksi dengan nilai-nilai masyarakat setempat dan memelihara
hubungan timbal balik yang menentukan proses-proses
perubahan tatanan sosio-kultur masyarakat dalam rangka
mengembangkan kemajuan peradabannya.
Sebaliknya, dimensi-dimensi sosial yang senantiasa mengalami
dinamika perkembangan seiring dengan kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi merupakan faktor dominan yang telah
membentuk eksistensi pendidikan manusia. Penggunaan alat dan
sarana kebutuhan hidup yang modern telah memungkinkan pola
pikir dan sikap manusia untuk memproduk nilai-nilai baru sesuai
dengan intensitas pengaruh teknologi terhadap tatanan kehidupan
sosial budaya.
Dalam hal ini, pendidikan menjadi instrumen kekuatan sosial
masyarakat untuk mengembangkan suatu sistem pembinaan
anggota masyarakat yang relevan dengan tuntutan perubahan
zaman. Abad globalisasi telah menyajikan nilai-nilai baru, pengertian-
pengertian baru serta perubahan-perubahan di seluruh ruang
lingkup kehidupan manusia yang waktu kedatangannya tidak
bisa diduga-duga. Sehingga dunia pendidikan merasa perlu untuk
membekali diri dengan perangkat pembelajaran yang dapat
memproduk manusia zaman sesuai dengan atmosfir tuntutan global.
Penguasaan teknologi informasi, penyediaan SDM yang profesional,
terampil dan berdaya guna bagi masyarakat, kemahiran
menerapkan Iptek, perwujudan tatanan sosial masyarakat yang
terbuka, demokratis, humanis serta progresif dalam menghadapi
kemajuan jaman merupakan beberapa bekal mutlak yang harus
dimiliki oleh semua bangsa di dunia ini yang ingin tetap bertahan
menghadapi tata masyarakat baru berwujud globalisasi.
Melihat urgensi hubungan antara pendidikan dan dinamika
sosial budaya, sosiologi pendidikan berusaha menerapkan analisis
ilmiah untuk memahami fenomena pendidikan dalam hubungannya
dengan perubahan sosial-kebudayaan. Di mana pada langkah
awalnya akan dibangun suatu proses penjelasan hakikat kebudayaan
sebagai wahana tumbuh kembangnya eksistensi pendidikan
terhadap anggota masyarakat. Sebagai salah satu perangkat
kebudayaan pendidikan akan melakukan tugas-tugas kelembagaan
sesuai dengan hukum perkembangan masyarakat. Dari
sini dapat kita amati bersama sebuah alur pembahasan hubungan
dialektik antara pendidikan dengan realitas perkembangan sosial
59
faktual yang saat ini tengah menggejala pada hampir seluruh
masyarakat dunia.
B. PergulatanManusia dalam Keanekaragaman Budaya
Semenjak awal dunia telah melakukan penelusuran hakikat
asal usul dari manusia. Seperti mengungkap kotak hitam misteri
yang tak pernah ditemukan kunci pembukanya, pemecahan seluk
beluk sejarah manusia telah menyita waktu dan pemikiran yang
menimbulkan penafsiran bermacam-macam. Masing-masing
pemikir atau asumsi umum silih berganti mengajak masyarakat
menjadi penganut perspektif tersebut. Diantaranya adalah tiga
asumsi besar yang hadir pada masyarakat awam sebelum jaman
pencerahan. Pertama, ada yang berpendapat bahwa pada dasarnya
makhluk manusia memang diciptakan beraneka macam atau
poligenesis; dan menganggap bahwa orang-orang di Eropa yang
berkulit putih merupakan makhluk manusia yang paling baik dan
kuat. Oleh karena itu, kebudayaan yang dimilikinya juga paling
sempurna dan paling tinggi. Cara berpikir yang kedua adalah
yang meyakini bahwa sebenarnya makhluk manusia itu hanya
pernah diciptakan sekali saja atau monogenesis; yaitu dari satu
makhluk induk dan bahwa semua makhluk manusia di dunia ini
merupakan keturunan Adam. Sebagian dari mereka yang punya
pandangan ini berpendapat bahwa keanekaragaman makhluk
manusia dan kebudayaannya, dari tinggi sampai rendah; sebagai
akibat proses kemunduran yang disebabkan oleh dosa abadi yang
pernah dilakukan oleh Nabi Adam. Sebaliknya, sebagian lain
berpendapat bahwa sebenarnya makhluk manusia dan kebudayaan
tidak mengalami proses degenerasi. Akan tetapi apabila pada
masa kini terdapat perbedaan, lebih disebabkan oleh tingkat
kemajuan mereka yang berbeda. Makhluk manusia yang mereka
jumpai di Afrika, Asia dan Oceanea merupakan keturunan Nabi
Adam yang nenek moyang mereka ‘lebih rendah’ dibandingkan
dengan nenek moyang orang-orang Eropa.
Kebangkitan kembali terhadap studi kesusastraan dan ilmu
pengetahuan Yunani dan Rumawi Klasik yang terjadi pada abad
XVI di Eropa atau yang dikenal dengan Renaissance; menimbulkan
rasionalisme yang pada akhirnya menyebabkan kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi di Eropa. Pada masa itu, yaitu sampai
abad XVIII, Eropa mengalami zaman Aufklarung atau ‘Pencerahan’.
Berbagai bidang kajian banyak dilakukan, termasuk upaya
untuk meneliti tentang keanekaragaman makhluk manusia dan
kebudayaannya di berbagai tempat di muka bumi. Beranekamacam
kajian anatomi komparatif yang dilakukan, lebih ditekankan
atas dasar keanekaragaman ciri-ciri fisik manusia. Selain itu,
ada sebagai para ahli filsafat sosial di masa Aufklarung, mulai
mengkaji berbagai bentuk-bentuk masyarakat dan tingkah laku
makhluk manusia. Berbagai gejala dan tingkah laku manusia,
dicoba untuk dipahami dengan mendasarkan pada kaidah-kaidah
alam. Untuk itu metodologi ilmu eksaksta, khususnya biologi,
kerapkali dicoba untuk diterapkan untuk mengkaji perilaku
manusia. Kesemuanya itu tidak terlepas dari kekaguman mereka
terhadap kemajuan ilmu alam dan ilmu pasti yang terjadi pada
zaman itu. Beraneka ragam gejala perilaku makhluk manusia
dalam kehidupan bermasyarakat, dianalisis secara induktif
dengan mencari unsur-unsur persamaan yang ada; kemudian
diupayakan dirumuskannya sebagai kaidah-kaidah sosial. Cara
berpikir rasional yang akhirnya berkembang menjadi aliran positivisme
sangat mewarnai para cendekiawan pada zaman
Aufklarung. Mereka percaya bahwa berbagai kaidah tersebut akan
dapat dipergunakan untuk mengatur dan merubah suatu
masyarakat.
Agaknya, pola pikir para cendekiawan masa Aufklarung yang
memandang masyarakat dan kebudayaan sebagai suatu kesatuan,
yang mana bagian-bagian dan unsur-unsurnya saling terkait antara
satu dengan lainnya sebagai suatu sistem yang bulat; sampai
sekarang ini masih tetap relevan dalam antropologi, terutama
yang mengacu pada metode pendekatan holistik.
Wujud dari keanekaragaman masyarakat manusia itu di samping
disebabkan oleh akibat dari sejarah mereka masing-masing;
juga karena pengaruh lingkungan alam dan struktur internalnya.
Oleh karenanya sesuatu unsur atau adat dalam suatu kebudayaan,
tidak dapat dinilai dari pandangan kebudayaan lain, melainkan
harus dari sistem nilai yang ada dalam kebudayaan itu sendiri
(relativisme kebudayaan). Atas dasar itu, ia mengajukan konsep
pemikirannya bahwa pada dasarnya kebudayaan umat manusia
adalah berkembang melalui suatu tingkat-tingkat evolusi tertentu.
Kebudayaan yang dimiliki orang Eropa merupakan contoh dari
tahap akhir suatu proses evolusi tersebut.
60
Sejak pertama kalinya, makhluk yang bercirikan manusia
muncul di muka bumi sekitar satu juta tahun yang lalu, yaitu
dengan ditemukannya fosil dari makhluk Pithecanthropus Erectus,
sampai dengan sekarang ini, telah terjadi berbagai perubahan
kebudayaan yang dimilikinya; sementara itu proses evolusi
organik makhluk manusia tidak secepat perkembangan kebudayaannya.
Oleh karenanya kebudayaan menunjukkan satu sifat
khasnya yakni superorganik. Apabila proses evolusi kebudayaan
dibandingkan dengan proses evolusi fisik dari makhluk manusia,
sampai pada suatu kurun waktu tertentu masih berjalan sejajar.
Akan tetapi pada suatu tahap perkembangan tertentu, diduga
proses perubahan kebudayaan berjalan amat cepat sekali seolaholah
meninggalkan proses evolusi organiknya.
Selain disebabkan oleh mekanisme lain seperti munculnya
penemuan baru atau invention, difusi dan akulturasi; perubahan
suatu lingkungan akan dapat pula mengakibatkan terjadinya
perubahan kebudayaan. Selama perjalanan waktu yang lama,
dengan akal yang dimilikinya, makhluk manusia semakin memiliki
kemampuan menyempurnakan kebudayaan yang dimilikinya.
Setiap kali mereka berupaya menyempurnakan dirinya, maka
akan menyebabkan perubahan kebudayaannya. Suatu perubahan
kebudayaan dapat berasal dari luar lingkungan pendukung
kebudayaan tersebut. Gerak kebudayaan yang telah menimbulkan
perubahan dan perkembangan, akhirnya juga menyebabkan
terjadinya pertumbuhan; sementara itu tidak tertutup kemungkinan
hilangnya unsur-unsur kebudayaan lama sebagai akibat
ditemukannya unsur-unsur kebudayaan baru. Dalam rangka studi
akulturasi, para ahli antropologi telah lama mencoba untuk
memahami terjadinya perbedaan derajat perubahan perkembangan
suatu kebudayaan.
Sementara itu dalam sejarah perkembangan kebudayaan
umat manusia, Childe (1998) berpendapat bahwa ada tiga jenis
revolusi terpenting dalam sejarah perkembangan kebudayaan
makhluk manusia. Perubahan kebudayaan yang demikian pesat
atau lebih dikenal dengan Revolusi Kebudayaan Pertama, terjadi
tatkala makhluk manusia yang termasuk Homo Sapiens pada
sekitar 80.000 tahun yang lalu, mereka masih hidup dari berburu
dan meramu. Kepandaian bercocok tanam baru muncul sekitar
sepuluh ribu tahun yang lalu di sekitar daerah pertemuan Sungau
Tigris dan Eufrat atau di Lembah Mesopotamia. Setelah ia
mengenal sistem pemukiman kota, artinya ia mulai juga bertempat
tinggal di kota-kota pada enam ribu tahun yang lalu di Pulau
Kreta Yunani, terjadilah suatu Revolusi Kebudayaan kedua; dan
setelah itu perkembangan kebudayaan manusia semakin pesat.
Akhirnya pada abad XVII di Inggris, terjadi Revolusi Industri, dan
oleh Gordon Childe dianggap sebagai Revolusi Kebudayaan
ketiga. Setelah Revolusi Industri, makhluk manusia mengenal
teknik memproduksi barang secara massal karena tenaga manusia
mulai digantikan dengan mesin-mesin yang ditemukan. Sejak
itulah, kebudayaan umat manusia semakin tumbuh dengan pesat
seolah-olah melepaskan dirinya dari proses evolusi organik atau
evolusi biologis makhluk manusia.
Menurut Morgan, 1877 (dalam Poerwanto, 2000) menyatakan
bahwa tingkat kemajuan masyarakat manusia dapat dibagi ke
dalam tiga periode evolusi, yaitu periode masyarakat berburu
atau periode liar (savage), periode beternak (barbarism) dan periode
pertanian yang berkembang ke arah peradaban atau civilitation .
Dalam konteks tersebut, para cendekiawan di masa Aufklarung
selalu menempatkan bangsa-bangsa di luar Eropa sebagai contoh
orang yang tingkat perkembangan kebudayaannya berada pada
tahap awal.
61
Periodesasi Kebudayaan dan Peradaban UmatManusia
Menurut Pandangan Lewis H.Morgan ,1877
( dalam Poerwanto, 2000: 49)
Periode Tahapan Kriteria
III. Peradaban
(Civilitation)
II. Barbar
(Barbarism)
I. Liar
(Savagery)
-
3. Barbar Atas
2. Barbar Madya
1. Barbar Bawah
3. Liar Atas
2. Liar Madya
1. Liar Bawah
- Sejak ditemukannya aksara
sampai dengan sekarang
- Sejak kemahiran melebur
besi dan mempergunakan
besi sebagai alat
- Mulai beternak binatang
dan mengenal pertanian
dengan irigasi
- Sejak dikenalnya pembuatan
barang tembikar
- Sejak ditemukannya panah
dan busur
- Sejak menguasai cara menangkap
ikan dan mampu
membuat api kehidupan
subsisten
- Sejak awal munculnya ras
makhluk manusia sampai
dengan priode berikutnya.
Manusia dan kebudayaan merupakan satu kesatuan yang
tidak terpisahkan, sementara itu pendukung kebudayaan adalah
makhluk manusia itu sendiri. Sekalipun makhluk manusia akan
mati, tetapi kebudayaan yang dimilikinya akan diwariskan pada
keturunannya, demikian seterusnya. Pewarisan kebudayaan
makhluk manusia, tidak selalu terjadi secara vertikal atau kepada
anak-cucu mereka; melainkan dapat pula secara horisontal yaitu
manusia yang satu dapat belajar kebudayaan dari manusia lainnya.
Berbagai pengalaman makhluk manusia dalam rangka
kebudayaannya, diteruskan dan dikomunikasikan kepada generasi
berikutnya oleh indiividu lain. Berbagai gagasannya dapat
dikomunikasikannya kepada orang lain karena ia mampu
mengembangkan gagasan-gagasannya itu dalam bentuk lambanglambang
vokal berupa bahasa, baik lisan maupun tertulis.
Kebudayaan mengenal ruang dan tempat tumbuh kembangnya,
dengan mengalami perubahan, penambahan dan pengurangan.
Manusia tidak berada pada dua tempat atau ruang sekaligus,
ia hanya dapat pindah ke ruang lain pada masa lain. Pergerakan
ini telah berakibat pada persebaran kebudayaan, dari masa
ke masa, dan dari satu tempat ke tempat lain. Sebagai akibatnya di
berbagai tempat dan waktu yang berlainan, dimungkinkan adanya
unsur-unsur persamaan di samping perbedaan-perbedaan.
Oleh karena itu di luar masanya, suatu kebudayaan dapat
dipandang ketinggalan zaman (anakronistik), dan di luar tempatnya
dipandang asing atau janggal.
C. Pendidikan dalam Lingkup Kebudayaan
Pada dasarnya pendidikan tidak akan pernah bisa dilepaskan
dari ruang lingkup kebudayaan. Kebudayaan merupakan hasil
perolehan manusia selama menjalin interaksi kehidupan baik
dengan lingkungan fisik maupun non fisik. Hasil perolehan
tersebut berguna untuk meningkatkan kualitas hidup manusia.
Proses hubungan antar manusia dengan lingkungan luarnya telah
mengkisahkan suatu rangkaian pembelajaran secara alamiah.
Pada akhirnya proses tersebut mampu melahirkan sistem gagasan,
tindakan dan hasil karya manusia. Disini kebudayaan dapat
disimpulkan sebagai hasil pembelajaran manusia dengan alam.
Alam telah mendidik manusia melalui situasi tertentu yang
memicu akal budi manusia untuk mengelola keadaan menjadi
sesuatu yang berguna bagi kehidupannya.
Dalam konteks hidupnya demi membentuk ketahanan hasil
buah budi tersebut manusia melanjutkan dalam suatu tatanan
simbol yang memberi arah bagi kehidupan. Sistem simbol ini
menjadi rujukan utama bagi masyarakat pendukung dalam berpikir
maupun bertindak. Proses selanjutnya yang terjadi adalah
hubungan transformatif dan penguatan sistem simbol agar dapat
diteruskan kepada anggota berikutnya. Selain itu selama kehidupan
berjalan unsur-unsur kebudayaan selalu berubah menyesuaikan
perkembangan jaman. Dalam hal ini sistem simbol
dengan sendirinya melakukan reaksi untuk mengintegrasikan
perubahan atas unsur kebudayaan. Agen yang berfungsi sebagai
transmitor produk budaya kepada anggota (khususnya generasi
muda) adalah pendidikan. Hal ini mengingat pendidikan itu tiada
62
lain adalah wahana pembelajaran segala bentuk kemampuan bagi
sang pembelajar agar menjadi manusia dewasa.
Antara pendidikan dan kebudayaan terdapat hubungan yang
sangat erat dalam arti keduanya berkenaan dengan suatu hal yang
sama yakni nilai-nilai. Dalam konteks kebudayaan justeru pendidikan
memainkan peranan sebagai agen pengajaran nilai-nilai
budaya. Dari paparan terakhir dapat ditangkap bahwa pada
dasarnya pendidikan yang berlangsung adalah suatu proses pembentukan
kualitas manusia sesuai dengan kodrat budaya yang
dimiliki.
Afinitas mengenai pendidikan dan kebudayaan dapat kita
cermati dalam ciri khas manusia sebagai makhluk simbolik.
Hanya manusialah yang mengenal dan memanfaatkan simbolsimbol
di dalam kelanjutan kehidupannya. Simbol-simbol itu
dapat kita lihat di dalam kebudayaan manusia. Mengingat kebudayaan
dilestarikan dan dikembangkan melalui simbol-simbol
maka semua tingkah laku manusia terdiri dari, dan tergantung
pada simbol-simbol tersebut. Sebaliknya kebudayaan bisa lestari
apabila memiliki daya kerja yang kuat dalam memberikan arahan
para pendukungnya. Oleh karena itu kebudayaan diturunkan
kepada generasi penerusnya lewat proses belajar tentang tata cara
bertingkah laku. Sehingga secara wujudnya, substansi kebudayaan
itu telah mendarah daging dalam kepribadian anggotaanggotanya.
Uraian tentang pendidikan dan kebudayaan akan
diterangkan dalam urutan pembahasan dibawah ini.
1. Kepribadian dalam Proses Kebudayaan
Fungsi pendidikan dalam konteks kebudayaan dapat dilihat
dalam perkembangan kepribadian manusia. Tanpa kepribadian
manusia tidak ada kebudayaan, meskipun kebudayaan bukanlah
sekadar jumlah kepribadian-kepribadian. Para pakar antropologi,
menunjuk kepada peranan individu bukan hanya sebagai bidakbidak
di dalam papan catur kebudayaan. Individu adalah kreator
dan sekaligus manipulator kebudayaannya. Di dalam hal ini studi
kebudayaan mengemukakan pengertian “sebab-akibat sirkuler”
yang berarti bahwa antara kepribadian dan kebudayaan terdapat
suatu interaksi yang saling menguntungkan. Di dalam perkembangan
kepribadian diperlukan kebudayaan dan seterusnya kebudayaan
akan dapat berkembang melalui kepribadian–kepribadian
tersebut. Inilah yang disebut sebab-akibat sirkuler antara kepribadian
dan kebudayaan. Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa
pendidikan bukan semata-mata transmisi kebudayaan secara pasif
tetapi perlu mengembangkan kepribadian yang kreatif. Pranata
sosial yang disebut sekolah harus kondusif untuk dapat mengembangkan
kepribadian yang kreatif tersebut. Namun apa yang
terjadi di dalam lembaga pendidikan yang disebut sekolah kita
ialah sekolah telah menjadi sejenis penjara yang memasung
kreativitas peserta didik.
Kebudayaan sebenarnya adalah istilah sosiologis untuk
tingkah-laku yang bisa dipelajari. Dengan demikian tingkah laku
manusia bukanlah diturunkan seperti tingkah-laku binatang tetapi
yang harus dipelajari kembali berulang-ulang dari orang dewasa
dalam suatu generasi. Di sini kita lihat betapa pentingnya peranan
pendidikan dalam pembentukan kepribadian manusia.
Para pakar yang menaruh perhatian terhadap pendidikan
dalam kebudayaan mula-mulanya muncul dari kaum behavioris
dan psikoanalisis Para ahli psikologi behaviorisme melihat perilaku
manusia sebagai suatu reaksi dari rangsangan dari sekitarnya.
Di sinilah peran pendidikan di dalam pembentukan perilaku
manusia. Begitu pula psikolog aliran psikoanalis menganggap
perilaku manusia ditentukan oleh dorongan-dorongan yang sadar
maupun tidak sadar ini ditentukan antara lain oleh kebudayaan di
mana pribadi itu hidup. John Gillin dalam Tilaar (1999) menyatukan
pandangan behaviorisme dan psikoanalis mengenai perkembangan
kepribadian manusia sebagai berikut.
a. Kebudayaan memberikan kondisi yang disadari dan yang
tidak disadari untuk belajar.
b. Kebudayaan mendorong secara sadar ataupun tidak sadar
akan reaksi-reaksi perilaku tertentu. Jadi selain kebudayaan
meletakkan kondisi, yang terakhir ini kebudayaan merupakan
perangsang-perangsang untuk terbentuknya perilaku-perilaku
tertentu.
c. Kebudayaan mempunyai sistem “reward and punishment”
terhadap perilaku-perilaku tertentu. Setiap kebudayaan akan
mendorong suatu bentuk perilaku yang sesuai dengan sistem
nilai dalam kebudayaan tersebut dan sebaliknya memberikan
hukuman terhadap perilaku-perilaku yang bertentangan atau
63
mengusik ketentraman hidup suatu masyarakat budaya tertentu.
d. Kebudayaan cenderung mengulang bentuk-bentuk kelakuan
tertentu melalui proses belajar.
Apabila analisis Gillin di atas kita cermati, tampak betapa
peranan kebudayaan dalam pembentukan kepribadian manusia,
maka pengaruh antropologi terhadap konsep pembentukan kepribadian
juga akan tampak dengan jelas. Terutama bagi para pakar
aliran behaviorisme, melihat adanya suatu rangsangan kebudayaan
terhadap pengembangan kepribadian manusia. Pada
dasarnya pengaruh kebudayaan terhadap pembentukan kepribadian
tersebut sebagaimana dikutip Tilaar (1999) dapat dilukiskan
sebagai berikut.
a. Kepribadian adalah suatu proses. Seperti yang telah kita lihat
kebudayaan juga merupakan suatu proses. Hal ini berarti
antara pribadi dan kebudayaan terdapat suatu dinamika. Tentunya
dinamika tersebut bukanlah suatu dinamika yang otomatis
tetapi yang muncul dari aktor dan manipulator dari
interaksi tersebut ialah manusia.
b. Kepribadian mempunyai keterarahan dalam perkembangan
untuk mencapai suatu misi tertentu. Keterarahan perkembangan
tersebut tentunya tidak terjadi di dalam ruang kosong
tetapi dalam suatu masyarakat manusia yang berbudaya.
c. Dalam perkembangan kepribadian salah satu faktor penting
ialah imajinasi. Imajinasi seseorang akan dapat diperolehnya
secara langsung dari lingkungan kebudayaannya. Manusia
tanpa imajinasi tidak mungkin mengembangkan kepribadiannya.
Hal ini berarti apabila seseorang hidup terasing
seorang diri dari nol di dalam perkembangan kepribadiannya.
Bayangkan bagaimana kehidupan kebudayaan manusia
apabila setiap kali harus dimulai dari nol.
d. Kepribadian mengadopsi secara harmonis tujuan hidup dalam
masyarakat agar ia dapat hidup dan berkembang. Tentunya
manusia itu dapat saja menentang tujuan hidup yang ada di
dalam masyarakatnya, namun demikian itu berarti seseorang
akan melawan arus di dalam perkembangan hidupnya. Yang
paling efisien adalah dia secara harmonis mencari keseimbangan
antara tujuan hidupnya dengan tujuan hidup dalam
masyarakatnya.
e. Di dalam pencapaian tujuan oleh pribadi yang sedang
berkembang itu dapat dibedakan antara tujuan dalam waktu
yang dekat maupun tujuan dalam waktu yang panjang. Baik
waktu yang dekat maupun tujuan dalam jangka waktu yang
panjang, sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai hidup di dalam
suatu masyarakat.
f. Berkaitan dengan keberadaan tujuan di dalam pengembangan
kepribadian manusia, dapatlah disimpulkan bahwa proses
belajar adalah proses yang ditujukan untuk mencapai tujuan.
Learning is agoal teaching behavior.
g. Dalam psikoanalisis juga dikemukakan mengenai peranan
super-ego dalam perkembangan kepribadian. Super-ego tersebut
tidak lain adalah dunia masa depan yang ideal. Dan seperti
yang telah diuraikan, dunia masa depan yang ideal merupakan
kemampuan imajinasi yang dikondisikan serta diarahkan
oleh nilai-nilai budaya yang hidup di dalam suatu masyarakat.
h. Kepribadian juga ditentukan oleh bawah sadar manusia.
Bersama-sama dengan ego, beserta ide, keduanya merupakan
energi yang ada di dalam diri pribadi seseorang. Energi
tersebut perlu dicarikan keseimbangan dengan kondisi yang
ada serta dorongan super-ego diarahkan oleh nilai-nilai budaya.
Dengan kata lain di dalam pengembangan ide, ego, dan
super-ego dari kepribadian seseorang berarti mencari keseimbangan
antara energi di dalam diri pribadi dengan pola-pola
kebudayaan yang ada.
2. Penerusan Kebudayaan
Satu proses yang dikenal luas tentang kebudayaan adalah
transmisi kebudayaan. Proses tersebut menunjukkan bahwa kebudayaan
itu ditransmisikan dari satu generasi kepada generasi
berikutnya. Bahkan banyak ahli pendidikan yang merumuskan
proses pendidikan tidak lebih dari proses transmisi kebudayaan.
Mengenai masalah ini marilah kita cermati lebih jauh oleh karena
seperti yang telah dijelaskan, kepribadian bukanlah semata-mata
hasil tempaan dari kebudayaan. Manusia atau pribadi adalah
aktor dan sekaligus manipulator kebudayaannya. Dengan demikian,
kebudayaan bukanlah sesuatu entity yang statis tetapi
sesuatu yang terus-menerus berubah.
64
Untuk membuktikan hal tersebut marilah kita lihat variabelvariabel
transmisi kebudayaan yang dikemukakan oleh Fortes
dalam Koentjoroningrat (1991). Di dalam transmisi tersebut kita
lihat tiga unsur utama yaitu, (1) unsur-unsur yang ditransmisi, (2)
proses transmisi, dan (3) cara transmisi.
Unsur-unsur kebudayaan manakah yang ditransmisi? Pertama-
tama tentunya unsur-unsur tesebut ialah nilai-nilai budaya,
adat-istiadat masyarakat, pandangan mengenai hidup serta berbagai
konsep hidup lainnya yang ada di dalam masyarakat. Selanjutnya
berbagai kebiasaan sosial yang digunakan dalam interaksi
atau pergaulan para anggota di dalam masyarakat tersebut. Selain
itu, berbagai sikap serta peranan yang diperlukan di dalam dunia
pergaulan dan akhirnya berbagai tingkah-laku lainnya termasuk
proses fisiologi, refleks dan gerak atau reaksi-reaksi tertentu
dalam penyesuaian fisik termasuk gizi dan tata-makanan untuk
dapat bertahan hidup.
Proses transmisi meliputi proses-proses imitasi, identifikasi
dan sosialisasi. Imitasi adalah meniru tingkah laku dari sekitar.
Pertama-tama tentunya imitasi di dalam lingkungan keluarga dan
semakin lama semakin meluas terhadap masyarakat lokal. Yang
diimitasi adalah unsur-unsur yang telah dikemukakan di atas.
Transmisi unsur-unsur tidak dapat berjalan dengan sendirinya.
Seperti telah dikemukakan manusia adalah aktor dan manipulator
dalam kebudayaannya. Oleh sebab itu, unsur-unsur tersebut harus
diidentifikasi. Proses identifikasi itu berjalan sepanjang hayat
sesuai dengan tingkat kemampuan manusia itu sendiri. Seorang
bayi, seorang pemuda, seorang dewasa, mempunyai kemampuan
yang berbeda-beda dalam mengidentifikasi unsur-unsur budaya
tersebut. Selanjutnya nilai-nilai atau unsur-unsur budaya tersebut
haruslah disosialisasi artinya harus diwujudkan dalam kehidupan
yang nyata di dalam lingkungan yang semakin lama semakin
meluas. Nilai-nilai yang dimiliki oleh seseorang harus mendapatkan
pengakuan lingkungan sekitarnya. Artinya perilaku-perilaku
tersebut harus mendapatkan pengakuan sosial yang berarti
bahwa perilaku-perilaku yang dimiliki tersebut adalah yang
sesuai atau yang seimbang dengan nilai-nilai yang ada di dalam
lingkungannya.
Rangkaian transmisi berangkat dari imitasi, identifikasi, dan
sosialisasi, berkaitan dengan bagaimana cara mentransimisikannya.
Dalam hal ini ada dua bentuk peran-serta dan bimbingan.
Cara transmisi dengan peran-serta antara lain dengan melalui
perbandingan. Demikian pula peran-serta dapat berwujud ikutserta
di dalam kegiatan sehari-hari di dalam lingkungan masyarakat.
Bentuk bimbingan tesebut melalui pranata-pranata tradisional
seperti inisiasi, upacara-upacara yang berkaitan dengan
tingkat umur, sekolah agama, dan sekolah formal yang sekuler.
Demikianlah proses transmisi kebudayaan sebagai proses
pendidikan yang dikemukakan oleh Fortes. Proses tersebut terjadi
di dalam suatu masyarakat sederhana yang relatif tertutup dari
pengaruh dunia luar. Di dalam dunia terbuka dewasa ini dengan
kemajuan teknologi komunikasi, proses transmisi kebudayaan
yang sederhana tersebut tentunya telah berubah. Data dan informasi
dengan mudah dapat diperoleh sehingga peranan lingkungan
bukan lagi lingkungan sosial yang terbatas tetapi lingkungan
yang mondial. Dengan demikian proses transmisi kebudayaan
di dalam masyarakat modern akan menghadapi tantangan-
tantangan yang berat. Di sinilah letak peranan pendidikan
untuk mengembangkan kepribadian yang kreatif dan dapat
memilih nilai-nilai dari berbagai lingkungan. Dalam hal ini kita
berbicara mengenai keberadaan kebudayaan dunia yang meminta
suatu proses pendidikan yang lain yaitu kepribadian yang kokoh
yang tetap berakar kepada budaya lokal. Hanya dengan kesadaran
terhadap nilai-nilai budaya lokal akan dapat memberikan
sumbangan bagi terwujudnya nilai-nilai global.
3. Pendidikan dan Proses Pembudayaan
Seperti yang telah kita bicarakan mengenai transmisi kebudayaan,
nilai-nilai kebudayaan bukanlah hanya sekadar dipindahkan
dari satu bejana ke bejana berikut yaitu kepada generasi mudanya,
tetapi dalam proses interaksi antara pribadi dengan kebudayaan
betapa pribadi merupakan agen yang kreatif dan bukan pasif. Di
dalam proses pembudayaan terdapat pengertian seperti inovasi
dan penemuan, difusi kebudayaan, akulturasi, asimilasi, inovasi,
fokus, krisis, dan prediksi masa depan serta banyak lagi terminologi
lainnya. Beberapa proses tersebut dapat dijelaskan sebagai
berikut:
65
a. Penemuan atau Invensi
Dua konsep tersebut merupakan proses terpenting dalam
pertumbuhan dan kebudayaan. Hal itu mengingat tanpa penemuan-
penemuan yang baru dan tanpa invensi suatu budaya akan
mati. Biasanya pengertian kedua terminologi ini dibedakan. Suatu
penemuan berarti menemukan sesuatu yang sebelumnya belum
dikenal tetapi telah tersedia di alam sekitar atau di alam semesta
ini. Misalnya di dalam sejarah perkembangan umat manusia terjadi
penemuan-penemuan dunia baru sehingga pemukiman
manusia menjadi lebih luas dan berarti pula semakin luasnya
penyebaran kebudayaan. Selain itu, di dalam penemuan dunia
baru akan terjadi difusi atau proses lainnya mengenai pertemuan
kebudayaan-kebudayaan tersebut. Istilah invensi lebih terkenal di
dalam bidang ilmu pengetahuan.
Dengan invensi maka umat manusia dapat menemukan halhal
yang dapat mengubah kebudayaan. Dengan penemuan-penemuan
melalui ilmu pengetahuan maka lahirlah kebudayaan
industri yang telah menyebabkan suatu revolusi kebudayaan terutama
di negara-negara barat. Kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi yang begitu pesat telah membuka horizon baru di dalam
kehidupan umat manusia. Ilmu pengetahuan berkembang begitu
cepat secara eksponensial sehingga apa yang ditemukan hari ini
mungkin besok telah usang. Lihat saja misalnya revolusi komputer
yang dapat berkembang setiap saat dan bagaimana peranan
komputer di dalam kehidupan manusia modern. Kita hidup di
abad digital yang serba cepat dan serba terukur. Semua hal ini
merupakan suatu revolusi di dalam kehidupan dan kebudayaan
manusia. Melalui invensi manusia menemukan berbagai jenis
obat-obatan yang mempengaruhi kesehatan dan umur manusia.
Akan tetapi juga melalui kemajuan ilmu pengetahuan manusia
menemukan alat-alat pemusnah massal yang dapat menghancurkan
kebudayaan global.
Invensi teknologi terutama teknologi komunikasi mengubah
secara total kebudayaan dunia. Abad 21 disebut sebagai milenium
teknologi yang akan mempersatukan manusia dan mungkin pula
budayanya. Hal ini mengandung bahaya dengan masafikasi kebudayaan
manusia. Masafikasi kebudayaan dapat berupa komersialisasi
kebudayaan dan konsemuerisme yang berarti pendangkalan
kebudayaan. Selain itu, pendangkalan kebudayaan akan
berakibat dalam pembentukan kepribadian manusia. Seperti kita
lihat, manusia menjadi manusia melalui kebudayaannya. Memanusia
berarti membudaya,. Dapat kita bayangkan bagaimana
jadinya proses memanusia dalam kebudayaan global. Hal ini
berarti manusia akan kehilangan identitasnya dan kepribadiannya
akan berbentuk kepribadian kodian.
Dewasa ini kita mulai mengenal kebudayaan global yang
secara sinis disebut kebudayaan Coca-Cola dan kebudayaan
McDonald. Begitu besarnya pengaruh komunikasi global sehingga
muncul di dalam berbusana misalnya celana jins Levi Strauss serta
komoditi-komoditi lokal lainnya. Sangat mengkhawatirkan justru
kebudayaan global tersebut sangat peka diterima oleh generasi
muda. Hal ini berarti bahaya sedang mengancam nilai-nilai budaya
etnis yang merupakan dasar pengembangan kebudayaan global.
Di pihak lain teknologi komunikasi memungkinkan rekayasa
kehidupan manusia modern. Rekayasa tersebut dimungkinkan
oleh budaya dan kemampuan akal manusia yang terlihat dalam
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan demikian
kebudayaan teknologi telah merupakan suatu syarat mutlak
dalam pengembangan kebudayaan modern. Teknologi telah
menghasilkan penemuan-penemuan baru dan penemuan-penemuan
baru ini akan terus menerus berkembang. Bukan suatu hal
yang tidak mungkin bahwa wajah kehidupan teknologi yang tidak
atau belum dapat kita gambarkan dewasa ini. Apakah kehidupan
kebudayaan pada milenium ketiga merupakan kebudayaan robotik
ataukah kebudayaan yang akan lebih mementingkan harkat
dan budaya manusia tidak ada seorang pun yang akan dapat
memastikannya.
Sudah tentu penemuan-penemuan baru dan invensi-invensi
melalui ilmu pengetahuan akan semakin intens kerana interaksi
dengan bermacam-macam budaya akan bermacam-macam manusia
yang dimiliki oleh seluruh umat manusia. Dengan demikian,
penemuan-penemuan dan invensi baru tidak lagi merupakan
monopoli dari suatu bangsa atau suatu kebudayaan tetapi lebih
menjadi milik dunia. Kebudayan dunia yang akan muncul pada
milenium ketiga dengan demikian perlu diarahkan dengan nilainilai
moral yang telah terpelihara di dalam kebudayaan umat
manusia karena kalau tidak dapat saja manusia itu menuju kepada
66
kehancurannya sendiri dengan alat-alat pemusnah massal yang
diciptakannya.
b. Difusi
Difusi kebudayaan berarti pembauran dan atau penyebaran
budaya-budaya tertentu antara masyarakat yang lebih maju
kepada masyarakat yang lebih tradisional. Pada dasarnya setiap
masyarakat setiap jaman selalu mengalami difusi. Hanya saja
proses difusi pada jaman yang lalu lebih bersifat perlahan-lahan.
Namun hal itu berbeda dengan sekarang dimana abad komunikasi
mampu menyajikan beragam informasi yang serba cepat dan
intens, maka difusi kebudayaan akan berjalan dengan sangat
cepat.
Bagaimanapun juga didalam masyarakat sederhana sekalipun
proses difusi kebudayaan dari barat tetap menyebar. Hal itu dapat
dibuktikan melalui pengamatan Margaret Mead dalam Tilaar
(1999) yang meneliti masyarakat di kepulauan pasifik. Beberapa
waktu setelah pengamatan Mead terhadap masyarakat tersebut
telah terjadi perubahan masyarakat yang cukup berarti. Apa yang
ditemukan oleh Margaret Mead dari suatu masyarakat yang
tertutup dan statis ketika beliau kembali telah menemukan suatu
masyarakat yang terbuka yang telah mengadopsi usnur-unsur
budaya Barat. Lihat saja misalnya apa yang terjadi di negara kita,
bagaimana pengaruh Kebangkitan Nasional terhadap kehidupan
suku-suku bangsa kita. Sumpah Pemuda pada tahun 1928 telah
melahirkan bahasa Indonesia sebagai bahasa kesatuan dan/atau
bahasa nasional yang notabene berasal dari bahasa Melayu dari
puak Melayu yang hidup di pesisir Sumatera. Pengaruh bahasa
Indonesia terhadap kebudayaan di Nusantara sangat besar
sampai-sampai banyak anak-anak sekarang terutama di kota-kota
besar yang tidak lagi mengenal bahasa lokalnya atau bahasa ibu.
Kita memerlukan suatu kebijakan pendidikan untuk memelihara
bahasa ibu dari anak-anak kita.
c. Akulturasi
Salah satu bentuk difusi kebudayaan ialah akulturasi. Dalam
proses ini terjadi pembaruan budaya antarkelompok atau di
dalam kelompok yang besar. Dewasa ini misalnya unsur-unsur
budaya Jawa telah masuk di dalam budaya sistem pemerintahan
di daerah. Nama-nama petugas negara di daerah telah mengadopsi
nama-nama pemimpin di dalam kebudayaan Jawa seperti
bupati, camat, lurah, dan unsure-unsur tersebut telah disosialisasi
dan diterima oleh masyarakat luas. Begitu pula terjadi akulturasi
unsur-unsur budaya antarsub-etnis di Nusantara ini. Proses
akulturasi tersebut lebih dipercepat dengan adanya sistem pendidikan
yang tersentralisasi dan mempunyai kurikulum yang
uniform.
d. Asimilasi
Proses asimilasi dalam kebudayaan terjadi terutama antaretnis
dengan subbudaya masing-masing. Kita lihat misalnya unsur
etnis yang berada di Nusantara kita ini dengan subbudaya
masing-masing. Selama perjalanan hidup negara kita telah terjadi
asimilasi unsur-unsur budaya tersebut. Biasanya proses asimilasi
dikaitkan dengan adanya sejenis pembauran antar-etnis masih
sangat terbatas dan kadang-kadang dianggap tabu. Namun dewasa
ini proses asimilasi itu banyak sulit dihilangkan. Apalagi halhal
yang membatasi proses prejudis, perbedaan agama dan kepercayaan
dapat menghalangi suatu proses asimilasi yang cepat. Di
dalam kehidupan bernegara terdapat berbagai kebijakan yang
mempercepat proses tersebut, ada yang terjadi secara alamiah ada
pula yang tidak alamiah. Biasanya proses asimilasi kebudayaan
yang terjadi di dalam perkawinan akan lebih cepat dan lebih
alamiah sifatnya.
e. Inovasi
Inovasi mengandalkan adanya pribadi yang kreatif. Dalam
setiap kebudayaan terdapat pribadi-pribadi yang inovatif. Dalam
masyarakat yang sederhana yang relatif masih tertutup dari
pengaruh kebudayaan luar, inovasi berjalan dengan lambat.
Dalam masyarakat yang terbuka kemungkinan untuk inovasi
menjadi terbuka karena didorong oleh kondisi budaya yang
memungkinkan. Oleh sebab itu, di dalam masyarakat modern
pribadi yang inovatif merupakan syarat mutlak bagi perkembangan
kebudayaan. Inovasi merupakan dasar dari lahirnya suatu
masyarakat dan budaya modern di dalam dunia yang terbuka
dewasa ini.
67
Inovasi kebudayaan di dalam bidang teknologi dewasa ini
begitu cepat dan begitu tersebar luas sehingga merupakan motor
dari lahirnya suatu masyarakat dunia yang bersatu. Di dalam
kebudayaan modern pada abad teknologi dan informasi dalam
millennium ketiga, kemampuan untuk inovasi merupakan ciri
dari manusia yang dapat survive dan dapat bersaing. Persaingan
di dalam dunia modern telah merupakan suatu tuntutan oleh
karena kita tidak mengenal lagi batas-batas negara. Perdagangan
bebas, dunia yang terbuka tanpa-batas, teknologi komunikasi
yang menyatukan, kehidupan cyber yang menisbikan waktu dan
ruang, menuntut manusia-manusia inovatif. Dengan sendirinya
wajah kebudayaan dunia masa depan akan lain sifatnya.
Betapa besar peranan inovasi di dalam dunia modern,
menuntut peran dan fungsi pendidikan yang luar biasa untuk
melahirkan manusia-manusia yang inovatif. Dengan kata lain,
pendidikan yang tidak inovatif, yang mematikan kreativitas generasi
muda, berarti tidak memungkinkan suatu bangsa untuk bersaing
dan hidup di dalam masyarakat modern yang akan datang.
Dengan demikian, pendidikan akan menempati peranan sentral di
dalam lahirnya suatu kebudayaan dunia yang baru.
f. Fokus
Konsep ini menyatakan adanya kecenderungan di dalam
kebudayaan ke arah kompleksitas dan variasi dalam lembaga-lembaga
serta menekankan pada aspek-aspek tertentu. Artinya berbagai
kebudayaan memberikan penekanan kepada suatu aspek tertentu
misalnya kepada aspek teknologi, aspek kesenian seperti
dalam kebudayaan Bali, aspek perdagangan, dan sebagainya. Proses
pembudayaan yang memberikan fokus kepada teknologi
misalnya akan memberikan tempat kepada pengembangan teknologi
kesempatan yang seluas-luasnya untuk berkembang. Tidak
jarang terjadi dengan adanya fokus terhadap teknologi maka nilainilai
budaya yang lain tersingkirkan atau terabaikan. Hal ini tentu
merupakan suatu bahaya yang dapat mengancam kelanjutan
hidup suatu kebudayaan. Dalam dunia pendidikan hal ini sudah
terjadi seperti di Indonesia. Dunia barat yang telah lama memberikan
fokus kepada kemampuan akal, menekankan kepada
pembentukan intelektualisme di dalam sistem pendidikannya.
Dengan demikian aspek-aspek kebudayaan yang lain seperti nilainilai
moral, lembaga-lembaga budaya primer seperti keluarga,
cenderung mulai diabaikan. Ikatan dalam lembaga keluarga mulai
longgar, peraturan-peraturan seks mulai dilanggar dengan adanya
kebebasan seks dan kebebasan pergaulan. Sistem pendidikannya
dengan demikian telah terpisahkan atau teralienasi dari totalitas
kebudayaan.
Tentu saja kita dapat memberikan fokus tertentu kepada
pengembangan ilmu pengetahuan asal saja dengan fokus tersebut
tidak mengabaikan kepada terbentuknya manusia yang utuh
seperti yang telah diuraikan di muka. Kebudayaan yang hanya
memberikan fokus kepada teknologi akan menghasilkan menusiamanusia
robot yang tidak seimbang, yang bukan tidak mungkin
berbahaya bagi kelangsungan hidup kebudayaan tersebut.
Dalam proses pembudayaan melalui fokus itu kita lihat betapa
besar peranan pendidikan. Pendidikan dapat memainkan peranan
penting di dalam terjadinya proses perubahan yang sangat
mendasar tersebut tetapi juga yang dapat menghancurkan
kebudayaan itu sendiri.
g. Krisis
Konsep tersebut merupakan konsekuensi akibat proses akulturasi
kebudayaan. Suatu contoh yang jelas timbulnya krisis di
dalam proses westernisasi terhadap kehidupan budaya-budaya
Timur. Sejalan dengan maraknya kolonialisme ialah masuknya
unsur-unsur budaya Barat memasuki dunia ketiga. Terjadilah proses
akulturasi yang kadang-kadang menyebabkan hancurnya
kebudayaan lokal. Timbul krisis yang menjurus kepada hancurnya
sendi-sendi kehidupan orisinil. Lihat saja kepada krisis moral
yang terjadi pada generasi muda yang diakibatkan oleh masuknya
nilai-nilai budaya Barat yang belum serasi dengan kehidupan
budaya yang ada. Keluarga mengalami krisis, peranan orang tua
dan pemimpin mengalami krisis. Krisis kebudayaan tersebut akan
lebih cepat dan intens di dalam era komunikasi yang pesat.
Krisis dapat menyebabkan dis-organisasi sosial misalnya
dalam gerakan reformasi total kehidupan. Bangsa Indonesia
dewasa ini di dalam memasuki era reformasi menghadapi suatu
era yang kritis karena masyarakat mengalami krisis kebudayaan.
Apabila gerakan reformasi tidak diarahkan sebagai suatu gerakan
moral maka gerakan tersebut akan kehilangan arah. Gerakan
68
reformasi akan menyebabkan krisis sosial, krisis ekonomi dan
berbagai jenis krisis lainnya. Oleh sebab itu, gerakan reformasi
total dewasa ini perlu diarahkan dan dibimbing oleh nilai-nilai
moral yang hidup di dalam kebudayaan bangsa Indonesia. Dalam
kaitan ini peranan pendidikan sangat menentukan karena pendidikan
didasarkan kepada nilai-nilai moral bangsa dalam jangka
panjang akan memantapkan arah jalannya reformasi tersebut.
Dalam jangka panjang pendidikan akan menentukan pencapaian
tujuan dari reformasi itu sendiri.
h. Visi Masa Depan
Suatu hal yang baru dalam proses pembudayaan dewasa ini
ialah peranan visi masa depan. Terutama dalam dunia global
tanpa-batas dewasa ini diperlukan suatu visi ke arah mana masyarakat
dan bangsa kita akan menuju. Tanpa visi yang jelas yaitu visi
yang berdasarkan nilai-nilai yang hidup di dalam kebudayaan
bangsa (Indonesia), akan sulit untuk menentukan arah perkembangan
masyarakat dan bangsa kita ke masa depan, atau pilihan
lain ialah tinggal mengadopsi saja apa yang disebut budaya global.
Mengadopsi budaya global tanpa dasar kehilangan identitasnya.
Di sinilah letak peranan pendidikan nasional untuk meletakkan
dasar-dasar yang kuat dari nilai-nilai budaya yang hidup
di dalam masyarakat Indonesia yang akan dijadikan pondasi
untuk membentuk budaya masa depan yang lebih jelas dan
terarah.
D. Sekilas tentang Perubahan Sosial
Masyarakat manusia di manapun tempatnya pasti mendambakan
kemajuan dan peningkatan kesejahteraan yang optimal.
Kondisi masyarakat secara obyektif merupakan hasil tali temali
antara lingkungan alam, lingkungan sosial serta karakteristik
individu. Ketiga-tiganya selalu berhubungan antara satu sama lain
sehingga membentuk sebuah bangunan masyarakat yang dapat
dilihat sebagai sebuah realitas sosial. Perjalanan panjang dalam
rentangan periode kesejarahan telah mengajak masyarakat manusia
menelusuri hakikat kehidupan dan tata cara kehidupan yang
berkembang pesat. Kemampuan akal budi sebagai instrumen
unggulan manusia telah melahirkan beraneka ragam karya cipta
melesat melampaui aspek-aspek material dilingkungan luarnya.
Dengan demikian, senjata pamungkas tersebut rupanya berperan
besar menafsirkan realitas sosial yang selama ini dipandang sebagai
kenyataan alamiah yang steril dari kemungkinan intervensi
kekuatan manusia.
Kiranya semenjak diakuinya kemampuan akal mengungkap
kekuatan alam, secara perlahan-lahan kalangan pemikir mulai
melirik masyarakat sebagai obyek yang mampu dipahami gejalagejalanya
lalu dikendalikan dan disusun rekayasa sosial berdasarkan
pemahaman menyeluruh tentang kondisi obyektif msayarakat
tersebut.
Lahirnya ilmu-ilmu sosial khususnya sosiologi manandai
bahwa masyarakat sebagai kenyataan kini dipahami seperti
sebuah benda yang bisa “diutak-atik”. Begitu pula tentang perubahan
sosial, terlepas dari berbagai definisi perubahan sosial,
pada hakikatnya telah mampu mengungkap hukum-hukum dan
antisipasi proses-proses sehingga mampu memberikan kontribusi
terhadap peradaban manusia.
Apabila perubahan sosial dipahami sebagai suatu bentuk
peradaban manusia akibat adanya ekskalasi perubahan alam,
biologis maupun kondisi fisik maka pada dasarnya perubahan
sosial merupakan sebuah keniscayaan yang terjadi sepanjang
hidup. Ruang gerak perubahan itupun juga berlapis-lapis, dimulai
dari kelompok terkecil seperti keluarga sampai pada kejadian
yang paling lengkap mencakup tarikan kekuatan kelembagaan
dalam masyarakat.
Perubahan sosial sebagai “cetak biru” pemikiran, pada akhirnya
akan memiliki manfaat untuk memahami kehidupan manusia
dalam kaitan dengan lingkungan kebudayaannya. Kehidupan
manusia adalah satuan sosial terkecil, dalam pola belajarnya akan
berhadapan dengan tiga sistem aktivitas. Menurut Peter Senge,
2000 (dalam Salim, 2002) bahwa manusia akan menjumpai (1)
ruang kelas dalam sekolah: manusia akan belajar dalam lingkungan
kelas sehingga melibatkan unsur guru, orang tua dan murid.
(2) Lingkungan sekolah: manusia akan belajar dalam lingkungan
sekolah sehingga melibatkan unsur kepala sekolah, kelompok
pengajar, murid di kelas lain dan pegawai administrasi. (3) lingkungan
komunitas masyarakat: manusia akan belajar dari lingkungan
komunitasnya sehingga mencakup peran serta masyarakat,
kelompok-kelompok belajar sepanjang hidup, birokrasi
69
yang mendukung, sumber informasi yang luas dan beragam dll.
Dengan begitu kehidupan manusia tidak dapat dilepas dari peran
ketiga lingkungan sistem aktivitas belajar dan mencermati dirinya,
terbentuknya kesadaran, pengalaman yang menggelitas dan keberanian
untuk mulai menapak menggunakan potensi yang dimilikinya.
Analogi dengan pemikiran itu, apa yang dapat dinyatakan
dengan lengkap, perubahan sosial adalah suatu proses yang luas,
lengkap yang mencakup suatu tatanan kehidupan manusia. Perubahan
sosial tidak hanya dilihat sebagai serpihan atau kepingan
dari peristiwa sekelompok manusia tetapi fenomena itu menjadi
saksi adanya suatu proses perubahan empiris dari kehidupan
umat manusia.
Oleh karena itu daya serap perubahan sosial akan selalu
merembes ke segala segi kehidupan yang dihuni oleh manusia,
khususnya dalam sektor pendidikan. Perubahan sosial akan mempengaruhi
segala aktivitas maupun orientasi pendidikan yang
berlangsung. Intervensi kekuatan proses tersebut juga mencakup
semua proses pendidikan yang terjadi di berbagai sektor lain
masyarakat. Baik dari tingkat basis keluarga sampai interaksi
antar pranata sosial. Sebagai bagian dari pranata sosial, tentunya
pendidikan akan ikut terjaring dalam hukum-hukum perubahan
sosial yang terjadi di dalam masyarakat.
Sebaliknya, pendidikan sebagai wadah pengembangan kualitas
manusia dan segala pengetahuan tentunya menjadi agen penting
yang ikut menentukan perubahan sosial masyarakat ke
depan. Karena perubahan sosial mengacu pada kualitas masyarakat
sementara kualitas masyarakat tergantung pada kualitas
pribadi-pribadi anggotanya maka tentunya lembaga pendidikan
memainkan peranan yang cukup signifikan menentukan sebuah
perubahan sosial yang mengarah kemajuan.
Mengingat begitu eratnya keterkaitan perubahan sosial
dengan pendidikan maka pembahasan perubahan sosial menempati
ruang tersendiri dalam analisa sosiologi pendidikan. Sebagai
bagian dari gejala sosial maka upaya untuk mengupas perubahan
sosial akan tetap merujuk pada ilmu induk yang menaunginya
yakni sosiologi.
1. Teori Perubahan Sosial
Berbicara mengenai perubahan sosial tidak lepas dari konteks
filsafat barat, yaitu suatu pandangan terhadap kemajuan manusia
dalam masyarakat yang ditimbulkan oleh kemajuan masyarakatnya.
Ilmu pengetahuan yang berasal dari barat ditopang oleh dua
kelompok pemikiran utama yaitu filsafat yunani dan perilaku
kehidupan ke-kristenan yang sifatnya progresif dan perfeksionistis.
Dalam filsafat yunani intinya memiliki beberapa pemikiran
yang sifatnya konsisten menghubungkan perilaku manusia dalam
kehidupan sehari-hari. Dimana masyarakat yunani mengutamakan
prinsip empiris yang menghubungkan perilaku manusia
dalam alam lingkungannya. Lingkungan alam sebagai obyek terdekat
manusia menjadi pusat rujukan kesadaran memahami
dunia. Dengan melihat hukum pertumbuhan dalam makhluk
hidup maupun gejala-gejala luar, manusia Yunani mengadopsi
proses-proses alamiah tersebut diterjemahkan dalam kehidupannya.
Pertumbuhan memerlukan arah yang berujung pada kematangan
atau kesempurnaan. Dari sini manusia mengenal tentang
konsep hasil sebagai buah dari aktivitas usaha yang bertujuan.
Selama itu pula, manusia yunani mulai mengenal konsep waktu
dengan merasakan bagaimana daun itu tumbuh yang memerlukan
sinar matahari. Pada akhirnya dipahami hasil dari pengamatan
bahwa kehidupan biologi memiliki pola pertumbuhan yang
sifatnya umum. Proses yang berlangsung selama pertumbuhan itu
berlangsung juga berangkat dari tahapan-tahapan tertentu yang
bisa dijadikan sebagai hukum perkembangan. Bagitulah kiranya
uraian singkat mengenai empirisme orang Yunani yang berhasil
menarik paradigma masyarakat barat menjadi kiblat pemikiran
utama.
Pada konsep hidup kristiani, dinyatakan bahwa manusia
sebagai individu tumbuh melalui arah serta pola tertentu. Pertumbuhan
manusia sebagai individu mengarah pada kesempurnaan.
Gagasan berubah secara gradual melalui tahap-tahap tertentu.
Kedua sumber tersebut nampaknya memiliki kesamaan memicu
pemikiran rasionalisitik yang menghinggapi masyarakat eropa
barat.
70
Keyakinan utama yang selama ini diterima dikalangan
masyarakat menyatakan bahwa perubahan dalam masyarakat
terjadi dari masyarakat transisi menjadi masyarakat “maju” yaitu
masyarakat industrial-modern.
Selama ini pengkajian teori-teori sosial klasik ada tiga tokoh
utama yang membuat teori dasar tentang perubahan masyarakat,
mereka adalah Karl Marx, Emile Dhurkiem dan Max Weber.
Kelompok teoritikus lain yang sejaman maupun penerus mereka
akan menjadi bagian dari tiga kekuatan gerbong pemikiran besar
dari ketiga tokoh pemikir tersebut.
a. Teori Perubahan Sosial:Menurut Teori Klasik
Teori sosiologi klasik muncul dari tiga tokoh (Karl Marx, Max
Weber, dan Emile Durkhiem). Tokoh-tokoh tersebut secara khusus
menjadi peletak dasar dari konstruksi teori yang nantinya menjadi
induk perkembangan teori-teori sosiologi. Dalam memahami
perubahan sosial ketiga tokoh ini berusaha memahami fenomena
perubahan secara radikal terutama untuk masyarakat barat yang
sedang beralih dari struktur agraris ke struktur industri.
Meskipun pemikiran ketiga tokoh pendiri sosiologi tersebut
menunjukkan kiblat eropa baratnya, namun kalangan akademisi
di Indonesia tetap menampilkan ketiga tokoh tersebut dalam
membicarakan beragam fenomena sosial.
Ketiga tokoh itu merupakan peletak dasar ilmu sosiologi,
yang muncul di eropa pada awal abad ke 19. Pemikiran mereka
membawa khasanah berpikir ilmu-ilmu sosial, khususnya sosiologi
memasuki babakan baru sejarah manusia yang bernama
‘modernisasi’. Ketiga tokoh ilmu sosial itu melahirkan pemikiran
hampir secara bersama-sama, ketika terjadi proses industrialisasi
pertama di Inggris, yaitu ketika mesin-mesin industri mulai
dimanfaatkan untuk menggantikan keberadaan tenaga manusia.
Dalam kaitan dengan proses industrialisasi juga mulai dirasakan
perubahan pada pola hubungan antar individu manusia.
Proses perubahan sosial yang meluas juga mulai dirasakan sampai
pada sendi-sendi kehidupan agraris masyarakat negara berkembang.
Negara-negara tersebut juga merasakan seperti yang pernah
dialami oleh kalangan negara maju seabad yang silam, dengan
demikian pernik-pernik pemikiran ketiga tokoh ilmu sosial itu
masih memiliki kekuatan generalisasi terhadap kehidupan masyarakat
di negara berkembang.
1) Karl Marx (1818-1883)
Uraian tentang Marx ini sebagian besar disarikan dari buku
Kapitalisme dan Teori Sosial Modern yang ditulis oleh Anthony
Giddens (1985). Pada dasarnya sumber pemikiran dari filsafat
Marx banyak terinspirasi dari Hegel dan Imanuel Kant. Dari Kant,
Marx berhutang mengenai prinsip bahwa hakikatnya manusia
berangkat dari kesempurnaan tetapi di dalam dunia dia masuk
pada alam yang serba terbatas, kotor dan tidak suci. Disini untuk
mewujudkan kembali kebenaran dan kesucian manusia menjadi
tugasnya untuk memperjuangkan nilai-nilai hakiki manusia
dalam tatanan kehidupan.
Sementara dari Hegel, Marx berhutang mengenai falsafah
dialektika. Bahwa hukum kebenaran selalu berangkat dari proses
dialektis (saling bertentangan untuk menyempurnakan). Sebuah
tesis pernyataan kebenaran akan dipertentangkan kelemahannya
dengan antitesis. Proses pertentangan antara tesis dan antitesis
pada akhirnya akan menghasilkan kebenaran baru yang lebih
relevan sebagai perpaduan kedua kebenaran terdahulu.
Sampai beberapa waktu berikutnya Marx masih mengacu
pada pemikiran Hegel yang selalu mengasumsikan tentang dua
hal yang kontradiktif kemudian dapat ditemukan sintesisnya
sehingga berwujud dialektika. Pemikiran tentang dialektika ini
bernada evolusionis (menuju kesempurnaan), demikian pula kehidupan
dengan sendirinya selalu dibayangkan bergerak mencapai
kesempurnaan.
Tetapi dalam perkembangannya Marx berubah, menurutnya
Emanuel Kant dan Hegel adalah orang yang idealis, terlalu menerawang,
apa yang mereka pikirkan justeru tidak nyata. Ide yang
ditawarkan adalah pikiran itu sendiri, sehingga gagal untuk
bersenyawa dengan kenyataan-kenyataan empiris.
a) Tentang Materialisme
Bagi Marx kontradiksi harus pula terjadi di tingkat sejarah
yang bertolak dari materi (bukan dari pemikiran). Konsep Marx
yang kemudian dikenal sebagai Materialisme Historis, mengung71
kap bahwa perilaku manusia ditentukan oleh kedudukan
materinya bukan pada idea karena ide juga bagian dari materi
pula.
b) Tentang Sistem Ekonomi
Dalam konsep Marx sistem ekonomi memiliki 4 unsur. Sebagaimana
dikutip Salim (2002) sistem tersebut meliputi: (1) sistem
produksi, (2) sistem distribusi, (3) sistem perdagangan dan (4) sistem
konsumsi.
(1) Sistem produksi, berarti menyangkut seluruh proses produksi
barang-barang konsumsi. Di dalam sistem ini meliputi proses
pembuatan bahan sampai menjadi barang baru, lalu
dilanjutkan reproduksi barang-barang tersebut sehingga bisa
menghasilkan keuntungan.
(2) Sistem distribusi. Usaha untuk meneruskan dari tempat
produksi menuju ke wilayah konsumen.
(3) Sistem perdagangan. Merupakan proses pertukaran barang
yang telah diproduksi.
(4) Sistem konsumsi. Semua unsur yang ikut terlibat dalam
konsumsi suatu barang hasil produksi.
Semua unsur-unsur diatas tercakup dalam suatu hubungan
sosial berwujud relasi sosial dari mode produksi.
Mengingat Marx berpijak pada masyarakat industri maka
konsep sistem ekonominya terfokus membahas hubungan kerja
antara pemilik modal dan buruh. Intinya melalui relasi sosial dari
mode produksi industri ternyata lebih banyak menguntungkan
para pemilik modal sendiri. Buruh selain harus bekerja keras
dengan upah yang minim juga menggadaikan semua potensi
kemanusiaan termasuk jaminan untuk tetap hidup. Dalam hal ini
perlu ada upaya untuk menuntut keadilan sosial agar penindasan
para pemilik modal tidak berlarut-larut. Hal itu bisa dilakukan
dengan mengubah mode produksi yang tadinya memihak kelas
kapitalis menjadi mode produksi yang berbasis dari kaum
tertindas (para pekerja).
c) Tentang Surplus Value
Konsep ini lebih mengupas tentang keuntungan berlebih
yang seharusnya menjadi hak para buruh. Namun karena
kekuasaan alat-alat produksi maka hak itu diambil alih secara
sepihak oleh pemilik modal. Sebagaimana diungkap oleh Salim
(2002), ada dua keuntungan yang diperoleh pengusaha yaitu:
(1) Keuntungan utama, yang diperoleh melalui sisa waktu lebih
dari kerja buruh. Namun dalam prosesnya buruh tidak pernah
menerimanya sehingga tidak merasa dirugikan. Sehingga
keuntungan itu diraup oleh pengusaha dan secara sepihak
dianggap sebagai haknya yang sah.
(2) Keuntungan sekunder, yakni ukuran harga jual barang hasil
produksi dengan mengacu pada biaya produksi, tanpa
memperhitungkan harga tenaga yang dikeluarkan oleh buruh.
Dalam kondisi tersebut sebenarnya telah terjadi penghisapan
secara terselubung, yang dari masa ke masa senantiasa
menyulitkan posisi buruh dalam menuntut haknya.
d) Dinamika Perubahan Sosial Menurut Marx
Acuan konsep materialisme historis telah menegaskan bahwa
sejarah perubahan dan perkembangan manusia selalu berlandaskan
pada kondisi sejarah kehidupan material manusia. Dalam hal
ini mode produksi, sebagai basis ekonomi dan infrastruktur
masyarakat sangat mempengaruhi proses hubungan-hubungan
sosial yang terjadi.
Uraian refleksi sejarah masyarakat menurut Marx berangkat
dari masyarakat primitif tanpa kelas. Lalu disusul masyarakat
feodalis, dimana kapitalisme dalam tahap awal sudah mulai
nampak. Kemudian masyarakat akan beranjak menuju masyarakat
industrialis kapitalis, dimana sumber daya kekuatan ekonomi
telah dikuasai oleh para pemilik modal dan melangsungkan
serangkaian proses penghisapan yang merugikan kalangan
pekerja. Pada akhirnya, asumsi Marx menyatakan bahwa kapitalisme
akan menemui kehancurannya sendiri, dan segera
masyarakat pekerja mampu mengambil alih perangkat-perangkat
produksi. Dalam tahap selanjutnya seluruh sumber daya yang ada
menjadi milik bersama dan masyarakat telah berkembang menjadi
masyarakat komunis. Dalam masyarakat tersebut penggambaran
Marx menekankan bahwa pola pikir masyarakat sangat rasional
dimana dalam struktur kehidupan sudah bertahtakan ilmu
pengetahuan dan teknologi tinggi. Sumber daya material itu tidak
72
merugikan pihak-pihak tertentu karena struktur sosial sudah
menghapus kelas sebagai sarang diskriminasi dan ketidakadilan.
Dari paparan diatas, maka secara garis besar dapat ditangkap
beberapa formulasi penting menurut Marx mengenai dinamika
perubahan sosial :
(1) Perubahan sosial berpusat pada kemajuan cara atau teknik
produksi material sebagai sumber perubahan sosial-budaya.
Pengertian tersebut meliputi pula perkembangan teknologi
dan penemuan sumber daya baru yang berguna dalam
aktivitas produksi. Bagi Marx, teknologi tinggi tidak dapat
menghadirkan kesejahteraan sebelum semuanya dikuasai
langsung oleh kaum pekerja. Justeru teknologi menjadi petaka
apabila masih bernaung dibawah kekuatan para pemilik
modal.
(2) Dalam perubahan sosial selain kondisi material dan cara
berproduksi, maka yang patut diperhatikan adalah hubungan
sosial beserta norma-norma kepemilikan yang tersusun berkat
keberadaan sumberdaya di tangan pemilik modal. Harapan
yang diinginkan bahwa tahap kehidupan komunal menjanjikan
masyarakat manusiawi. Dimana motif dan ambisi individual
berganti menjadi solidaritas bersama yang menempatkan
pemerataan sebagai landasan berkehidupan.
(3) Asumsi dasar dari hukum sosial yang bisa ditangkap bahwa
manusia menciptakan sejarah materialnya sendiri, selama ini
mereka berjuang menghadapi lingkungan materialnya dan
terlibat dalam hubungan-hubungan sosial yang terbatas dalam
proses pembentukannya. Kemampuan manusia untuk
membentuk sejarah dibatasi oleh keadaan lingkungan material
dan sosial yang telah ada.
Dari ketiga formulasi tersebut bagi Marx, perubahan sosial
hanya mungkin terjadi karena konflik kepentingan materiil. Konflik
sosial dan perubahan sosial menjadi satu pengertian yang
setara, karena perubahan sosial berasal dari adanya konflik kepentingan
material tersebut akan melahirkan perubahan sosial.
2) MaxWeber (1864-1920)
Paparan yang terurai dari penjelasan tentangWeber di bawah
ini sebagian besar diambil dari buku Teori Sosiologi Klasik dan
Modern karangan Doyle Paul Johnson (1986).
Suatu sumbangsih pemikiran yang paling dikenal oleh publik
berkaitan dengan Weber dalam sosiologi adalah telaah Weber
yang cukup detail membahas kiprah akal budi (rasio) yang
dominan dalam masyarakat barat. Dalam masyarakat barat model
rasionalisme akan mewarnai semua aspek kehidupannya. Orang
barat tampaknya hidup operational-teknis sehingga perilakunya
bisa diperbaiki secara terus menerus. Menurut Weber, bentuk
“rationale” meliputi “mean” (alat) yang menjadi sasaran utama
dan “ends” yang meliputi aspek kultural, sehingga dapat dinyatakan
bahwa pada dasarnya orang barat hidup dengan pola
pikiran rasional yang ada pada perangkat alat yang dimiliki dan
kebudayaan yang mendukung kehidupannya. Orang rasional
akan memilih mana yang paling benar untuk mencapai tujuannya.
a) Tentang Rasionalitas
Dalam pemikiran Weber rasionalitas meliputi empat macam
model yang hadir di kalangan masyarakat. Rasionalitas ini dapat
berdiri sendiri namun juga bisa integral secara bersama menjadi
acuan perilaku masyarakat. Sebagaimana dituangkan oleh Doyle
Paul Johnson (1986), rasionalitas menurut Weber meliputi:
(1) Rasionalitas tradisional: jenis nalar yang mengutamakan acuan
perilaku berdasarkan dari tradisi kehidupan masyarakat.
Disetiap masyarakat seringkali diketemukan aplikasi nilai
yang merujuk dari nilai-nilai tradisi kehidupan. Hal ini berdampak
pada kokohnya norma hidup yang diyakini bersama.
Contohnya: Upacara perkawinan yang menjadi tradisi hampir
semua kelompok etnis di Indonesia.
(2) Rasionalitas berorientasi nilai: suatu kondisi kesadaran yang
menghinggapi masyarakat dimana nilai menjadi pedoman
perilaku meski tidak aktual dalam kehidupan sehari-hari. Jenis
rasio ini biasanya banyak dipengaruhi oleh peresapan nilai
keagamaan dan budaya yang benar-benar mendalam. Sebagai
contoh: orang bekerja keras-membanting tulang di kota besar,
kemudian setahun sekali tabungan uang habis untuk mudik
kedaerah asal.
(3) Rasionalitas Afektif: jenis rasio yang bermuara dalam hubungan
emosi yang mendalam, dimana ada relasi hubungan khusus
yang tidak bisa diterangkan diluar lingkaran tersebut. Contohnya:
hubungan suami-istri, ibu-anak dan lain sebagainya.
73
(4) Rasionalitas Instrumental. Bentuk rasional menurut Weber
yang paling tinggi dengan unsur pertimbangan pilihan
rasional sehubungan dengan tujuan dan alat yang dipilihnya.
Disetiap komunitas masyarakat, kelompok masyarakat, etnik
tertentu, ada banyak unsur rasionalitas yang dimiliki dari
banyak segi rasionalitas tersebut hanya ada satu unsur
rasionalitas yang paling populer, yang banyak diikuti oleh
masyarakatnya. Sebagai contoh: rasionalitas ekonomi sering
menjadi pilihan utama di banyak masyarakat. Sepanjang
sejarah kehidupan rasionalitas ini bisa menggerakkan banyak
perubahan sosial-mengubah perilaku kehidupan orang-perorang
secara kontekstual.
b) Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme
Dua bentuk semangat ini merupakan hasil telaahan Weber
mengamati bentuk kemajuan awal kapitalisme di eropa barat yang
mendapat dorongan dari ajaran protestan secara bersamaan.
Masyarakat barat yang dikenal mengunggulkan rasionalitas
instrumental (yakni rasionalisme yang paling tepat-guna/efisien
serta efektif demi mencapai tujuan) hadir bersama-sama dengan
etika protestan.
Weber menekankan bahwa karakteristik ajaran protestan
yang mendukung masyarakat yakni, melihat kerja sebagai
panggilan hidup. Bekerja tidak sekedar memenuhi keperluan,
tetapi tugas yang suci. Bekerja adalah juga pensucian sebagai
kegiatan agama yang menjamin kepastian akan keselamatan,
orang yang tidak bekerja adalah mengingkari sikap hidup agama
dan melarikan diri dari agama. Dalam kerangka pemikiran
teologis seperti ini, maka ‘semangat kapitalisme’ yang bersandar
pada cita-cita ketekunan, hemat, berpenghitungan, rasional dan
sanggup menahan diri menemukan pasangannya.
Dengan demikian terjalinlah hubungan antara etika protestan
dengan semangat kapitalisme, hal ini dimungkinkan oleh proses
rasionalisasi dunia, penghapusan usaha magis, yaitu suatu manipulasi
kekuatan supernatural, sebagai alat untuk mendapatkan
keselamatan.
Perkembangan rasionalisme masyarakat sesuai dengan konsepsi
Weber bergerak dari jenis-jenis rasional sesuai tahap-tahap
tertentu. Pada awalnya, model rasionalitas bermula dari masyarakat
agraris lalu menuju masyarakat industri.
c) Tentang Birokrasi
Birokrasi merupakan agen perubahan sosial. Menurut Weber,
birokrasi meliputi birokrasi pemerintah maupun birokrasi yang
dikelola oleh kaum swasta. Semua produk asumsi mengenai
birokrasi acuan Weber, yakni birokrasi merupakan produk berpikir
barat yang dibangun azas kemodernan sehingga sesuatu
yang barat adalah rasional. Konsepsi birokrasi adalah sistem kerja
yang memberi wewenang untuk menjalankan kekuasaan. Birokrasi
berasal dari dua konsep kata (bureau + cracy). Beareau adalah
kantor yang menjadi alat dari manusia dalam hal ini adalah
seperangkat peran yang menghasilkan basis kekuasaan dengan
berlandaskan pada aturan-aturan yang baku. Cracy adalah
kekuatan yang kemudian menghasilkan kewibawaan. Birokrasi
bagi Weber merupakan hasil dari tradisi rasional masyarakat barat
yang dicerminkan ke dalam aplikasi lembaga kerja manusia yang
mengurusi segala keperluan teknis untuk memudahkan pelayanan
kepada publik atau konsumen.
3) Emile Durkhiem (1858-1912)
Penjelasan konsepsi pemikiran Emile Durkhiem berikut ini
diangkat dari dua sumber sebelumnya, yakni Doyle Paul Johnson
(1986) dalam judul Teori Sosiologi Klasik dan Modern dan
Anthony Giddens (1985) berjudul Kapitalisme dan Teori Sosial
Modern.
Dari ketiga tokoh pendiri sosiologi maka sesungguhnya
Durkhiem-lah yang merintis konsepsi tentang keteraturan sosial.
Hal tersebut berangkat dari kekhawatiran Durkhiem melihat
ketidakpastian dan kekacauan masyarakat barat pasca revolusi.
Akibat revolusi industri yang berlangsung di Inggris dan daratan
Eropa, mengakibatkan perubahan sosial yang sangat cepat dan
meminta banyak korban. Emile Durkhiem merisaukan keadaan itu
terutama yang terjadi di Perancis. Perubahan yang terlalu cepat
dan radikal membawakan akibat dalam sekup sosial kecil maupun
ancaman tatanan sosial makro. Untuk mengatasi dampak perubahan
yang sangat cepat itu ia menawarkan kajian sosiologi peru74
bahan sosial yang merupakan hasil rekayasa dan perubahan sosial
yang stabil dengan tetap berafiliasi kepada status quo.
a) Pendekatan Sistem
Pembahasan ini sebenarnya berfungsi untuk mengantisipasi
agar ketidakpastian masyarakat tidak semakin parah. Masyarakat
diibaratkan seperti organisme hidup, yang dapat dianalisa dengan
penjelasan sebuah struktur yang saling berfungsi. Dalam hal ini
organisme hidup maksudnya makhluk hidup seperti juga
manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan memiliki organisme yang
hidup dalam satu tatanan sistem, masing-masing organ akan
memiliki fungsi sendiri-sendiri dan tidak dapat dipisahkan satu
sama lain. Jika satu organ tidak berfungsi maka akan membuat
organ lain macet atau terganggu. Oleh karena itu asumsi-asumsi
yang dibangun dalam pendekatan sistem adalah:
(1) Suatu keseluruhan yang terdiri dari bagian-bagiannya secara
totalitas yang menggambarkan suatu sistem yang utuh.
(2) Masing-masing bagian memiliki fungsi yang saling mengisi
untuk mendukung eksistensi sistem.
(3) Terdapat sebuah hubungan antara subsistem secara terpadu
dan kokoh. 4). Kekokohan hubungan antar unsur memberikan
tingkat ketergantungan yang sangat tinggi antar elemen.
Melihat penekananya pada hubungan yang saling mengisi
dalam keterpaduan sistemik, maka pendekatan sistem menganggap
bahwa perubahan sosial merupakan kondisi abnormal, karena
disinyalir proses-perubahan merupakan cerminan dari goyahnya
keseimbangan unsur di dalam sistem sosial, oleh karena itu unsurunsur
di dalam sistem tersebut perlu mengupayakan kondisi
seperti sedia kala agar aktivitas unsur-unsur lain tidak terganggu.
Sehingga di dalam pendekatan sistem menekankan hal-hal:
(1) Equilibrium atau keseimbangan. Yaitu suatu keadaan dimana
diutamakan terjadinya keseimbangan kekuatan sehingga tidak
terjadi perubahan sosial yang mengarah pada penghancuran
sistem yang ada.
(2) Faktor eksternal, yakni faktor-faktor di luar sistem yang diproyeksikan
selalu menjadi penyebab utama proses perubahan
sosial.
(3) Konsensus, yaitu proses pencapaian kesepakatan sosial dari
orang-orang atau lembaga yang terlibat dalam konflik sosial.
b) Teori Perubahan Sosial
Durkhiem adalah penganut teori perubahan sosial bertahap,
mengenal dua tahap perkembangan masyarakat yang disebut
dengan evolusionistic unilinear. Menurut Durkhiem, dengan
perspektif struktural fungsional, menyatakan bahwa struktur yang
pertama kali berubah adalah struktur penduduk. Perubahan ini
akan menyeret perubahan lain. Pada awalnya memang selalu
bertolak dari kondisi yang seimbang. Tetapi proses waktu yang
berkembang menjadikan populasi jumlah penduduk meningkat
pesat. Terjadi perubahan penduduk, yaitu tingkat kepadatan
penduduk, menjadikan kondisi yang tidak seimbang.
Konsep Emile Durkhiem mengenai perubahan sosial bertolak
dari konsepsi pembagian kerja, yang menyatakan bahwa proses
pembagian kerja berkembang karena lebih banyak individu dapat
berinteraksi satu sama lain. Hubungan aktif berasal dari “kepadatan
dinamis atau moral” masyarakat, menjadi dua sifat utama.
Pertama kepadatan yang bersifat demografis, yakni bersumber
pada konsentrasi penduduk, terutama beriringan dengan perkembangan
kota. Kedua kepadatan yang bersifat teknis akibat meningkatnya
alat-alat komunikasi dan transportasi secara cepat. Dengan
berkurangnya ruang yang memisahkan segmen sosial, maka
kepadatan masyarakat akan meningkat. Karena itu faktor utama
penyebab pertumbuhan pembagian kerja adalah meningkatnya
kepadatan (moral) masyarakat. Proses pembagian kerja itu
memiliki mekanisme tertentu, bagaimana peningkatan kepadatan
moral pada umumnya meningkatkan jumlah penduduk, menghasilkan
peningkatan diferensiasi sosial atau pertumbuhan pembagian
kerja.
Bagi Durkhiem kepadatan penduduk yang maksimal
mengakibatkan persaingan dan kompetisi dikalangan penduduk
menjadi sangat ketat. Hal itu memicu anggota masyarakat untuk
menciptakan lapangan kerja baru yang menimbulkan spesialisasi
kerja. Hubungan yang tercipta pun akan semakin mengkerucut
menjadi hubungan yang mengarah kepada pekerjaan dalam suatu
komunitas pekerjaan.
75
Pada struktur masyarakat yang digambarkan oleh Durkhiem,
perwakilan orang dalam lembaga legeslatif tidak lagi didasarkan
pada latar belakang suku atau ras, melainkan dari komunitaskomunitas
pekerjaan. Ide-ide yang dominan berkembang akan
mencerminkan dinamika interaksi hubungan antar profesi atau
seprofesi, oleh karena itu kohesi sosial yang paling kuat terbentuk
dari ikatan pekerjaan.
b. Dialog Tiga Tokoh Klasik dalam Konsepsi Perubahan Sosial
Kajian teoritis dari perubahan sosial menurut tiga tokoh
sosiologi klasik ini sudah sangat dikenal di-Eropa sejak dua abad
silam. Lalu kemudian berkembang menjadi mainstream berpikir
para ahli muda yang hidup setelah generasi mereka. Terlihat jelas
ketiga tokoh itu memiliki spesifikasi epistemologi yang berbeda
secara teoritik, sehingga melahirkan paradigma teoritik tersendiri.
Ketiga pemikir itu berkembang menjadi suatu acuan besar mana
kala banyak orang belajar tentang sosiologi, sejauh itu ketiganya
banyak mewarnai cara-cara berpikir, melahirkan asumsi-asumsi,
dasar teoritik dan kemudian menjadikan paradigma besar dalam
sosiologi.
Menurut pengamatan ketiga tokoh peletak sosiologi itu
memiliki pendapat yang saling menyambung, atau bisa saja dikatakan
saling melengkapi. Namun disisi lain pemikiran mereka
sebenarnya merupakan upaya saling mengkritisi satu sama lain.
Dalam hal ini Karl Marx bahkan berperan sebagai pengantar awal
yang menjadi acuan tindakan saling kritis dengan pemikiran
Emile Durkhiem dan MaxWeber yang datang kemudian.
Pandangan tentang dunia dan perubahan sosial dari ketiga
pemikir sosiologi itu dapat diuraikan sebagai berikut:
1) Konsep perubahan sosial dapat muncul dari dua kubu yang
saling mencari pengaruh, yaitu kubu materialisme (dipelopori
Marx dan Durkhiem) dan kubu idealisme dipoelopori oleh
Weber. Pemikiran Weber pada awalnya setuju dengan ide
dasar pemikiran Marx, namun ia tidak setuju menempatkan
manusia sebagai robot, karena individu memiliki tempat
terhormat. Dalam proses perubahan sosial, Marx menempatkan
kesadaran individu, sejajar dengan kesadaran kelas,
ideologi dan budaya yang kemudian medium perantara antara
struktur dan individu.
2) Weber dan Marx tampaknya setuju untuk menolak idealisme
Hegel, yang menyatakan bahwa didunia ada yang mendominasi
yakni semangat nasionalisme. Sementara Durkhiem lebih
terfokus mengamati semangat kelompok yang mengikat
anggota sehingga dapat dijadikan sebagai unit analisa.
Kekuatan Durkhiem memang terletak pada analisis tentang
perilaku masyarakat dalam fakta sosial.
Pada kesempatan ini Weber, mengakui bahwa masyarakat
memang merupakan unit analisa tetapi tidak memiliki kekuatan
determenistis diikat oleh spirit yang seragam. Masyarakat
memiliki dinamika sendiri-sendiri yang dipengaruhi
oleh beberapa faktor. Bagaimanapun masyarakat tetap merupakan
unit yang kompleks dan dapat dianalisa secara beragam.
Pada Masyarakat modern (Weber dan Marx) memiliki
kesamaan pandangan, bahwa masyarakat itu diikat oleh spirit
dalam struktur kapitalis.
Perubahan sosial adalah suatu fenomena yang sama, tapi
ketiga tokoh tersebut menjelaskan dengan perspektif dan teori
yang berbeda. Bagi Marx, perubahan sosial dipacu dengan penggunaan
ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga dapat terjadi
sangat cepat. Sebagai akibatnya mode produksi masyarakat
mengalami perubahan sangat cepat dan mendasar.
Menurut pandangan Weber, dinyatakan bahwa sebelum terjadinya
perubahan teknologi terlebih dahulu terjadi perubahan
gagasan baru dalam pola pemikiran masyarakat (dalam hal ini
Weber memfokuskan Etika Protestan sebagai pendorong berkembangnya
semangat kapitalisme). Di setiap masyarakat ada suatu
sistem nilai yang hidup dan tumbuh secara khusus, yang membedakan
masyarakat satu dengan lainnya. Nilai yang merupakan
gagasan tersebut akhirnya menjadi kekuatan dominan dari suatu
kelompok masyarakat, yang membedakan keberadaanya dengan
masyarakat lain.
Sementara Emile Durkhiem lebih bertolak kepada keteraturan
masyarakat yang menjamin terciptanya keseimbangan sosial. Bagi
Durkhiem pendekatan individu sebagai reduksi perilaku ekonomi,
yang menurunkan manusia dalam teori pertukaran pasar dengan
sendirinya menempatkan individu tidak bermoral. Oleh karena
itu, Durkhiem lebih tertarik mengungkap fakta sosial sebagai
pedoman individu. Dengan asumsi semacam itu wajar jika
76
Durkhiem menganggap perubahan sosial merupakan kondisi
yang abnormal. Karena secara internal dampaknya akan mengganggu
kelancaran aktivitas organ dalam sistem sosial.
2. Teori Modernisasi dan Teori Ketergantungan dalam Konsep
Perubahan Sosial
Konstelasi hubungan dalam tataran dunia antar negara demi
menjalankan motif peningkatan kesejahteraan menimbulkan terjadinya
spesialisasi produksi pada tiap-tiap negara sesuai dengan
keuntungan komparatif yang dimiliki. Dalam hal ini, konsekuensi
logis yang melanda dunia terdapat dua belahan kelompok negara
yang memiliki fungsi sesuai dengan potensi dan kemampuan
mencetak sumber daya unggulan komparatif. Secara garis besar
dua kelompok negara itu yakni
a. Negara yang memperoleh hasil pertanian dan,
b. Negara yang memproduksi barang industri
Melihat masing-masing sumber daya yang sifatnya fungsional,
maka jalinan hubungan dagang antar kelompok negara tersebut
menjadi sebuah kenyataan, secara teoritis kedua bentuk hubungan
akan mendatangkan keuntungan yang seimbang antar kedua
belah pihak.
Selang beberapa waktu selama jalinan hubungan berlangsung,
nampak bahwa negara-negara industri yang padat modal
dan teknologi menjadi semakin kaya, sedangkan negara pertanian
justeru jauh tertinggal. Neraca perdangan yang terjalin antar
keduanya tempaknya menjadi timpang. Sebab pada kenyataannya
negara yang bertugas memproduksi barang industri, lebih banyak
mendapat keuntungan dibandingkan negara yang memproduksi
barang pertanian. Melihat kenyataan demikian, dalam diri kita
muncul serangkaian pertanyaan: apa yang menjadi penyebab
ketimpangan hubungan itu? Mengapa kemudian terjadi dua
kelompok negara – yaitu kelompok negara miskin yang biasanya
merupakan negara pertanian dan kelompok negara kaya yang
merupakan negara industri?
Sebagai refleksi atas kenyataan demikian, menurut Budiman
(1996) terdapat dua kelompok teori yang muncul secara berkelanjutan:
Pertama: teori-teori yang menjelaskan bahwa kemiskinan ini
terutama disebabkan oleh faktor-faktor yang terdapat didalam
negeri negara yang bersangkutan. Teori kelompok pertama ini
kemudian dikenal dengan Teori Modernisasi.
Kedua: Teori-teori yang lebih banyak mempersoalkan faktorfaktor
eksternal sebagai penyebab terjadinya kemiskinan di
negara-negara tertentu. Kemiskinan lebih banyak dilihat sebagai
akibat bekerjanya kekuatan-kekuatan luar yang menyebabkan
negara yang bersangkutan gagal melakukan pembangunannya.
Teori-teori ini masuk dalam kelompok teori struktural yang kemudian
melahirkan Teori Dependensia atau Teori Ketergantungan.
a. Teori Modernisasi
Pada hakikatnya daya pikir dari teori modernisasi lebih
berorientasi pada pembentukan mentalitas baru bagi manusia di
negara-negara berkembang. Dengan menempa kesadaran manusia
agraris agar menerima pola pikir barat yang cenderung “rasional
instrumental” maka konsepsi modernisasi menjadi komoditi di
kalangan masyarakat yang menempatkan mentalitas sebagai
penyebab perubahan.
Karena modernisasi merupakan budaya yang berasal dari
barat maka modernisasi tidak lepas dari keberadaan ilmu pengetahuan
dan teknologi. Di dalam masyarakat lalu konsepsi modernisasi
berkembang menjadi asumsi yang tidak usah dipertanyakan
lagi kebenarannya.
Gambaran kematangan masyarakat menurut teori modernisasi,
dilukiskan sebagai sebuah model linear yang bergerak ke
arah masyarakat industri. Masyarakat industri dalam teori
modernisasi dibangun dengan orientasi masa depan yang lebih
baik. Kematangan masyarakat menuju masyarakat industri,
memiliki bentuk transisi yang cukup panjang dan lama dalam
bentuk orientasi sekarang. Dalam masyarakat transisi bentuk
rasionalitas yang diharapkan belum muncul sebagai potensi
utama, sebab modernisasi baru direspons sebagai ‘kekaguman’
bentuk luar dari kebudayaan barat. Namun, sebagian besar
masyarakat di negara berkembang telah melihat bahwa tradisi
yang dimilikinya secara turun temurun merupakan sejumlah
faktor yang menghambat kemajuan. Tradisi ditempatkan sebagai
lawan pola pikir modernisasi yang sangat rasional. Oleh karena
77
itu bisa dikatakan bahwa modernisasi yang menggejala di negara
berkembang tidak memperhatikan budaya lokal dan tercerabut
dari ekologi murni masyarakat asli, oleh karena itu bersifat ahistoris.
Dalam teori modernisasi, indikator tingkat kemodernan
masyarakat adalah pada nilai dan sikap hidup maupun sistem
ekonomi yang menghidupinya. Sementara untuk membedakan
manusia modern dan manusia tradisional adalah pada orientasi
masa depannya. Tampaknya teori-teori modernisasi bertolak dari
landasan material yang kuat, suatu bentuk eksploitasi manusia
dan alam lingkungan yang berorientasi pada kelimpahan material.
b. Teori Dependensia atau Ketergantungan
Kemunculan teori dependensia merupakan perbaikan sekaligus
antitesis dari kegagalan teori pembangunan maupun modernisasi
dalam menjalankan tugasnya mengungkap jawaban kelemahan
hubungan ekonomi dua kelompok negara di dunia. Teori
ini muncul di Amerika Latin, yang menjadi kekuatan reaktif dari
suatu kegagalan yang dilakukan teori modernisasi. Tradisi berpikir
yang sangat kental dari teori ini timbul akibat kejadian
dalam varian ekonomi, yaitu pada tahun 1960-an.
Dalam konsep berpikir teori ketergantungan, pembagian
kerja secara internasional mengakibatkan ketidakadilan dan keterbelakangan
bagi negara-negara pertanian. Dari sini pertanyaan
yang muncul adalah mengapa teori pembagian kerja internasional
harus diterapkan jika ternyata tidak menguntungkan semua
negara ?
Teori modernisasi menjawab masalah tersebut dengan menuding
kesalahan pada negara-negara tersebut dalam melakukan
modernisasi dirinya. Hubungan internasional dalam kontak
dagang justru membantu negara-negara tersebut, melalui pemberian
modal, pendidikan dan transfer teknologi. Akan tetapi teori
dependensi menolak jawaban yang diberikan oleh teori modernisasi.
Teori yang bersifat struktural ini berpendapat bahwa
kemiskinan yang dialami negara dunia ketiga (negara pertanian)
akibat dari struktur perekonomian dunia yang bersifat eksploitatif,
dimana yang kuat melakukan penghisapan terhadap yang
lemah. Surplus yang seharusnya dinikmati negara dunia ketiga
justeru mengalir deras kepada negara-negara industri maju.
Perkembangan teori ketergantungan selanjutnya sangat terkait
dengan, upaya memahami lingkar hubungan makro antar
berbagai negara dalam proses pembangunan masyarakatnya.
Analisa teori ketergantungan cukup futuristik untuk membahas
masalah globalisasi yang mencakup organisasi perdagangan
nasional (World Trade Organization) yang mengatur produksi
perusahaan-perusahaan Multy National Corporation (MNC). Bahwa
sebenarnya telah terjalin hubungan yang tidak adil antara negara
berkembang dengan negara maju. Meskipun kelihatannya negara
maju memberi suntikan dana dalam bentuk utang kepada negara
berkembang, tetapi sebetulnya telah mencekik mereka perlahanlahan
dengan membikin tata hubungan ekonomi internasional
yang eksploitatif.
Sekelumit uraian dari teori-teori perubahan sosial menurut
kacamata sosiologi diatas hanyalah menunjukkan ilustrasi keragaman
analisa sosiologi dalam rentangan perkembangan produksi
teorinya. Masih terdapat turunan teori yang lain lagi, antara lain:
teori sistim dunia dan teori-teori kritis lainnya. Tentu saja kemunculan
setiap teori selalu dilatarbelakangi oleh situasi dominan
dibelakangnya. Sebuah teori merupakan perwujudan dari harapan
warga masyarakat pendukungnya. Dari sini teori sosiologi klasik
sesungguhnya lebih berfungsi sebagai pembuka gerbang nalar
manusia untuk mengungkap masyarakat tatkala akal budi yang
tercermin dalam ilmu pengetahuan dan teknologi tumbuh
berkembang menjadi mindset peradaban dunia. Teori-teori
berikutnya lebih membedah kasus-kasus kelemahan seputar
perkembangan gerbong “kuasa nalar” atas dunia. Hingga di
penghujung abad ini teori dasar tersebut tengah mengalami
perdebatan serius. Apalagi perbaikan teoritik yang menyusulnya
mulai mendorong potensi masyarakat dunia ketiga untuk tampil
dalam panggung sejarah.
Dalam hal ini tentunya pendidikan sebagai bagian dari
masyarakat tidak bisa dipisahkan dari arah perubahan yang
menggejala. Dinamika orientasi pendidikan selalu berjalan beriringan
dengan konteks wilayah sosial-politik yang menaunginya.
Sehingga pada praktik pendidikan terjadi perbedaan yang menajam
antar negara. Negara maju dengan segala keberhasilan peradabannya
tentunya sudah menghantarkan orientasi pendidikan
yang menjadi satelit acuan penting bagi aktivitas pendidikan di
78
negara berkembang. Sementara itu demi mengejar ketertinggalan,
negara berkembang mencoba menyesuaikan perpaduan hukum
perkembangan masyarakat (masih seputar modernisasi) dengan
penerapan sistim pendidikannya.
3. Perubahan Sosial dan Pendidikan
Sejalan dengan penjelasan perubahan sosial di atas maka
sebenarnya di manakah letak posisi pendidikan. Dalam hal ini kita
mengingat penuturan Eisentandt dalam Faisal dan Yasik (1985)
institusionalisasi merupakan proses penting untuk membantu
berlangsungnya transformasi potensi-potensi umum perubahan
sehingga menjadi kenyataan sejarah. Pendidikan adalah suatu
institusi pengkonservasian yang berupaya menjembatani dan
memelihara warisan budaya suatu masyarakat.
Melihat perkembangan masyarakat yang sering dilanda perubahan
secara tiba-tiba, maka kemungkinan terjadinya dampak
negatif yang akan menggejala ke dalam kehidupan masyarakat
tidak dapat dihindari kehadirannya. Gejala ketimpangan budaya
atau cultural lag, harus dapat diminimalisasi pengaruhnya ke
dalam tatanan kehidupan masyarakat. Untuk itu sebagai lembaga
yang berfungsi menjaga dan mengarahkan perjalanan masyarakat,
pendidikan harus dapat menangkap potensi kebutuhan masyarakat.
Dalam proses perubahan sosial modifikasi yang terjadi
seringkali tidak teratur dan tidak menyeluruh, meskipun sendisendi
yang berubah itu saling berkaitan secara erat, sehingga
melahirkan ketimpangan kebudayaan. Dikatakan pula olehnya
bahwa cepatnya perubahan teknologi jelas akan membawa dampak
luas ke seluruh institusi-institusi masyarakat sehingga munculnya
kemiskinan, kejahatan, kriminalitas dan lain sebagainya
merupakan dampak negatif yang tidak bisa dicegah.
Untuk itulah pendidikan harus mampu melakukan analisis
kebutuhan nilai, pengetahuan dan teknologi yang paling mendesak
dapat mengantisipasi kesiapan masyarakat dalam menghadapi
perubahan.
Karl Manheim dalam Faisal dan Yasik (1985) memfokuskan
pandangannya untuk melihat aktivitas sekolah dalam melaksanakan
proses pengajaran kepada para peserta didik. Secara jeli
Manheim mengisyaratkan adanya semacam penyimpangan, di
mana para siswa seolah-olah terobsesi pada angka prestasi,
padahal tujuan pendidikan bukan itu.
Pembahasan dan analisis mengenai perubahan sosial dan
perubahan pendidikan tidak pernah terlepas dari konsep modernisasi.
Sebagai sebuah proses masyarakat dunia, modernisasi
merupakan gejala universal yang dapat dijadikan sebagai kerangka
acuan guna memahami konteks sosial dan pendidikan. Dari
sinilah dapat ditarik ruang interpretasi mengenai perspektif perubahan
sosial dan perubahan pendidikan.
Kata atau istilah modernisasi mempunyai banyak definisi.
Meskipun bagitu, namun tetap ada satu kepastian bahwa pengembangan
aplikasi teknologi manusia menjadi muara kelahiran
modernisasi. Produk modernisasi sebagaimana terlihat pada
masyarakat modern, ditandai oleh kehidupan industrialistis,
dengan struktur pekerjaan serta ruang sosial yang kompleks,
termasuk di dalamnya munculnya diferensiasi sosial yang
semakin tajam.
Dalam menjelaskan tingkat modernisasi suatu masyarakat
selain berpatokan pada kekuatan-kekuatan materiil baik itu ruang
lingkup ekonomi maupun aplikasi teknologinya, ada banyak ahli
lain yang mengedepankan pada atribut strukturalnya. Semisal
Parson, Einsantand, Smelser, Buckley dan Marsh. Sebagaimana
dituangkan dalam Faisal dan Yasik (1985) pendapat mereka lebih
condong menempatkan diferensiasi sosial sebagai titik tolak analisisnya.
Menurut mereka paling tidak ada dua alasan, kenapa titik
pangkal diferensiasi sosial begitu pentingnya untuk memahami
modernisasi.
a) Diferensiasi merupakan suatu keniscayaan yang pasti dilalui
oleh sistem sosial dalam mengadaptasikan diri terhadap
perubahan-perubahan di lingkungannya, dan
b) Kemampuan untuk melakukan diferensiasi merupakan sebuah
indikator positif mengenai kemampuan suatu sistem dalam
menyesuaikan diri sesuai dengan proses-proses perubahan
yang terjadi.
Suatu cara untuk menggambarkan hubungan perubahan
dunia pendidikan dengan tumbuh kembangnya modernisasi, kiranya
perlu berangkat dari konsep deferensiasi. Dengan berkembangnya
diferensiasi sosial, secara perlahan-lahan akan mengubah
fungsi dan sistem pendidikan agar berjalan sejalur dengan kecen79
derungan sosial tersebut. Perkembangan tersebut ditandai dengan
adanya spesialisasi peran serta merebaknya organisasi di dalam
sistem pendidikan, sehingga secara internal menumbuhkan
diferensiasi struktural dalam tubuh pendidikan.
Proses yang mempengaruhi tubuh pendidikan ini dapat
digambarkan dalam pengamatan komparatif antara masyarakat
modern dengan masyarakat primitif. Pada masyarakat tradisional
proses pendidikan menyatu dengan fungsi-fungsi lain yang kesemuanya
diperankan oleh institusi keluarga. Sedangkan pada
masyarakat modern proses pendidikan lebih banyak dipengaruhi
oleh institusi di luar keluarga.
Meskipun terdapat perbedaan karakter pendidikan yang
cukup tajam dalam kedua tipe masyarakat tersebut. Namun pada
dasarnya masih tersimpan kemiripan fungsi pendidikan antarkedua
tipologi masyarakat tersebut. Baik pendidikan pada masyarakat
tradisional maupun masyarakat modern, keduanya samasama
bertanggung jawab untuk mentransmisikan sekaligus mentransformasikan
perangkat-perangkat nilai budaya pada generasi
penerusnya. Dengan demikian, keduanya sama-sama menopang
proses sosialisasi dan menyiapkan seseorang untuk peran-peran
baru. Letak perbedaannya, tanpa banyak perubahan di dalam
fungsi pendidikan menjadi semakin besar dan kompleks. Menurut
Faisal dan Yasik (1985) alur perkembangan diferensiasi pendidikan
dapat diterangkan dalam beberapa poin sebagai berikut.
a) Pendidikan pada masyarakat sederhana yang belum mengenal
tulisan. Dalam kehidupan masyarakatnya mengembangkan
pendidikan secara informal yang berfungsi untuk memberikan
bekal keterampilan-keterampilan mata pencaharian dan memperkenalkan
pola tingkah laku yang sesuai dengan nilai serta
norma masyarakat setempat. Pada tingkatan ini, peran sebagai
siswa dan guru secara murni ditentukan oleh ukuran-ukuran
askriptif. Anak-anak menjadi siswa dilatarbelakangi oleh faktor
usia mereka, sementara guru disimbolkan sebagai representasi
orang tua yang memiliki derajat karisma serta kewibawaan
untuk mendidik kaum-kaum muda. Spesifikasi peran
para guru itu, juga ditentukan oleh jenis kelamin (yang wanita
mengajarkan memasak sementara para laki-laki mengajarkan
berburu).
b) Pada tingkatan yang lebih maju, sebagaian proses sosialisasi
teridentifikasi keluar dari batas keluarga, diserahkan kepada
semua pemuda di masyarakat tentu saja dengan bimbingan
para orang tua yang berpengalaman atau berkeahlian. Kurikulum
pendidikan bukan semata-mata kumpulan dari latihan
memperoleh ketrampilan-ketrampilan namun juga ditekankan
soal-soal metafisik dan budi pekerti. Mengenai siapa yang berperan
sebagai guru, tampaknya sudah mulai mempertimbangkan
bakat dan pengalaman “berguru” yang pernah diperoleh.
Dalam hubungan ini, sang guru bukanlah orang yang memiliki
“spesialisasi khusus” seperti halnya spesialisasi-spesialisasi
sekarang ini, namun para “siswa” bisa belajar banyak
mengenai nilai-nilai kehidupan sebab guru dipandang sebagai
sumber segala macam pengetahuan.
c) Dengan berkembangnya diferensiasi di masyarakat itu sendiri,
maka meningkat pula upaya seleksi sosial. Beberapa keluarga
atau kelompok meningkat menjadi semakin kuat dalam segi
kekuasaan maupun kekuatan ekonominya dibandingkan warga
masyarakat yang lain. Mereka yang telah menempati posisi
kuat itu, secara formal membatasi akses mengenyam pendidikan
bagi seluruh warga masyarakat. Pertimbangan utama
dalam menentukan siapa-siapa yang menjadi “siswa”, terletak
pada latar belakang kelas atau kterurunan seseorang. Sedangkan
seleksi para “guru”, di samping disyaratkan memiliki
tingkat pengetahuan yang lebih tinggi, juga diperhitungkan
faktor kecerdasan dan bakatnya. Dari segi kurikulum sudah
diperhitungkan kebutuhan-kebutuhan perkembangan zaman
dengan memfokuskan perhatian pendidikan pada budi pekerti,
hukum, teologi, kesenian serta bahasa. Guru masih berperan
sebagai figur yang menguasai segala hal daripada sebagai spesialis
dari suatu cabang pelajaran tertentu.
d) Pada tingkatan berikutnya hubungan antara pendidikan
dengan masyarakat menjadi kian rumit dan semakin kompleks.
Sejalan dengan arus industrialisasi dan kecenderungan
diferensiasi sosial, maka spesialisasi peranan menjadi ciri
istimewa masyarakat pada tingkatan keempat ini. Di sini
pendidikan sudah berjenjang-jenjang begitu rupa, dan kualifikasi
para pengajar sudah tersebar ke dalam bidang keahlian
yang beragam pula. Dalam hubungan ini, sekolah mendapat
80
beban-beban baru, yaitu sebagai pusat pengajaran bagi masyarakat
luas, sebagai media seleksi sosial serta berperan pula
sebagai lapangan pekerjaan.
Pesatnya arus diferensiasi serta spesialisasi selama dekadedekade
terakhir memicu beberapa perubahan dalam tubuh formasi
pendidikan. Hal itu terjadi sebagai akibat dari mendesaknya
permintaan masyarakat akan tersedianya tenaga-tenaga spesialis
yang akan menopang bergulirnya roda kehidupan masyarakat
yang tengah bertumpu pada kekuatan industri produk massal.
Dalam perkembangan ini, sistem pendidikan beranjak pesat
menjadi institusi yang mempunyai “kedudukan penting” terutama
dalam menopang perubahan sosial ekonomi (baik perubahan
yang direncanakan maupun tidak), lalu pendidikan berkembang
menjadi “jembatan” prestise dan status, selain juga
tampil sebagai faktor utama mobilitas sosial, baik vertikal maupun
horisontal, baik intra maupun antargenerasi.
4. Gelombang Kekuatan yangMengubahMasyarakat Manusia
Sesudah kita melihat bagaimana dan apa perubahan sosial,
maka uraian selanjutnya akan membicarakan berbagai kekuatan
sosial yang mengubah dunia yang mengglobal dewasa ini. Dari
berbagai kekuatan yang mengubah kehidupan bersama umat
manusia dewasa ini, terdapat tiga kekuatan yang besar, yaitu (1)
demokratisasi, (2) kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi
khususnya teknologi komunikasi dan informasi, dan (3)
globalisasi.
Ketiga kekuatan besar yang sedang mengubah kehidupan
umat manusia dewasa ini selanjutnya akan dilihat pengaruhnya
terhadap perubahan-perubahan sosial dalam masyarakat kita.
Perubahan-perubahan tersebut sangat berkaitan dengan kekuatankekuatan
global yang tengah melanda masyarakat kita. Pertama
ialah masyarakat kita sedang berubah dari masyarakat yang relatif
masih tertutup menuju suatu masyarakat terbuka. Proses demokratisasi
yang sedang melanda seluruh dunia termasuk di
Indonesia, telah membongkar kehidupan tradisional masyarakat
kita. Selanjutnya, masyarakat kita sesudah melampai masa krisis
yang terjadi pada penghujung abad 20, akan dituntut melahirkan
bentuk nasionalisme baru yang berhadapan dengan munculnya
rasa kesukuan atau tribalisme. Keadaan masyarakat Indonesia
yang pluralistik dalam suku dan budayanya merupakan
tantangan baru terhadap kehidupan nasional.
Kekuatan-kekuatan yang dibicarakan tersebut di atas tentunya
akan mempengaruhi proses pendidikan manusia Indonesia
yang menuntut kemampuan untuk berpartisipasi aktif dalam
membina masyarakat baru.
a. Kekuatan Demokratisasi
Saat ini gelombang demokratisasi sedang melanda dunia.
Semenjak beberapa waktu lalu dimana-mana telah terjadi penghancuran
dinasti pemerintah otoriter oleh rakyat beriringan
dengan tumbuhnya pemerintah yang demokratis. Meskipun
bukannya tanpa hambatan namun dewasa ini menurut
Huntington (1995) gelombang demokratisasi telah mencapai tahap
ketiga. Menurut pengamatannya gelombang demokratisasi yang
pertama berakar dari revolusi Perancis dan revolusi Amerika yang
memperjuangkan hak-hak rakyat untuk mengatur dirinya sendiri.
Gelombang kedua terutama terjadi setelah perang dunia kedua
dengan lahirnya nagara-negara baru di Afrika dan Asia dari
daerah-daerah bekas penjajahan. Gelombang ketiga ditandai oleh
pemerintah diktator di Eropa Selatan seperti Portugal telah terjadi
penumbangan pemerintahan diktator pada tahun 1974, diikuti
oleh pendemokrasian negara-negara Eropa Selatan lainnya seperti
Yunani dan Spanyol. Sejak tahun 1980 proses demokratisasi mulai
menelan dunia komunis seperti Polandia. Rontoknya negaranegara
komunis pada penghujung tahun 80-an ditandai oleh
rontoknya tembok Berlin yang memisahkan Berlin Barat yang
demokratis dan Berlin Timur yang komunis. Rontoknya
pemerintahan diktator komunis mencapai klimaksnya dengan
bubarnya negara Uni Sovyet. Sampai permulaan abad 21 ini
proses demokratisasi terus berlangsung.
Sampai di sini kita lihat pengertian demokrasi berhubungan
dengan sistem pemerintahan, yaitu pemerintah oleh rakyat melalui
para wakilnya di dalam suatu dewan atau majelis. Demokrasi
itu sendiri bukan merupakan suatu nama benda tetapi lebih
merupakan suatu proses yaitu proses demokratisasi. Perwujudan
asas-asas demokrasi terus berkembang sampai dewasa ini. Ada
negara yang telah mapan pelaksanaan demokrasi ada yang baru
81
berada pada tingkat konsolidasi, ada pula yang baru pada tahap
transisi dari pemerintahan yang diktator ke arah pemerintahan
yang demokratis.
Dewasa ini pengertian demokrasi tidak dibatasi kepada
pengertian politik tetapi juga menyangkut hal-hal dalam bidang
sosial, ekonomi, hukum, HAM. Jadi demokrasi telah merupakan
suatu sikap dan cara hidup, baik di dalam lingkungan terbatas
maupun di dalam lingkungan bernegara. Kini kita berbicara
mengenai demokrasi sosial, demokrasi ekonomi, penghormatan
terhadap hak asasi manusia, kedudukan hukum yang sama dari
setiap warga negara. Prinsip demokrasi adalah menghargai akan
martabat manusia dengan hak-hak asasinya.
1) Perkembangan Demokrasi
Pada dasarnya demokrasi muncul bersamaan dengan perkembangan
negara kebangsaan (nation-state). Seperti yang telah
dijelaskan, munculnya negara kebangsaan sejalan dengan penolakan
manusia terhadap penindasan pemerintahan absolut dari
monarki absolut. Lahirnya negara-negara kebangsaan pada abad
19 bersamaan pula dengan lahirnya industri modern di Eropa
yang dipicu oleh kemajuan ilmu dan teknologi. Kemajuan hak-hak
rakyat biasa mulai muncul sehingga mengubah cara hidup
manusia. Kehidupan perkotaan mulai marak, hak-hak buruh
mulai dimunculkan sehingga tidak jarang terjadi keributankeributan
sosial yang menuntut perbaikan. Hak asasi manusia
mulai ditonjolkan karena manusia mulai melihat terjadinya
ketimpangan-ketimpangan sebagai ekses kapitalisme. Masalah
ekonomi semakin menonjol dan perkembangan demokrasi banyak
dihubungkan dengan perkembangan ekonomi.
Perkembangan ekonomi yang tinggi akan melahirkan
kebutuhan untuk memperoleh pendidikan bagi rakyat banyak
terutama di dalam era industrialisasi. Tenaga kerja manusia
diganti dengan mesin dan untuk itu diperlukan ilmu pengetahuan
dan pelatihan bagaimana cara memegang mesin-mesin tersebut.
Sejalan dengan meningkatnya mutu sumber daya manusia karena
pendidikan, lahirlah kelas baru di dalam masyarakat yang disebut
kelas menengah. Meluas dan meningkatnya pendidikan bagi
rakyat dibarengi dengan lahirnya kelas menengah yang besar dan
kuat, melahirkan budaya baru. Budaya baru tersebut didukung
oleh warga negara yang semakin berpendidikan, semakin bertanggung
jawab dan menguasai berbagai jenis kompetensi yang
diperlukan di dalam masyarakat modern. Semua perubahan ini
merupakan pendukung dari proses demokratisasi.
Perkembangan pemerintahan yang demokratis ternyata
mengenal berbagai tipe atau jenis. Menurut Haynes (2000) ada tiga
jenis pemerintahan yang demokratis, yaitu (1) demokrasi formal,
(2) demokrasi permukaan (fasade), dan ( 3) demokrasi substantif.
Demokrasi formal ditandai dengan adanya pemilihan umum
yang bebas dan adil serta kompetitif. Ide pokoknya ialah adanya
pilihan yang bebas. Banyak negara yang masih muda berada di
dalam jenis ini. Secara formal negara-negara itu melaksanakan
pemilihan umum namun di dalam praktiknya negara-negara
tersebut tergolong negara diktator. Demokrasi-permukaan
(fasade) dapat kita lihat di dalam bentuk pemerintahan yang
kelihatan pada permukaannya sebagai pemerintahan yang
demokratis, tetapi sebenarnya masih jauh dari prinsip-prinsip
demokrasi. Pada hakikatnya pemerintah yang demikian hanya
berbaju demokrasi, tetapi tetap membatasi hak-hak warga negara,
misalnya batasan di dalam mengeluarkan pendapat, pembatasan
untuk berkumpul dan berserikat, memberangus pers yang tidak
sejalan dengan pemerintah. Mungkin saja negara mempunyai
perwakilan dari rakyat tetapi sistem pemerintahannya adalah
sistem feodal. Pemerintah mempunyai hak mutlak di dalam
mengatur negaranya meskipun rakyatnya diberi peluang untuk
memilih wakil-wakilnya melalui pemilihan umum. Bentuk yang
terakhir ialah demokrasi substantif. Di dalam pemerintahan yang
demokrasi subtantif ialah bukan hanya dikenal demokrasi formal
melalui pelaksanaan pemilihan umum yang bebas dan adil serta
kompetitif, tetapi juga prinsip-prinsip demokrasi dilaksanakan di
dalam seluruh bidang kehidupan bernegara dan bermasyarakat.
Demokrasi telah menjadi cara dan gaya hidup dari setiap
anggotanya.
2) Demokratisasi dan Pendidikan
a) Revolusi Industri
Seperti yang telah diuraikan, revolusi industri telah mengubah
banyak aspek kehidupan. Dengan adanya perkembangan
industri maka struktur produksi dan konsumsi berubah total, dari
82
ekonomi yang tertutup menjadi ekonomi yang terbuka. Begitu
pula struktur permodalan, berubah dengan lahirnya kapitalisme.
Dari perkembangan industri muncullah suatu kelas baru, yaitu
kaum buruh yang semakin lama semakin kuat dan menuntut hakhaknya.
Tidak mengherankan apabila di dalam revolusi industri
melahirkan pemikiran-pemikiran perubahan sosial yang baru,
seperti komunisme dan sosialisme. Sejalan dengan itu pula berkembang
kota-kota besar sebagai pusat industri. Terjadilah
dorongan ke kota-kota atau urbanisasi yang melahirkan banyak
permasalahan sosial. Sejalan dengan itu pula nilai-nilai masyarakat
yang tradisional dihancurkan oleh lahirnya nilai-nilai baru.
Perubahan nilai tersebut mengubah bentuk-bentuk kehidupan
manusia termasuk kehidupan keluarga. Keluarga sebagai dasar
kehidupan sosial mulai tergoyah dan lebur, serta dikuasai oleh
nilai-nilai komersial.
Sejalan dengan proses industrialisasi dengan nilai-nilai sosialnya
yang baru, maka lahirlah apa yang disebut kelas menengah.
Apabila sebelumnya di dalam masyarakat terdapat golongan elit
atau feodal yang berkuasa disertai dengan penguasaan modal, dan
dibawahnya lapisan besar masyarakat yang miskin dan tertindas,
maka dengan revolusi industri telah lahir kelas baru di dalam
masyarakat, yaitu kelas menengah. Kelas menengah ini semakin
lama semakin besar, berpengaruh dan terkenal dengan nilainilainya
yang progresif dan anti establisment. Kelas menegah ini
merupakan kelompok masyarakat yang dinamis, yang berkembang
kemampuan intelektualnya dan tidak jarang dari mereka
menjadi pembela golongan rakyat banyak. Nilai-nilai kelas
menengah mendorong lahirnya suatu masyarakat yang sadar akan
hak dan tanggung jawabnya. Mereka itulah warga negara yang
meminta partisipasinya lebih diakui di dalam berbagai aspek
kehidupan. Mereka aktif di dalam mewujudkan hak-hak
politiknya, partisipasinya di dalam kegiatan ekonomi dan sejalan
dengan itu lahirnya bisnis pekerjaan baru yang belum dikenal
sebelumnya. Kelas menengah ini menempati pos-pos yang sangat
strategis di dalam dinamika perubahan sosial. Di dalam
partisipasinya dalam perubahan sosial mereka menempati dan
mengubah stratifikasi sosial yang ada.
Dari manakah kelas menengah itu memperoleh visi yang
baru sehingga menjadi pelopor dari perubahan sosial? Sejalan
dengan revolusi industri serta makin sadarnya warga negara
untuk berpartisipasi di dalam semua aspek kehidupan, telah didorong
oleh suatu program untuk meningkatkan taraf kecerdasan
rakyatnya. Sejalan dengan itu, program wajib belajar mulai
muncul di negara-negara industri pertengahan abad 19. Program
wajib belajar mulai diperkenalkan bukan hanya di belahan bumi
Eropa, tetapi juga di Amerika Utara dan Jepang. Partisipasi
masyarakat untuk memperoleh pelajaran melahirkan programprogram
wajib belajar sebagai perwujudan dari hak asasi manusia.
Bagaimana peranan pendidikan pada abad 21, dalam era
globalisasi? Memang pendidikan telah dilihat sebagai suatu
sarana untuk mempercepat proses dekolonisasi dan meningkatkan
mutu kehidupan dari rakyat terjajah. Oleh sebab itu, di dalam
salah satu program PBB sejak dilahirkan ialah meningkatkan dan
mempercepat program pendidikan di negara-negara bekas
jajahan. Badan PBB, UNESCO mempunyai tugas antara lain untuk
meningkatkan dan menyebarluaskan pendidikan untuk semua
orang. Semua manusia mempunyai hak untuk memperoleh
pendidikan. Hanya melalui pendidikan dapat diwujudkan suatu
masyarakat demokratis dan terbuka sehingga kemiskinan, ketidakadilan,
kriminalitas, dapat diwujudkan untuk orang banyak.
Pemerintahan yang demokratis tetapi mengabaikan pendidikan
bagi rakyatnya merupakan suatu penipuan dan kejahatan
kemanusiaan.
b) Proses Demokratisasi dalam Era Informasi
Di dalam masyarakat demokratis diperlukan warga negara
yang cerdas, artinya yang dapat mengambil bagian secara intelegen
di dalam kehidupan politik. Warga negara tersebut harus
dapat memilih sesuai dengan pertimbangan-pertimbangan yang
tepat dan cepat. Pengambilan keputusan yang cepat dan tepat di
dalam pemilihan umum atau di dalam mengambil keputusankeputusan
politik banyak dibantu oleh penemuan-penemuan di
dalam bidang teknologi khususnya teknologi informasi. Kemajuan
teknologi informasi yang pada saat ini telah memasuki era internet
dan semakin lama semakin canggih, akan sangat membantu di
dalam proses pertimbangan dan pengambilan keputusan baik oleh
para pemilih maupun bagi pemerintah. Kita lihat betapa peranan
televisi dan internet di dalam proses pemilihan presiden di
Amerika Serikat. Tanpa televisi dan internet proses pemilihan dan
83
keputusan-keputusan yang diambil oleh para pemilih serta calon
dalam pemilu akan sangat lamban.
Proses demokratisasi akan memasuki babak baru dalam era
digital. Gerakan sosio-politik baru yang bersifat internasional
memiliki nilai-nilai atau ide antara lain untuk menyamakan
keterampilan dan sumber teleteknologi. Masalah ini memang
merupakan masalah internasional. Di dalam pertemuan-pertemuan
internasional telah disadari akan adanya perbedaan di dalam
nagara-negara industri dan negara-negara berkembang. Digital
divide akan lebih memperlebar jurang pemisah antara negara maju
dengan negara berkembang. Kini terdapat usaha-usaha internasional
untuk menjembatani digital divide ini.
Selain daripada itu, gerakan sosio-politik baru menganjurkan
kepada pemanfaatan teleteknologi untuk meningkatkan martabat
manusia, misalnya di dalam perluasan informasi mengenai hak
asasi manusia. Demikian pula dengan adanya penggunaan teknologi
akan lebih membuka kehidupan masyarakat dengan
pengenalan berbagai jenis alternatif. Selanjutnya, dengan teleteknologi
dapat ditingkatkan kewajiban-kewajiban antarnegara masalah
identitas dan pengembangan generasi muda, generasi masa
depan. Selain gerakan sosio-politik baru, juga terdapat kampanye
dan strategi sosio-politik baru yang meliputi upaya untuk meningkatkan
pelayanan universal dalam pemanfaatan telekomonikasi,
meningkatkan kemampuan melek komputer dan memasyarakatkan
teknologi digital, termasuk di dalam bidang politik. Era
demokrasi masa depan akan banyak dipengaruhi oleh era digital
yang mempercepat komunikasi, penyebaran informasi, dialog
antarkelompok, antarbangsa dan antarumat manusia. Masyarakat
global akan sangat dibantu oleh kemajuan di dalam bidang
teknologi informasi yang sangat pesat perkembangannya.
b. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Bagaimanakah dengan keadaan kehidupan masyarakat dan
negara dewasa ini? Ternyata sumber kemakmuran dan kekuatan
bukan lagi terletak pada luas wilayah dan sumber daya alamnya
yang melimpah tetapi telah berpindah pada penguasaan pemanfaatan
ilmu pengetahuan dan teknologi. Inilah peradaban baru
umat manusia. Terdapat tiga kekuatan yang dominan yaitu
(1) ilmu pengetahuan, (2) teknologi sebagai penerapan ilmu
pengetahuan, dan (3) informasi. Ketiga kekuatan ini tidak
berhubungan lagi secara langsung dengan nasionalitas. Ilmu
pengetahuan tidak perlu menyebarangi tapal batas suatu negara
dan oleh sebab itu tidak lagi memerlukan paspor dan visa.
Demikian pula informasi berembus ke mana-mana tanpa batas
dan tidak ada yang dapat menghentikan atau menghambatnya.
Teknologi informasi telah mengubah kebudayaan negara menuju
kebudayaan global karena sekat-sekat yang mengisolasikan
kehidupan berbagai masyarakat dan negara telah dihapuskan.
Futuris Alvin Toffler dalam Anshori (2000) mengatakan
bahwa ada tiga gelombang peradaban hingga saat ini, yaitu.
1) Gelombang peradaban teknologi pertanian (8000 SM – 1500 M)
2) Gelombang peradaban teknologi industri (1500 – 1970 M)
3) Gelombang peradaban informasi (1970 – sekarang).
Masing-masing gelombang tersebut dikuasai oleh tingkat
teknologi yang digunakan pada era tersebut. Di dalam peradaban
pertanian teknologi terbatas pada pengelolaan lahan-lahan pertanian
untuk mencukupi kehidupan dasar manusia. Revolusi
industri yang dimulai dengan kemajuan ilmu pengetahuan pada
masa renaisans dalam kebudayaan Eropa, telah melahirkan ilmu
pengetahuan yang diterapkan di dalam perkembangan industri
modern. Mesin-mesin industri seperti mesin uap, mesin pemintal
dalam industri garmen, tambang-tambang muncul sesudah masa
Aufklarung. Kemajuan industri yang pesat tersebut, di samping
meningkatkan taraf hidup rakyat khususnya dalam kebudayaan
Eropa, juga telah melahirkan ekses-ekses, seperti imperalisme dan
kolonialisme dalam rangka untuk memperoleh bahan baku dan
pemasaran hasil industri. Demikian pula perkembangan industri
telah melahirkan berbagai masalah sosial seperti masalah perburuhan,
masalah urbanisasi dan bahkan menimbulkan gesekan
antaragama dan ilmu pengetahuan.
Pada masa gelombang teknologi informasi yang telah melahirkan
kemudahan-kemudahan dalam berkomunikasi, telah melahirkan
suatu masyarakat dunia yang disebut global village.
Perubahan-perubahan mendasar tersebut kini semakin lama
semakin memudahkan kehidupan manusia di dalam berkomunikasi
dalam berbagai bidang.
84
Alisyahbana (2000) mengemukakan ada lima era industri
baru yang akan datang, yaitu.
1) Era industri rekreasi (sampai 2015). Di dalam era ini akan lahir
dengan pesatnya berbagai jenis rekreasi dan industri hiburan
(entertainment). Industri rekreasi ini lahir bersamaan dengan
semakin meningkatnya tingkat kemakmuran rakyat. Semakin
besar pendapatan rakyat semakin banyak waktunya yang
terluang untuk berekreasi bersama-sama dengan keluarga.
Kebudayaan Disneyland yang lahir di Los Angeles kini telah
merebak ke seluruh dunia di dalam bentuk-bentuk yang
sejenis. Demikian pula telah lahir industri perhotelan, pusatpusat
rekreasi baik yang modern maupun yang sederhana
dengan kegiatan-kegiatan penunjang lainnya seperti transportasi
yang cepat, perusahaan-perusahaan tour dalam berbagai
jenis kian berkembang dengan sangat pesar. Begitu pula
perkembangan yang pesat dari industri pariwisata telah
menimbulkan kebutuhan untuk penguasaan bahasa, khususnya
bahasa Inggris sebagai bahasa komunikasi dunia.
2) Era bioteknologi. Kemajuan penelitian-penelitian di segala
bidang bioteknologi sangat mengagumkan meskipun menimbulkan
banyak persoalan. Kita dewasa ini mengenal penelitian-
penelitian biotek yang antara lain menghasilkan produkproduk
pertanian hasil rekayasa. Dalam bidang ilmu genetika
kini sedang digalakkan penelitian mengenai genom manusia.
Dalam bidang peternakan kita mengenal kegiatan-kegiatan
cloning pada binatang. Era bioteknologi ini sangat menjanjikan
di dalam upaya menghadapi ledakan penduduk dan persediaan
pangan bagi umat manusia yang terbatas. Untuk menghadapi
ekses-ekses dari rekayasa genetik, telah digalakkan
penelitian-penelitian mengenai bioetika yaitu etika tentang
rekayasa bioteknologi. Era bioteknologi yang sedang berkembang
pesat ini diperkirakan akan terus marak sampai
sekitar tahun 2100.
3) Era mega-material. Di dalam era ini misalnya, dikenal mengenai
research nano-technology dan quantum physics. Perkembangan
nanoteknologi sangat menjanjikan di dalam kualitas
hidup manusia. Seperti diketahui sistem metric yang dikemukakan
oleh Gabriel Mouton seorang pakar dari Lyons tahun 1670
dan kemudian diterima oleh pemerintah Perancis pada tahun
1795. Sistem metric ini merupakan suatu sistem desimal untuk
ukuran panjang dan berat. Ukuran nano adalah sepermilyar
dari meter (10-9). Bahkan teknologi nano ini mungkin akan
terus dikembangkan menjadi pico teknologi (10-12 atau sepertriliun).
Ukuran yang sangat kecil ini tentunya akan mengubah
berbagai produk elektronik yang semakin kecil sehingga
sangat memudahkan bagi pemakainya. Demikian pula di
dalam bidang-bidang teknik yang lain nano teknologi ini akan
terus dikembangkan baik dalam bidang kedokteran, pangan,
teknologi, pokoknya semua bidang kehidupan. Diperkirakan
nano teknologi ini akan berkembang dengan sangat pesatnya.
4) Era atom baru (fusi, laser). Era ini diperkirakan akan sangat
berkembang pada tahun 2100 – 2500.
5) Era angkasa luar baru. Diperkirakan sebelum tahun 3000
penjelajahan angkasa luar dari manusia telah dapat menjadi
kenyataan. Pada masa itu pesawat angkasa luar telah merupakan
alat transportasi umum.
Demikianlah gambaran kasar mengenai perubahan yang
sangat mendasar yang belum dapat kita gambarkan pada saat ini
bentuk kehidupan manusia menjelang 3000.
c. Globalisasi
Globalisasi adalah proses kebudayaan yang ditandai dengan
adanya kecenderungan wilayah-wilayah di dunia, baik geografis
maupun fisik, menjadi seragam dalam format sosial, budaya,
ekonomi dan politik. Dalam kehidupan sosial proses global telah
menciptakan egalitarianisme. Di bidang budaya memicu munculnya
internalisasi kultural, di bidang ekonomi menciptakan saling
ketergantungan dalam proses produksi dan pemasaran, dan di
bidang politik menciptakan liberalisasi.
Hal-hal nyata yang terlihat dalam era global adalah meningkatnya
integrasi ekonomi antar negara-negara di dunia, baik
antarnegara maju, berkembang, dan keduanya. Globalisasi dengan
demikian diwarnai oleh ekspansi pasar dalam bentuk konkret
menjelma dalam berbagai penyelenggaraan pasar-pasar bersama
regional seperti AFTA, NAFTA, APEC, EEC, dll. Ini merupakan
ekspansi hubungan dagang serta formasi wilayah pasar terpadu di
benua-benua Asia, Eropa, Amerika, Australia, dll. Proses per85
luasan pasar di seluruh wilayah penjuru dunia tersebut merupakan
sebuah rekayasa sosial dengan skala luas, yang belum pernah
terbayangkan sebelumnya, dengan menggunakan berbagai instrumen
seperti ilmu pengetahuan, teknologi, institusi sosial, politik
dan kebudayaan.
Para pakar dari sudut penglihatannya masing–masing melihat
adanya berbagai kecenderungan gelombang globalisasi.
Alatas (2000) melihat empat perubahan mendasar yang dapat
terjadi, yaitu.
1) Adanya suatu gelombang perubahan di dalam konstelasi politik
global. Apabila sebelumnya politik global bersifat bipoler
seperti misalnya Barat versus Timur, negara–negara industri
maju versus negara–negara berkembang, negara–negara
demokrasi versus negara–negara totaliter dan sebagainya. Di
dalam gelombang globalisasi konstelasi politik mengarah
kepada multipoler. Perdagangan misalnya tidak lagi bersifat
hubungan antara dua negara tetapi dengan berbagai negara.
2) Saling menguatnya hubungan antarnegara yang berarti
semakin kuatnya saling ketergantungan. Keterkaitan antara
negara dalam bidang politik, keamanan, ekonomi, sosial, lingkungan
hidup, dan hak–hak asasi manusia. Keterkaitan tersebut
mempunyai dampak baik positif maupun negatif.
3) Globalisasi menonjolkan pemain–pemain baru di dalam kehidupan
masyarakat, yaitu aktor–aktor nonpemerintah. Apabila
sebelumnya para aktor terutama didominasi oleh pemerintah
maka dalam era globalisasi muncullah aktor–aktor seperti
ornop–ornop, atau disebut juga lembaga swadaya masyarakat
(LSM). Muncullah para aktor baru yang merasa sebagai salah
satu stakeholder di dalam masyarakat, akan mengubah peran
pemerintah di dalam fungsinya yang mengatur masyarakat.
Daerah publik (public sphare) akan semakin meluas. Artinya
pemerintah harus membuka diri dan lebih transparan untuk
mendengar suara–suara dari masyarakat dan bukan hanya
mendengar suara pemerintah sendiri. Masyarakat yang demikian
menuju kepada masyarakat sipil atau masyarakat
madani. Pengakuan terhadap hak–hak asasi manusia merupakan
syarat dari suatu masyarakat sipil (masyarakat madani).
4) Lahirnya berbagai isu baru di dalam agenda hubungan–
hubungan internasional. Isu–isu baru tersebut antara lain hak
asasi manusia, intervensi kemanusiaan, perkembangan demokrasi
atau demokratisasi, dan keinginan untuk mengatur suatu
tata cara atau sistem pengelolaan global, misalnya di dalam
lingkungan dunia yang berkenaan dengan paru–paru dunia.
Demikian pula rasa suatu kebutuhan akan adanya global
governence yang mengatur tata cara dan kesepakatan didalam
hidup yang mengglobal. Termasuk dalam kategori ini misalnya
masalah terorisme internasional yang terkait dengan
tragedi Black Tuesday 11 September 2001 yang merontokkan
gedung World Trade Center di New York, dan Pentagon di
Washington D.C.
Gelombang globalisasi bukan hanya mengubah tatanan
kehidupan global, tetapi juga mengubah tatanan kehidupan pada
tingkat mikro. Dalam hal ini kita berbicara mengenai pengaruh
arus globalisasi di dalam ikatan kehidupan sosial. Seperti telah
diuraikan, globalisasi dapat mengandung unsur-unsur positif,
tetapi juga yang dapat bersifat negatif. Salah satu dampak negatif
dari proses globalisasi ialah kemungkinan terjadinya disintegrasi
sosial. Beberapa gejala transisi sosial akibat globalisasi antara lain
ialah hilangnya tradisi. Bentuk-bentuk budaya global telah memasuki
kehidupan sosial pada tingkatan mikro, sehingga dikhawatirkan
nilai-nilai tradisi lokal dan nilai-nilai moral yang hidup
di dalam masyarakat semakin lama semakin menghilang. Hal ini
disebabkan pula karena masih rendahnya pendidikan, terutama di
negara-negara berkembang. Dengan masih rendahnya tingkat
pendidikan masyarakat, kemampuan selektif dan adaptasi terhadap
perubahan-perubahan global mudah dipengaruhi sehingga
tradisi lokal terancam punah. Lebih daripada itu, dengan hilangnya
nilai-nilai tradisi sebagai pengikat kehidupan bersama mulai
melonggar. Salah satu dampak dari globalisasi ialah meningkatnya
kriminalitas kerah putih bahkan ada yang mengatakan bahwa
masyarakat modern telah menderita penyakit kleptokrasi. Bentukbentuk
kleptokrasi ini misalnya terlihat di dalam semakin meningkatnya
gejala-gejala korupsi di banyak negara berkembang.
Menghadapi gejala-gejala disintegrasi sosial, Irwan Abdullah
dalam Buchori (2001) menawarkan berbagai langkah untuk
memperkuat masyarakat dengan konsep kapital sosial. Yang
dimaksud dengan kapital sosial ialah suatu sistem nilai yang
hidup dan dipelihara serta dihormati untuk dilaksanakan di
86
dalam suatu masyarakat. Di dalam masyarakat terbuka rentan
terhadap hilangnya kapital sosial tersebut.
Dari berbagai uraian di atas menunjukkan bahwa suatu gejala
proses perubahan sosial yang mahadahsyat, yang belum pernah
dialami umat manusia sebelumnya. Istilah globalisasi telah menjadi
istilah umum yang dibicarakan oleh setiap orang sampai
diskusi ilmiah dalam lingkungan akademik.
5. Pendidikan sebagai Dasar PengembanganMasyarakat Baru
Dewasa ini boleh dikatakan pendidikan telah diadopsi oleh
semua negara, baik negara berkembang maupun negara maju,
dijadikan sebagai pondasi untuk menghadapi perubahan-perubahan
besar di dalam kehidupan masyarakat dalam millennium
ketiga. Hal ini dapat terbayang di dalam investasi pendidikan dari
negara-negara tersebut. Pendidikan telah dijadikan prioritas
utama dan pertama dari banyak negara untuk dijadikan sebagai
pondasi membangun masyarakat yang lebih demokratis, terbuka
bagi perubahan-perubahan global dan menghadapi masyarakat
digital. Di dalam kampanye pemilihan Presiden Amerika Serikat
tahun 2000 baru-baru ini, pendidikan telah menempati kedudukan
yang sangat penting dan dijadikan landasan pembangunan
masyarakatnya. Demikian pula bagi negara-negara berkembang
seperti negara-negara ASEAN boleh dikatakan semua negara
memberikan prioritas utama kepada pengembangan pendidikan
yang tercermin di dalam alokasi dana pemerintah.
Sejalan dengan arah baru mengenai pendidikan di dalam
pengembangan suatu masyarakat, maka ilmu pendidikan juga
mempunyai orientasi baru.
a. Arah Baru Pedagogik
Di dalam perkembangannya, pedagogik terbatas kepada masalah-
masalah mikro pendidikan, seperti perkembangan anak,
proses belajar dan pembelajaran, fasilitas pendidikan, biaya pendidikan,
manajemen pendidikan dan sebagainya. Di dalam perkembangannya
dewasa ini, pedagogik ternyata tidak terlepas dari
perubahan-perubahan sosial, politik dan ekonomi. Telah kita lihat,
betapa perubahan pola-pola kehidupan masyarakat manusia
dewasa ini yang semakin terbuka. Kehidupan politik yang
semakin didominasi oleh gerakan demokratisasi. Hak-hak asasi
manusia semakin menonjol di dalam setiap pemerintahan dan di
dalam organisasi-organisasi dunia. Semuanya mengakui betapa
besar peranan pendidikan di dalam membangun masyarakat
dunia baru. Indonesia telah mulai menunjukkan gejala-gejala yang
positif memprioritaskan pendidikan di dalam proses pembangunan
masyarakat Indonesia baru di dalam APBN dan APBD
yang akan datang.
Perubahan-perubahan sosial tersebut di atas telah membawa
kepada suatu keperluan untuk memberikan orientasi baru terhadap
pedagogik. Pedagogik bukan sekadar mencermati perkembangan
anak sejak lahir sampai dewasa, atau mengenai proses
pendidikan orang dewasa, atau menyimak mengenai proses
belajar dan pembelajaran, tetapi lebih luas daripada itu, yaitu
menempatkan perkembangan dan kehidupan manusia di dalam
tetanan kehidupan global. Dengan demikian, pedagogik bukan
hanya terbatas kepada ilmu mendidik dalam arti sempit, atau
sekadar aplikasi ilmu jiwa pendidikan, tetapi juga membahas
mengenai keberadaan manusia di dalam kebersamaan hidup yang
mengglobal bagi umat manusia. Dengan demikian, pedagogik
merupakan bagian dari perubahan politik, bagian dari perubahan
sosial dan juga bagian dari perubahan ekonomi, bukan hanya
perubahan ekonomi bagi negara-negara maju, tetapi juga ekonomi
yang dihadapi oleh kebanyakan negara berkembang yakni pemberantasan
kemiskinan. Oleh sebab itu, tidak mengherankan apabila
investasi di dalam pendidikan dan pelatihan merupakan agenda
paling urgen di dunia dewasa ini. Masalah-masalah pemberdayaan,
partisipasi masyarakat, perencanaan dari bawah, perbaikan
gizi, pengembangan civil society, pengembangan sikap toleransi
antarbangsa, antaragama, antara lapisan kehidupan sosial ekonomi,
antaretnis, multicultural education, merupakan topik-topik
hangat di dalam pedagogik arah baru.
b. Pendidikan, Ekonomi, Politik, dan Kebudayaan
Pedagogik orientasi baru tersebut di atas, menunjukkan keterkaitan
yang erat antara pedagogik dengan pertumbuhan ekonomi
serta pertumbuhan politik. Demikian selanjutnya, pedagogik tidak
dapat dilepaskan dari kebudayaan di mana pendidikan itu
merupakan bagian dari padanya. Kebudayaan merupakan sarana,
bahkan jiwa dari kohesi sosial dari suatu masyarakat. Tanpa
87
kohesi sosial tidak mungkin lahirnya proses pendidikan. Oleh
sebab itu, pendidikan dan kebudayaan merupakan dua sisi dari
mata uang yang sama. Mengisolasikan pendidikan dari kebudayaan
berarti melihat proses pendidikan di dalam ruang hampa.
Pakar-pakar ekonomi juga pakar-pakar kebudayaan dan politik
melihat betapa pendidikan merupakan aspek yang sangat strategis
di dalam menyiapkan suatu tata kehidupan manusia yang baru.
Demikianlah kita melihat bagaimana peranan pendidikan di
dalam menata suatu masyarakat baru. Masyarakat baru yang
berdasarkan paradigma baru, akan dapat dipersiapkan melalui
proses pendidikan. Tidak berlebihan kiranya apabila pendidikan
dewasa ini, seluruh dunia dianggap sebagai pondasi dari membangun
masyarakat dunia baru.

Jumat, 03 Agustus 2012

PENILAIAN KUALITAS SUARA SERTA PENGAMATAN BENTUK ANATOMI SYRINX DUA SPESIES BURUNG BERNYANYI, KENARI (Serinus canaria Linn.) DAN ANIS MERAH (Zoothera citrina latham)


(Scoring of Voice Quality and Anatomical Performance of Two Species of
Canary Birds (Serinus canaria Linn and Zoothera citrina latham)
UCU JULITA1 dan LULU LUSIANTI FITRI2
1Pendidikan Biologi Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati, Jl. A. H. Nasution 8, Bandung
2Program Studi Biologi Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung, Labtek XI Jl. Ganesa 10, Bandung
ABSTRACT
Birds especially singing birds are animals that create the most voices compared to others animals. Every
species of bird has its own singing character and singing quality. The different singing charachteristic and
quality due to its ability to control the main voice organ (syrinx). There research was conducted from
November – December 2005 and March 2006 to record the singging quality and observ the syrinx anatomy of
Serinus canaria L. and Zoothera citrina at the house of the birds owners. There were 6 birds; 3 male adult of
S. Canaria (A, B, C between 25 – 28 months of age) and 3 male adult of Z. citrina (A, B, C between 48 – 72
months of age). The sound was analysed in the form of sonogram and oscillogram hrough a programof
Avisoft – sonograph and recorded at 08.00 – 11.00 a.m. Measured parametrs included: the length of voice,
repertoire size, number of syllable, syllable repertoire, song repertoire. Result showed that S. canaria B and
Z. citrina C were birds that had the best quality of voice.
Key Words: Singing Bird, Syllabel, Syrinx, Serinus canaria, Zoothera citrina, Sonogram, Oscillogra
ABSTRAK
Burung merupakan hewan yang paling banyak mengemisikan suara, terutama kelompok burung
bernyanyi. Setiap spesies burung bernyanyi memiliki karakteristik dan kualitas nyanyian yang berbeda-beda.
Peternak burung bernyanyi sebaiknya mengetahui perbedaan karakterisitk dan kualitas nyanyian tersebut
yang salah satunya dikarenakan oleh perbedaan kemampuan pengontrolan organ vokal utama atau syrinx
pada setiap individu burung. Melalui penelitian ini, penilaian kualitas nyanyian dan pengamatan bentuk
anatomi syrinx dua spesies burung bernyanyi (Oscines), burung kenari (Serinus canaria L.) dan burung anis
merah (Zoothera citrina), telah dilakukan selama bulan November – Desember 2005 dan Maret 2006 di
rumah beberapa pemilik burung dan peternakan lokal. Individu burung yang digunakan dalam penelitian
tahap penilaian kualitas nyanyian adalah sebanyak enam ekor, yang terdiri dari tiga ekor burung kenari jantan
dewasa (individu kenari A, B, dan C, kisaran umur 25 – 28 bulan) dan tiga ekor burung anis merah jantan
dewasa (individu anis merah A, B, C, kisaran umur 48 – 72 bulan). Penilaian kualitas nyanyian burung kenari
dan burung anis merah dilakukan dengan metode pencuplikan suara serta dianalisis dalam bentuk ’sonagram’
dan ’oscillogram’ melalui program Avisoft-Sonagraph. Pencuplikan suara dilakukan terhadap setiap individu
burung pada pagi hari dalam rentang waktu pukul 08.00 – 11.00 saat cuaca cerah. Parameter suara nyanyian
yang diukur meliputi: durasi nyanyian, repertoire size, jumlah tipe silabel (syllable) dalam satu nyanyian,
syllable repertoire, song repertoire dan kenaikan jumlah tipe silabel untuk setiap dua puluh nyanyian. Setelah
analisis suara selesai, dilakukan pengamatan bentuk anatomi syrinx terhadap satu ekor burung kenari jantan
dan satu ekor burung anis merah jantan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa burung kenari B dan burung
anis merah C merupakan individu burung yang berkualitas paling baik dibandingkan dengan dua individu
lainnya dalam satu spesies.
Kata Kunci: Burung Bernyanyi, Silabel, Syrinx, Kenari (Serinus canaria), Anis Merah (Zoothera citrina),
Sonagram, Oscillogram
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2007
784
PENDAHULUAN
Setiap spesies burung bernyanyi (Oscines)
memiliki karakteristik dan kualitas nyanyian
yang berbeda-beda (BRENOWITZ et al., 1997).
Perbedaan tersebut salah satunya dikarenakan
oleh perbedaan kemampuan dalam
pengontrolan organ vokal utama atau syrinx
pada setiap spesies burung (CATCHPOLE dan
SLATER,1995). Kriteria penilaian yang
ditetapkan oleh para juri kontes burung burung
bernyanyi untuk menentukan burung bernyanyi
berkualitas paling unggul cukup banyak
(TURUT, 2006), sehingga diperlukan alat bantu
yang dapat memudahkan mekanisme penilaian
secara objektif. Untuk memudahkan proses
analisis kualitas suara burung bernyanyi, baik
untuk kepentingan penjurian saat kontes
burung, peningkatan kualitas suara pada proses
pemeliharaan burung oleh peternak burung
bernyanyi ataupun untuk kepentingan ilmiah,
dapat digunakan serangkaian metoda ilmiah
yang salah satunya adalah dengan
menggunakan ‘spectrogram’ melalui perangkat
komputer. Melalui ‘spectogram’, karakteristik
suara yang diemisikan dapat dikenali dan
dihitung berdasarkan bentuk dan parameter
suara seperti frekuensi suara, elemen suara atau
silabel (’syllable’) dan durasi suara (FITRI,
2002). Dengan demikian, metode ’spectogram’
berguna untuk memberikan penilaian yang
objektif mengenai kualitas burung bernyanyi.
Mekanisme vokalisasi pada burung terjadi
karena adanya aktivitas koordinasi antara
proses respirasi, organ vokal utama syrinx dan
serangkaian jalur vokalisasi lainnya atau vocal
tract (SUTHERS et al., 1999; SUTHERS dan
MARGOLIASH, 2002; MCLELLAND, 1989).
Syrinx merupakan organ vokal utama yang
berperan dalam memproduksi berbagai
karakteristik nyanyian pada burung bernyanyi
(KING, 1989; FAGERLUND, 2003). Menurut
SUTHERS dan GOLLER (1997), suara dihasilkan
oleh dua jaringan yang lembut pada syrinx,
yaitu medial labia (ML) dan lateral labia (LL)
yang terletak di kedua sisi syrinx ketika terjadi
aliran udara dari paru-paru. Suara dihasilkan
ketika ML dan LL bergerak ke arah tengah
lumen syrinx. Organ syrinx terletak diatara
trakea dan bronkus, tersusun dari banyak
cincin-cincin kartilago, dan diantara cincin
kartilago terdapat membran tipis yang lentur
menghubungkan antar cincin kartilago yang
dapat merenggang sehingga bersifat fleksibel
(KING dan MCLELLAND, 1989). Bentuk
anatomi syrinx berhubungan erat dengan
kemampuan vokalisasi burung bernyanyi
dalam menghasilkan berbagai karakteristik
nyanyian (GAUNT, 1983).
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah
untuk melakukan penilaian kualitas suara dan
pengamatan bentuk anatomi syrinx dua spesies
burung bernyanyi, yaitu burung kenari (Serinus
canaria) dan burung anis merah (Zoothera
citrina). Kedua spesies burung tersebut
termasuk spesies burung bernyanyi yang
banyak diminati, karena memiliki karakteristik
suara yang khas.
MATERI DAN METODE
Penelitian ini dilakukan pada enam ekor
burung bernyanyi, yang terdiri dari tiga ekor
burung kenari jantan dewasa (individu kenari
A, B, dan C, kisaran umur 25 – 28 bulan) dan
tiga ekor burung anis merah jantan dewasa
(individu anis merah A, B, C, kisaran umur 48-
72 bulan). Penilaian kualitas nyanyian
dilakukan dengan metode pencuplikan suara
serta analisis suara dalam bentuk sonagram
dan oscillogram melalui program Avisoft-
Sonagraph Pro (SPECHT, 1996). Pencuplikan
suara dilakukan pada pagi hari dalam rentang
waktu pukul 08.00 – 11.00 selama bulan
November – Desember 2005 dan Maret 2006
saat cuaca cerah hingga diperoleh ± 200
cuplikan nyanyian dari setiap individu burung.
Pencuplikan suara dilakukan melalui alat
perekam suara SONY TCM-40DV berikut
built-in microphone yang diletakkan di atas
sangkar. Parameter suara nyanyian yang diukur
meliputi: durasi nyanyian, repertoire size,
jumlah tipe silabel (syllable) dalam satu
nyanyian, syllable repertoire, song repertoire
dan kenaikan jumlah tipe silabel untuk setiap
dua puluh nyanyian. Setelah analisis suara
selesai, dilakukan pengamatan bentuk anatomi
syrinx terhadap satu ekor burung kenari jantan
dan satu ekor burung anis merah jantan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil analisis suara dan
analisis statistik diketahui bahwa burung kenari
B memiliki rerata durasi nyanyian, rerata
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2007
785
jumlah tipe silabel dalam satu nyanyian, rerata
repertoire size (Gambar 1), dan syllable
repertoire (Gambar 3a) yang lebih tinggi dari
pada burung kenari A dan burung kenari C.
Keempat parameter suara tersebut turut
menentukan karakteristik irama nyanyian
burung kenari. Tingginya nilai setiap parameter
pada burung kenari B memenuhi persyaratan
penilaian burung bernyanyi yang berkualitas
dalam sistem penjurian kontes seni suara
burung bernyanyi.
Karakteristik khas dari nyanyian burung
kenari jantan berkualitas adalah memiliki
durasi yang panjang dengan laju repetisi silabel
yang tinggi yang juga menentukan repertoire
size. Karakteristik khas tersebut lebih banyak
diemisikan untuk menarik pasangannya (mate
attraction) saat musim kawin dan untuk
kepentingan mempertahankan daerah
kekuasaan (territory defence) (LEITNER dan
CATCHPOLE, 2004). Menurut HARTLEY dan
SUTHERS (1989), burung kenari jantan
berkualitas mampu memproduksi nyanyian
dengan laju repetisi yang tinggi karena
kemampuan organ syrinx dan organ dari sistem
pernafasan untuk melakukan (1) mekanisme
mini-breaths, yaitu inspirasi dalam waktu yang
sangat singkat yang berlangsung antar silabel
dalam satu phrase atau dalam satu nyanyian
total atau (2) mekanisme pulsatile expiration,
yaitu menggetarkan udara ekspirasi secara
cepat jika laju repetisi silabel sangat tinggi.
Nyanyian berdurasi panjang dengan laju
repetisi silabel dan repertoire size yang tinggi
merupakan indikator kondisi fisik dan perilaku
burung kenari jantan berkualitas paling baik
menurut penilaian burung kenari betina
(VALLET et al., 1997), karena karakteristik
nyanyian tersebut sangat kompleks dan sulit
untuk diproduksi (DRAGANOIU et al., 2002).
Burung kenari betina akan merespon
karakteristik nyanyian kompleks tersebut
dengan menunjukkan perilaku siap untuk
dikopulasi (copulation solicitation display)
(VALLET et al., 1997). Nyanyian burung kenari
jantan yang berisi repetisi silabel yang tinggi
dengan durasi panjang atau disebut sebagai
sexy syllable, mampu memancing dan
meningkatkan perilaku copulation solicitation
display burung kenari betina (LEITNER dan
CATCHPOLE, 2004).
Berdasarkan hasil analisis suara burung
anis merah diketahui bahwa individu burung
anis merah C memiliki rerata durasi nyanyian,
rerata jumlah tipe silabel dalam satu nyanyian,
rerata repertoire size (Gambar 2), dan nilai
Gambar 1. Rerata durasi nyanyian (a), rerata jumlah tipe silabel dalam satu nyanyian (b), dan rerata
repertoire size (c) burung kenari
Huruf yang berbeda (a, b, c) pada parameter yang sama menyatakan perberbedaan nyata pada selang
kepercayaan 95% (Uji Duncan, P < 0,05)
b
c
a
a
b
a
a
b
a
0
2
4
6
8
10
12
14
16
18
A B C
Individu
Durasi nyanyian (detik)
0
2
4
6
8
10
12
A B C
Individu
Jumlah tipe silabel per nyanyian
0
20
40
60
80
100
120
140
160
180
A B C
Individu
Repertoire size
(a) (b) (c)
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2007
786
Gambar 2. Rerata durasi nyanyian (a), rerata jumlah tipe silabel dalam satu nyanyian (b), dan rerata
repertoire size (c) burung anis merah
Huruf yang berbeda (a,b,c) pada parameter yang sama menyatakan berbeda nyata pada selang kepercayaan
95% (Uji Duncan, P < 0,05)
syllable repertoire (Gambar 3b) yang lebih
tinggi daripada kedua burung anis merah
lainnya. Keempat parameter suara tersebut
turut menentukan karakteristik irama nyanyian
burung anis merah. Lebih tingginya nilai setiap
parameter pada burung anis merah C
memenuhi syarat-syarat penilaian burung
bernyanyi berkualitas dalam sistem penjurian
kontes seni suara burung bernyanyi.
Berbeda dengan karakteristik nyanyian
burung kenari yang cenderung memiliki durasi
yang panjang, durasi nyanyian burung anis
merah cenderung pendek. Namun demikian,
salah satu karakteristik khas pada nyanyian
burung anis merah adalah memiliki durasi
antar nyanyian yang lebih singkat daripada
durasi antar nyanyian burung kenari.
Kemungkinan burung anis merah tidak
memiliki kemampuan melakukan mekanisme
mini-breaths seperti burung kenari, sehingga
karakteristik nyanyian yang diemisikan tidak
berupa laju repetisi silabel yang tinggi.
Nyanyian dengan nilai repertoire size yang
tinggi dapat menjadi indikator burung anis
merah jantan yang berkualitas karena semakin
banyak silabel yang diemisikan dalam satu kali
nyanyian memerlukan koordinasi sistem saraf,
sistem respirasi, dan otot syrinx yang lebih
kompleks yang harus didukung oleh energi
yang mencukupi (SUTHERS et al., 2004).
Nilai song repertoire dan syllable
repertoire menjadi komponen penting dalam
penilaian kualitas burung bernyanyi, karena
turut menentukan banyaknya variasi nyanyian
dan menunjukan kekayaan tipe suara yang
dapat diemisikan. Sedikit lebih tingginya nilai
syllable repertoire pada burung kenari B
dibandingkan dengan burung kenari A dan
burung kenari C (Gambar 3a), menunjukkan
bahwa burung kenari B merupakan individu
burung yang paling berkualitas. Banyaknya
tipe silabel total yang dimiliki oleh burung
bernyanyi bergantung pada tahapan proses
belajar yang dilalui (BRAINARD dan DOUPE,
2002).
Jika ditinjau dari parameter nilai song
repertoire, maka burung kenari C dapat pula
disebut sebagai burung yang berkualitas bila
dibandingkan kedua burung kenari lainnya.
Meskipun nilai syllable repertoire burung
kenari C lebih rendah daripada burung kenari
B, burung kenari C mampu mengkomposisikan
syllable repertoire tersebut lebih baik sehingga
dihasilkan variasi nyanyian yang lebih banyak.
0
2
4
6
8
10
12
14
16
18
A B C
Individu
a a
b
Repertoire size
0
1
2
3
4
5
6
7
A B C
Individu
a a
a
0
0,5
1
1,5
2
2,5
3
3,5
4
A B C
Individu
Durasi nyanyian (detik)
a a
b
Jumlah tipe silabel per nyanyian
(a) (b) (c)
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2007
787
Gambar 3. Song repertoire (SoRep) dan syllable repertoire (SylRep): (a) burung kenari; (b) burung anis
merah
Bila dibandingkan dengan burung kenari,
tipe silabel yang menyusun nyanyian burung
anis merah jauh lebih bervariasi. Tipe silabel
yang menyusun nyanyian sebelumnya jarang
diulang kembali pada nyanyian berikutnya,
sehingga nilai syllable repertoire burung anis
merah jauh lebih tinggi daripada burung
kenari, yaitu mampu mencapai 381 tipe silabel,
sementara burung kenari paling tinggi hanya
memiliki 27 tipe silabel dalam 200 nyanyian
yang dicuplik (Gambar 3b). Yang
menyebabkan perbedaan nilai syllable
repertoire antara burung anis merah dengan
burung kenari kemungkinan adalah perbedaan
kapasitas koordinasi antara sistem saraf, sistem
respirasi, dan otot syrinx pada kedua burung
tersebut (SUTHERS et al., 2004). Keterbatasan
motoris dan perbedaan koordinasi dari ketiga
sistem tersebut akan membentuk karakteristik
nyanyian khas spesies spesifik atau nyanyian
conspecific-nya (DRAGANOIU et al., 2002;
SUTHERS et al., 2004).
Pada grafik kenaikan jumlah tipe silabel
setiap dua puluh nyanyian burung kenari,
diketahui bahwa pemunculan tipe silabel yang
baru cenderung lebih sedikit dibandingkan
dengan kenaikan jumlah tipe silabel yang baru
setiap dua puluh nyanyian pada burung anis
merah (Gambar 4a dan 4b). Burung kenari
memiliki keterbatasan dalam memproduksi
variasi silabel yang banyak, meskipun
demikian dengan jumlah tipe silabel yang jauh
lebih sedikit daripada burung anis merah,
burung kenari tetap mampu memproduksi
variasi nyanyian yang sama tingginya dengan
variasi nyanyian anis merah. Hal tersebut
menunjukan bahwa burung kenari memiliki
kemampuan mengkomposisikan tipe silabel
yang lebih baik daripada burung anis merah.
Meskipun nilai syllable repertoire pada burung
anis merah jauh lebih tinggi daripada burung
kenari, kemampuan burung anis merah dalam
mengkomposisikan tipe silabel dalam
menyusun satu tipe nyanyian lebih rendah
daripada burung kenari.
0
25
50
75
100
125
150
175
200
A B C
Individu
SoRep SylRep
Jumlah
0
50
100
150
200
250
300
350
400
450
A B C
Individu
SoRep SylRep
Jumlah
(a) (b)
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2007
788
􀂃 (a)
Gambar 4. Kenaikan jumlah tipe silabel setiap dua puluh nyanyian: (a) burung kenari; (b) burung anis merah
Berdasarkan hasil pengamatan terhadap
anatomi syrinx burung kenari dan burung anis
merah diketahui bahwa anatomi syrinx kedua
spesies burung tersebut tampak berbeda.
Perbedaan anatomi tersebut diantaranya terlihat
pada ukuran panjang dan bentuk anatomi
eksternal kedua sisi syrinx. Ukuran panjang
syrinx burung kenari tampak lebih panjang
daripada burung anis merah, sedangkan bentuk
anatomi eksternal otot syrinx atau otot siringeal
burung kenari bagian ventral berupa massa otot
memanjang kemudian membulat pada bagian
bawah (Gambar 5a). Adapun bentuk anatomi
eksternal otot syrinx burung anis merah adalah
berupa massa otot yang membulat pada kedua
sisi syrinx bagian ventral tanpa ada lapisan otot
yang memanjang pada bagian atasnya seperti
pada burung kenari (Gambar 5b). Pada kedua
0
5
10
15
20
25
30
1---20 21-40 41-60 61-80 81-100 101-120 121-140 141-160 161-180 181-200
Kenari A Kenari B Kenari C
Jumlah tipe silabel
Nyanyian
(a)
0
50
100
150
200
250
300
350
400
450
1---20 21-40 41-60 61-80 81-100 101-120 121-140 141-160 161-180 181-200
Nyanyian
Anis A Anis B Anis C
Jumlah tipe silabel
(b)
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2007
789
Gambar 5. Bentuk anatomi syrinx: (a) burung kenari; (b) burung anis merah
individu burung tersebut, otot siringeal bagian
ventral tampak lebih tebal daripada bagian
dorsal.
Dilihat dari posisi organ syrinx, keduanya
termasuk tipe syrinx trakheobronkial yaitu
syrinx yang berada tepat pada percabangan
trakea. Tipe syrinx trakheobronkial merupakan
tipe umum dari burung bernyanyi atau burung
oscines (FAGERLUND, 2003). Tipe syrinx
tersebut mendukung tingkat kompleksitas
nyanyian yang diemisikan oleh kebanyakan
burung bernyanyi, karena terdapat dua sumber
suara yang dapat dikendalikan oleh otot
siringeal pada kedua sisi. Otot siringeal akan
mengatur emisi suara dengan cara mengatur
frekuensi dan volume keluaran udara ekspirasi
yang melewati organ syrinx yang berasal dari
bronkus kanan dan bronkus kiri (SUTHERS et
al., 1997).
Berdasarkan hasil pengamatan, juga
diketahui bahwa cincin-cincin kartilago yang
menyusun organ bronkus, syrinx, dan trakea
5 mm
Syrinx
bronkus
3,5 mm
trakea
cincin
kartilago
trakea
paru-paru
4 mm
syrinx
trakea
bronkus
4 mm
cincin kartilago
trakea
59 mm
paru-paru
(b)
(a)
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2007
790
burung anis merah tampak lebih besar serta
memiliki kerapatan antar cincin kartilago yang
lebih rendah atau tampak lebih renggang
dibandingkan dengan cincin kartilago pada
organ bronkus, syrinx, dan trakea burung
kenari. Dengan demikian, karakteristik anatomi
bronkus, syrinx, dan trakea burung anis merah
cenderung lebih lentur atau lebih fleksibel. Hal
tersebut kemungkinan berhubungan dengan
kemampuan burung anis merah dalam
mengemisikan karakteristik nyanyian dengan
jumlah tipe silabel yang banyak. Berbeda
dengan burung anis merah, burung kenari
memiliki cincin-cincin kartilago penyusun
organ syrinx, bronkus, maupun trakea yang
lebih kecil dan tersusun lebih rapat
dibandingkan dengan susunan cincin kartilago
pada organ syrinx, bronkus, dan trakea burung
anis merah, sehingga bersifat kurang lentur.
Hal tersebut kemungkinan berhubungan
dengan karakteristik nyanyian burung kenari
yang hanya mampu mengemisikan sedikit tipe
silabel. Namun demikian, burung kenari
memiliki kemampuan mengemisikan repetisi
silabel yang tinggi dengan durasi nyanyian
yang lebih panjang dibandingkan dengan
burung anis merah.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis terhadap keenam
parameter penilaian kualitas suara, diketahui
bahwa burung kenari B dan burung anis merah
C merupakan burung yang berkualitas paling
baik dibandingkan dengan dua individu lainnya
dalam satu spesies. Selain itu, berdasarkan
parameter syllabel repertoire dan song
repertoire diketahui bahwa karakteristik
nyanyian burung kenari dan burung anis
berbeda. Perbedaan tersebut menunjukkan
bahwa setiap spesies memiliki kemampuan dan
keterbatasan yang berbeda dalam
mengemisikan variasi silabel atau nyanyian.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa
penilaian kualitas burung bernyanyi
berdasarkan parameter yang sama tidak dapat
dilakukan pada spesies burung bernyanyi yang
berbeda-beda, atau dalam aplikasinya, sistem
penjurian pada kontes kejuaraan burung
bernyanyi kelas campuran tidak dapat
dilakukan secara objektif.
Berdasarkan pengamatan terhadap bentuk
anatomi syrinx yang merupakan organ vokal
utama pada burung bernyanyi, dapat
disimpulkan bahwa bentuk anatomi syrinx
burung kenari dan burung anis merah berbeda.
Perbedaan tersebut berhubungan pula dengan
perbedaan karakteristik nyanyian yang
diemisikan oleh masing-masing spesies.
DAFTAR PUSTAKA
BRAINARD, M.S. dan A.J. DOUPE. 2002. What
Songbirds Teach Us About Learning.
Macmillan Magazine Ltd, California, USA.
BRENOWITZ, E.A., D. MARGOLIASH dan K.W.
NOORDEEN. 1997. An Introduction to Birdsong
and the Avian Song System. John Wiley dan
Sons, Inc. pp. 495 – 501.
CATCHPLE, C.K. dan P.J.B. SLATER. 1995. Bird Song:
Biological Themes and Variations. Cambridge
University Press, Cambridge.
DRAGANOIU, T.I., L.NAGLE dan M. KREUTZER. 2002.
Directional Female Preference for an
Exaggerated Male Trait in Canary (Serinus
canaria) Song. Proc. R. Soc. Lond. B. 269:
2525 – 2531.
FAGERLUND, S. 2003. Acoustics and Physical Models
of Bird Sounds. Laboratory of Acoustics and
Audio Signal Processing, pp. 1 – 13.
FITRI, L.L. 2002. Panduan Singkat Perekaman dan
Analisa Suara Burung. Departemen Biologi,
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam. Institut Teknologi Bandung.
GAUNT, A.S. 1983. A Hypothesis Concerning The
Relationship of Syringeal Structure to Vocal
Abilities. Auk 100: 853 – 862.
HARTLEY, R.S. dan R.A. SUTHERS. 1989. Airflow
and Pressure During Canary Song: Direct
Evidence for Mini-Breaths. J. Comp. Physiol.
A. 165: 15 – 26.
KING, A.S. 1989. Functional Anatomy of Syrinx. In:
Form and Function in Birds. Vol. 4. KING,
A.S. dan J. MCLELLAND (Eds.). Academic
Press, London.
LEITNER, S. dan C.K. CATCHPOLE. 2004. Syllable
Repertoire and the Size of the Song Control
System in Captive Canaries (Serinus canaria).
Wiley Periodicals, Inc. pp. 21 – 26.
MCLELLAND, J. 1989. A Colour Atlas of Avian
Anatomy. Wolfe Publishing Ltd, England.
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2007
791
SPECHT, A.R. 1996. Avisoft-Sonagraph Pro. User’s
Guide Version 2.7. Sound Analysis Software
for MS-Window.
SUTHERS, R.A. 1997. Peripheral Control and
Lateralization of Birdsong. J. Neurobiol. 33:
632 – 652.
SUTHERS, R.A. dan F. GOLLER. 1997. Motor
Correlates of Vocal Diversity in Songbirds.
Current Ornithology. 14: 235 – 288.
SUTHERS, R.A., F. GOLLER dan C. PYTTE. 1999. The
Neuromuscular Control of Bird Song. Phil.
Trans. R. Soc. 354: 927 – 939.
SUTHERS, R.A., VALLET, E., A. TANVEZ dan M.
KREUTZER. 2004. Bilateral Song Production in
Domestic Canaries. Wiley Periodicals, 1nc.
pp. 381 – 393.
SUTHERS, R.A. dan D. MARGOLIASH. 2002. MOTOR
CONTROL OF BIRDSONG. CURR. OPIN.
NEUROBIOL. 12: 684 – 690.
TURUT, R. 2006. Mencetak Kenari Unggul. Penebar
Swadaya, Jakarta.
VALLET, E., I. BEME dan M. KREUTZER. 1997. Twonote
Syllable in Canary Songs Elicit High
Levels of Sexual Display. An. Behav. SS. 55:
291 – 297.

khasiat daun mint

daun mint

daun mint seringkali digunakan berbagai jenis produk, mulai dari makanan,
minuman, ataupun produk kecantikan. rasa dingin yang dihasilkan bisa
memberikan efek nyaman dan dapat menghangatkan tubuh. macam-macam daun
mint yaitu spearmint, peppermint, applemint, dan curlymint.
daun mint memiliki aroma wangi dan mengeluarkan cita rasa dingin. daun mint
bermanfaat untuk mengurangi sistem pencernaan, mengatasi mual dan sakit
kepala, melegakan gangguan pernafasan, membantu mengurangi sakit asma,
untuk menghaluskan kulit, infeksi, gatal-gatal, dan jerawat, mengatasi kuman dan
menghambat pertumbuhan bakteri dalam mulut.
kandungan yang ada dalam daun mint selain minyak menthol yang dapat
memberikan sensasi dingin, antara lain adalah mengandung vitamin C dan vitamin
A, potassium, zat besi, fosfor, kalsium, fitonutrien, dan klorofil.

Khasiat SANGITAN

Khasiat SANGITAN  (Sambucus javanica Reinw)

SANGITAN

(Gambar dari http://tanamanherbal.wordpress.com/2007/12/16/sangitan/)
Berkhasiat untuk mengobati :
 Nephritic edema dan beri-beri
Cuci bersih 50 gram tanaman, lalu potong-potong menjadi bagian
yang lebih kecil. Rebus dengan 3 gelas air sampai mendidih dan
tersisa 1 gelas. Saring hasil rebusan setelah dingin dan minum
sekaligus.
 Sakit kuning
Ambil dan cuci bersih 45 gram akar sangitan kering atau 90 gram akar
sangitan segar. Potong kecil-kecil akar, lalu tambahkan daging sapi.
Tim bahan tersebut. Setelah dingin, minum air ramuan dan makan
dagingnya.
 Bengkak terpukul dan tulang patah
Cuci bersih 20 gram tanaman kering atau 40 gram akar tanaman
segar, lalu potong-potong menjadi bagian yang lebih kecil. Rebus akar
dengan 400 cc air dan 2 sloki arak putih sampai mendidih dan tersisa
separuhnya. Tambahkan 30 gram gula pasir dan aduk rata. Saring
hasil rebusan setelah dingin dan minum 2 kali sehari, masing-masing
100 cc.
 Disentri
Cuci bersih 50 gram batang dan daun tanaman kering (setara 100
gram segar). Setelah dipotong-potong menjadi bagian yang lebih kecil,
rebus bahan dengan 3 gelas air sampai mendidih dan tersisa 1 gelas.
Saring hasil rebusan setelah dingin dan minum sekaligus.
 Rematik kronis, sakit pinggang, dan bengkak
Ambil 30 gram akar tanaman kering (setara dengan 60 gram segar),
lalu cuci bersih dan potong kecil-kecil. Rebus bahan dengan 3 gelas air
sampai mendidih dan tersisa 1 gelas. Saring hasil rebusan setelah
dingin dan minum 1 kali sehari, masing-masing 1 gelas. Untuk obat
luar, daun segar secukupnya dicuci dan ditumbuk halus. Tambahkan
air ke dalam ramuan dan tempelkan pada bagian tubuh yang sakit.
 Rubella (campak jerman)
Cuci bersih 1 pohon tanaman, lalu potong menjadi bagian yang lebih
kecil. Rebus bahan dalam 3 liter air sampai mendidih. Tambahkan air
dan gunakan selagi hangat untuk mandi.
 Radang saluran napas kronis (bronchitis kronis)
Cuci bersih 50 gram batang dan daun kering atau setara 100 gram
segar. Kemudian, rebus dengan 3 gelas air sampai mendidih dan
tersisa 1 gelas. Saring hasil rebusan setelah dingin dan minum
sekaligus.
 Kram, kejang pada kaki, dan sakit pada tulang bronchitis kronis
Cuci bersih 50 gram batang dan daun kering atau 100 gram segar.
Rebus batang dan daun dengan 3 gelas air sampai mendidih dan
tersisa 1 gelas. Saring hasil rebusan setelah dingin dan minum
sekaligus.
 Patah tulang
Cuci bersih 50 gram akar sangitan kering atau 100 gram segar. Potong
akar menjadi bagian yang lebih kecil, lalu rebus dengan 3 gelas air
sampai tersisa 1 gelas. Dinginkan, lalu saring ramuan. Minum ramuan
yang telah dingin sekaligus.
Catatan :
Wanita hamil dilarang mengkonsumsi ramuan berbahan baku sangitan
karena akan menyebabkan kematian pada janin.
source : http://seafast.ipb.ac.id -
Prof.Dr. Ervizal A.M. Zuhud
Sumarto, STP, MP
Elly Haryati, SAP
Lira Felanesa, STP
Ria Choriatul Nur, Amd

Khasiat Cabe

Cabe merupakan salah satu bumbu dasar untuk penyedap rasa masakan,
umumnya berwarna merah menyala atau hijau tua. Jika cabe dibelah, maka kita akan menemukan tangkai
putih di dalamnya yang mengandung zat capsaicin yang seperti minyak dan menyengat sel-sel pengecap
lidah. Zai inilah yang mengakibatkan cabe menjadi pedas dan panas di lidah ketika kita mengkonsumsinya.
Tapi zat ini jugalah yang membuat orang ketagihan dan kecanduan saat menyantap makanan. Namun, dibalik
sensasi rasa pedasnya terdapat berjuta manfaat dan kandungan gizi yg belum kita ketahui sebelumnya. Selain
berkhasiat untuk meningkatkan nafsu makan juga memiliki manfaat lain untuk tubuh. Contohnya, pada cabe
rawit yang rasa pedasnya luar biasa, ternyata mengandung vitamin C dan betakaroten (provitamin A) yang
konon dapat mengalahkan kandungan pada buah-buahan seperti mangga, nanas, papaya atau semangka.
Bahkan menurut penelitian, kadar mineralnya, terutama kalsium dan fosfor mengungguli ikan segar.
Sebetulnya di antara jenis-jenis cabai lainnya, paprika merah memiliki kandungan vitamin C yang paling
tinggi, hingga dua kali lipat. Sementara kadar betakarotennya pun lebih unggul dibandingkan dengan
paprika hijau, 9 kali lebih besar. Sebagian besar kandungan betakaroten paprika terkonsentrasi pada bagian di
dekat kulit. Adapun manfaat cabe yang lainnya yaitu : 1. Penyembuh Luka Jika jari Anda secara tidak
sengaja teriris pada saat memasak, pada umumnya Anda akan mencari obat merah untuk menyembuhkannya.
Namun walaupun Anda telah member obat merah pada luka, rasa sakit/nyeri tetap saja berasa kuat. Alternatif
obat merah yang tidak hanya mencegah infeksi tapi juga segera meredakan rasa nyeri dan pendarahan
sehingga mempercepat proses penyembuhan adalah cabe merah. Caranya, adalah cabe merah dikeringkan
kemudian ditumbuk sampai halus. Setelah itu ditaburkan pada luka-luka. Bubuk cabai tersebut tidak akan
membuat perih luka Anda. Justru sebaliknya, cabe akan menghentikan dengan cepat nyeri dan pendarahan
yang ada. Ini disebabkan karena adanya zat capsaicin pada cabe merah yang menghilangkan rasa sakit. 2.
Pereda Demam Tinggi Dibandingkan dengan pengobatan konvensional, mengatasi demam tinggi dengan cabe
merupakan solusi alternatif yang mudah, murah dan cepat. Tapi yang dugunakan bukan buah cabenya tapi
daunnya. Caranya, pertama ambil segenggam daun cabai rawit, lalu tumbuk sampai halus. Tambahkan 1
sendok minyak selada dan campurkan kedua bahan ini sampai rata. Setelah itu tempelkan ramuan pada
ubun-ubun atau dibalurkan pada seluruh badan. Selimuti badan penderita dengan selimut yang tebal. Tak
berapa lama, badan akan mengeluarkan keringat, sehingga panas badan akan menurun dengan cepat. 3.
Meredakan pilek dan hidung tersumbat Karena cabe mengandung zat capsaicin yang dapat mengencerkan
lender, sehingga lendir yang tersumbat dalam rongga hidung akan menjadi encer dan keluar. Akibatnya,
hidung menjadi tidak tersumbat lagi. Ini berlaku pada sinusitis dan juga batuk berdahak. 4. Mencegah Stroke
Cabe dapat memperkecil risiko terserang stroke, penyumbatan pembuluh darah, impotensi, dan jantung
koroner. Karena, dengan mengkonsumsi capsaicin secara rutin darah akan tetap encer dan kerak lemak pada
pembuluh darah tidak akan terbentuk. Sehingga, darah akan mengalir dengan lancar. Jadi, cabe juga
berkhasiat mengurangi terjadinya penggumpalan darah (trombosis). 5. Meringankan sakit kepala dan nyeri
sendi Pernah dengar kan nasihat kalau pusing, makan yang pedas-pedas? Nasihat itu ada benarnya karena
rasa pedas yang ditimbulkan capsaicin dapat menghalangi aktivitas otak ketika menerima sinyak rasa sakit
dari pusat sistem saraf. Terhambatnya perjalanan sinyal ini akan mengurangi rasa sakit yang kita derita.
Selain itu cabe berkhasiat juga untuk meredakan migrain 6. Meningkatkan nafsu makan Karena capsaicin
dapat merangsang produksi hormon endorphin, hormon yang mampu membangkitkan rasa nikmat dan
kebahagiaan. Sehingga, nafsu makan menjadi bertambah. 7. Menurunkan kadar kolesterol dan sebagai
antibiotik alami 8. Memiliki kandungan antioksidan Yang dapat digunakan untuk mengatasi ketidaksuburan
(infertilitas), afrodisiak, dan memperlambat proses penuaan

source: http://all-mistery.blogspot.com

Khasiat Tempe

Khasiat Tempe
Siapapun pasti kenal tempe. Makanan ekonomis yang selalu ada di setiap menu makanan kita. Namun tak
banyak orang tahu khasiat di balik makanan yang rasanya yang lezat, harganya murah dan mudah didapat
ini.Tempe sering dijumpai di rumah maupun di warung-warung, sebagai lauk dan pelengkap hidangan. Tapi
tempe tenyata bukan hanya sekedar makanan sederhana. Tempe memiliki kandungan dan nilai cerna yang
lebih baik dibandingkan dengan kedelai.Tempe adalah makanan hasil fermentasi antara kedelai dengan jamur
Rhizopus Oligosporus.Pada tempe terjadi peningkatan nilai gizi kurang lebih 2 kali lipat setelah kedelai
difermentasi menjadi tempe, seperti kadar vitamin B2, vitamin B12, niasin, dan asam pantorenat. Bahkan
hasil analisis, gizi tempe menunjukkan kandungan niasin sebesar 1.13 mg/100 gram berat tempe yang dapat
dimakan.Karena kadar niasin pada kedelai hanya berkisar 0,58 mg, tempe, dapat dikonsumsi dalam tiga
bentuk utama.Sepotong tempe mengandung berbagai unsur bermanfaat, seperti karbohidrat, lemak, protein,
serat, vitamin, enzim, daidzein, genisten, serta komponen antibakteri bermanfaat untuk kesehatan. Oleh
karena itu, Tempe disebut makanan segala umur, karena sangat baik untuk diberikan kepada bayi hingga
lansiaSebagai Pencegah Anemia &amp; OsteoporosisTempe dipercaya bermanfaat untuk mencegah anemia
dan osteoporosis, dua penyakit yang banyak diderita wanita, sebab kodrat wanita yang harus mengalami haid,
hamil serta menyusui bayi.
Penyakit anemia ini dapat menyerang wanita yang malas makan, karena takut gemuk, sehingga persediaan
dan produksi sel-sel darah merah dalam tubuh yang menurun.
Tempe juga dapat berperan sebagai pemasok mineral, vitamin B12 (yang terdapat pada pangan hewani), dan
zat besi yang sangat dibutuhkan dalam pembentukan sel darah merah. Selain itu, tempe juga dapat
menurunkan kadar kolesterol dalam darah. Senyawa protein, asam lemak PUFA, serat, niasin, dan kalsium di
dalam tempe dapat mengurangi jumlah kolesterol jahat.Mencegah Kanker Payudara dan PenuaanDi dalam
tempe juga ditemukan suatu zat antioksidan dalam bentuk isofalvon. Seperti halnya vitamin C, E dan
karotenoid, isoflavon merupakan antioksidan yang sangat dibutuhkan tubuh untuk menghentikan reaksi
pembentukan radikan bebas. Dalam kedelai terdapat tiga jenis isoflavon, yaitu daidzein, glisitein, dan
genistein. Pada tempe, di samping ketiga jenis isoflavon tersebut juga terdapat antioksidan faktor II (6,7,4
trihidroksi isoflavon) yang mempunyai sifat antioksidan paling kuat dibandingkan dengan isoflavon dalam
kedelai.Penelitian yang dilakukan di Universitas North Carolina, Amerika Serikat, menemukan bahwa
genestein dan phytoestrogen yang terdapat pada tempe ternyata dapat mencegah kanker prostat, payudara dan
penuaan (aging).Antioksidan ini disentesis pada saat terjadinya proses fermentasi kedelai menjadi tempe oleh
bakteri Micrococcus leteus dan Coreyne bacterium.Menghambat proses penuaan dini pada wanitaSelain
kegunaan isoflavon diatas, ternyata zat anti oksidan yang satu ini juga terbukti mampu menghambat proses
penuaan dini khususnya untuk wanita menjelang masa menapause. Hal ini diperkuat dengan riset yang
dilakukan staf pengajar Fakultas Kedokteran Undip Semarang, Dr dr Prasetyowati SpKK yang menguji
sekitar 30 responden wanita yang diminta mengkonsumsi kapsul berisi ekstrak isoflavon kedelai tempe
selama tiga bulan.Dari hasil yang dicatat, ternyata kulit mereka lebih kenyal dibandingkan dengan responden
yang tidak diberi ekstrak isoflavon.Menurut Prasetyowati hormon ekstrogen dalam isoflavon kedelai bisa
menghambat penuaan. Selain itu mengonsumsi kedelai untuk menjaga kecantikan selain murah juga aman,
dibanding bahan kimiawi yang menjanjikan hasil cepat namun beresiko.Wanita paruh baya setiap hari paling
tidak membutuhkan 50-100 miligram isoflavon. Bila setiap 60 gram tempe mengandung 10 mg isoflavon,
maka perempuan pada usia senja harus lebih banyak mengonsumsi tahu dan tempe.Ia menambahkan khasiat
isoflavon bukan hanya berguna bagi wanita, namun mengkonsumsi makanan mengandung isoflavon bisa
mencegah kanker prostat pada pria.Jadi, wanita dan pria yang memasuki usia 40 tahuan, disarankan lebih
banyak makan tahu dan tempe atau buah bengkoang yang juga kaya akan isoflavon.Manfaat Tempe antara
Page 1
Khasiat Ajaib Tempe
lain :1. Protein yang terdapat dalam tempe sangat tinggi, mudah dicerna sehingga baik untuk mengatasi
diare.2. Mengandung zat besi, flafoid yang bersifat antioksidan sehingga menurunkan tekanan darah.3.
Mengandung superoksida desmutase yang dapat mengendalikan radikal bebas, baik bagi penderita jantung.4.
Penanggulangan anemia. Anemi ditandai dengan rendahnya kadar hemoglobin karena kurang tersedianya zat
besi (Fe), tembaga (Cu), Seng (Zn), protein, asam folat dan vitamin B12, di mana unsur-unsur tersebut
terkandung dalam tempe.5. Anti infeksi. Hasil survey menunjukkan bahwa tempe mengandung senyawa anti
bakteri yang diproduksi oleh karang tempe (R. Oligosporus) merupakan antibiotika yang bermanfaat
meminimalkan kejadian infeksi.6. Daya hipokolesterol. Kandungan asam lemak jenuh ganda pada tempe
bersifat dapat menurunkan kadar kolesterol.7. Memiliki sifat anti oksidan, menolak kanker.8. Mencegah
masalah gizi ganda (akibat kekurangan dan kelebihan gizi) beserta berbagai penyakit yang menyertainya, baik
infeksi maupun degeneratif.9. Mencegah timbulnya hipertensi10. Kandungan kalsiumnya yang tinggi, tempe
dapat mencegah osteoporosis.
(Syahidah/dbs)
Semoga bermanfaat.
source :http://www.voa-islam.com/

macam-macam Khasiat Tanaman Herbal

DAUN DEWA
Khasiat: Menurunkan Kadar Gula Darah Terlambat Haid Penurun Panas Tumor Batuk dan Muntah Darah
Pembengkakan Payudara Kejang pada Anak Pendarahan Pada Wanita Masuk Angin Menghilangkan Bekuan
Darah di Pembuluh Darah Mencegah Stroke Dan Serangan Jantung Pencegahan Liver Dan Liver Ringan
Kanker Rheumatik Ginjal
KUNYIT
Khasiat: Demam Diare Dispepsia Keputihan Radang Amandel Radang Usus Buntu Tekanan Darah Tinggi
Terlambat Haid Hepatitis Sakit Kuning Radang Gusi
BATRAWALI
Khasiat: Membersihkan Dan Menguatkan Darah Anti Malaria Anti Radang Menyembuhan Luka Dan Penyakit
Kulit Menurunkan Gula Darah Menurunkan Panas Mengatasi Alergi Gatal-Gatal Jerawat Dan Menghaluskan
Kulit
DAUN SENDOK
Khasiat: Mematikan Kuman Peluruh Kencing Wasir Keputihan Gula Kencing Batu Sakit Kuning Disentri
Batu Empedu Radang Saluran Nafas Gangguan Saluran Air Kemih Batuk Sesak Batuk Darah Batuk Kering
Nyeri Otot Obat Kuat Laki-Laki
DAUN SALAM
Khasiat: Menrunkan Tekanan Darah Tinggi Menurunkan Kolesterol Membersihkan Darah Diabetes Panas
Dalam Maag Diare
BENALU TEH
Khasiat: Membantu Proses Penyembuhan Kanker Sakit Pinggang Sakit Ginjal Menurunkan Tekanan Darah
Tinggi Tumor kencing Manis Peluruh Cacing Pereda Demam Anti Radang
SIRIH MERAH
Khasiat: Diabetes Melitus Batu Ginjal Hepatitis Radang Liver Menurunkan Kolesterol Mencegah Stroke
Asam Urat Hypertensi Radang Prostat Radang Mata Keputihan Maag Kelelahan Nyeri Sendi Memperhalus
Kulit Ambeian
KAYU RAPET
Khasiat: Nyeri Rahim Sehabis Bersalin Disentry Luka Mengurangi Kadar Resiko Penyakit Jantung Koroner
Anti Oksidan Mengurangi Kandungan Kolesterol Serta Mengurangi Penumbuhan Lemak Pada Dinding
Pembuluh Darah
PASAK BUMI
Khasiat: Melindungi Organ Hati Dan Kerusakan Hati Meningkatkan Gairah Seksual Bagi Pria Sebagai
Tonikum Untuk Ibu Melahirkan Pembengkakan Kelenjar Demam Disentry Anti Malaria Sitotoksin
(Peracunan Sel)
TEMU PUTIH
Khasiat: Kanker Serviks Kanker Mulut Rahim Kanker Kulit Kanker Vulva Kista Mioma Tumor Nyeri Haid
Tidak Datang Haid Pembesaran Hati Dan Limpa Meningkatkan Efektivitas PengobatanRadiasi Dan
Kemoterapi Pada Penderita Kanker
PRONOJIWO
Khasiat: Sebagai aphrosidiak mengatasi impotensi dan meningkatkan kemampuan seksual
CAKAR AYAM
Khasiat: Melancarkan Peredaran Darah Anti Kanker Anti Racun Anti Bengkak Perut Busung Menghentikan
Pendarahan Batuk Radang Paru-paru dan Amandel Infeksi Saluran Nafas Dan Saluran Kencing Tulang
Page 1
KHASIAT 40 TANAMAN HERBAL
PatahHepatitis Kanker Rahim Kanker Paru-paru Kanker Nasopharynx Bronchitis Pengecilan Hati
TAPAK LIMAN
Khasiat: Menambah Darah Merah Peluruh Haid Mempercepat Pengeluaran Nanah Anti Radang Membunuh
Kuman Menghilangkan Bengkak Peluruh Kencing Peluruh Dahak Menetralkan Racun KeputihanMalaria
Cacar Air Perut Kembung Influenza Beri-Beri Hepatitis Radang Amandel Tenggorokan Dan Mata Influenza
Demam Disentri Diare
BARUCINA
Khasiat: Sangat baik utk menyuburkan kandungan mempermudah persalinan mencegah keguguran mens sakit
atau tak lancar penderita kista rahim. Herbal ini juga digunakansecara sinergis dgn herba lain utk mencegah
dan mengobati berbagai macam penyakit.
JOMBANG
Khasiat: Mengobati radang payudara radang kandung empedu tumor pada sistem pencernaan kanker payudara
paru dan cervic serta memperbanyak ASI.
SIRIH PINANG
Khasiat: Pelangsing Menghilangkan Bau Badan Keputihan Sari Rapet Sariawan Membersihkan Dan
Mengharumkan Vagina Menciutkan Selaput Lendir
PURWOCENG
Khasiat: Mengatasi Disfungsi Ereksi. Membangkitkan Hormon Seksual Impotensi Lemah Syahwat Kurang
Gairah Seksual Melancarkan Peredaran Darah MenambahStamina Menghangatkan Dan Menyehatkan Tubuh
Menyehatkan Kandungan Masuk Angin Pegal Linu Diabetes Antidiare Malaria
PEGAGAN
Khasiat: Meningkatkan Daya Ingat Mental Dan Stamina Memperkuat Dan Meningkatkan Daya Tahan Dan
Daya Rangsang Otak dan Saraf Memperlancar Transportasi Darah Pada Pembuluh-Pembuluh Otak Asma
Demam Darah Tinggi Kencing Keruh Bengkak Wasir Cacingan Thypus Ayan Lepra Menambah Nafsu Makan
Busung Sakit Kencing Sakit Perut Sakit Kepala Sakit Tenggorokan Keracunan Jengkol TBC Liver
Pembengkakan Hati Batuk Dan Muntah Darah Mimisan Batuk Asma Batuk Kering. Meningkatkan Sirkulasi
Darah Pada Lengan Dan Kaki Mencegah Varises Dan Salah Urat Menyeimbangkan energy level Serta
Menurunkan Gejala Stres Dan Depresi Menyembuhkan Infectious Hepatitis Campak (measles) Radang
Amandel (Tonsillitis) Bronchitis Infeksi Dan Batu Sistem Saluran Kencing Menyegarkan Kulit Radang
Amandel Menguatkan Fungsi Ginjal Melancarkan Kencing Menurunkan Panas Menenangkan Membantu
Peremajaan Sel-Sel
MIMBA
Khasiat: Kanker Tumor Lever Leukimia Maag Tekanan Darah Tinggi Kolesterol Membersihkan Darah
Mematikan Kuman Dan Parasit Mencegah Malaria Dan Kencing Manis Dysentri
KUNYIT PUTIH
Khasiat: Menurunkan Tekanan Darah Tumor Lever Asam Urat Menghilangkan Lelah Diabetes Keputihan
Membantu Fungsi Organ Hati Dan Limpa Membersihkan Darah Dan Menghilangkan Sumbatan Melancarkan
Peredaran Darah Dan Energi Anti Radang Perut Kembung Kolesterol Menghilangkan Nyeri Dan Tegang Pada
Perut Nyeri Haid Tidak Haid Membantu Proses Pengobatan Kanker Pada Alat Reproduksi Pencernaan Dan
Kulit MenambahStamina Menghambat Sel Kanker Dan Mencegah Kerusakan Gen
CIPLUKAN
Khasiat: Lemah Jantung Penurun Panas Menetralkan Racun Bronchitis Gula Ayan Gondongan Bisul Borok
Pembengkakan Prostat Batuk Rejan. Flu Sakit Tenggorokan
BANGLE
Khasiat: Sembelit Kegemukan Sakit Pinggang Nyeri Perut Cacing Kremi Encok Sakit Kuning Asma
Rheumatik
JATI BELANDA
Khasiat: Membantu Melangsingkan Badan Membakar Lemak Menurunkan Kadar Kolesterol Peluruh Keringat
Dan Melancarkan BAB
Page 2
KHASIAT 40 TANAMAN HERBAL
DAUN SEMBUNG
Khasiat:Melancarkan Sirkulasi Darah Dan Energi Menguatkan Jantung peluruh Keringat Anti Kencing Manis
Peluruh Dahak
SIDAGURI
Khasiat: Melindungi Organ Hati Jantung Dan Paru-Paru Asam Urat Membersihkan Keguguran Peluruh
Kencing Anti Radang Peluruh Cacing Mengurangi Rasa Sakit Asma Eksim Rheumatik Mengurangi Rasa
Nyeri Mengatasi Radang
MAHKOTA DEWA
Khasiat: Membantu Proses Penyembuhan Sakit Jantung Dan Darah Tinggi Membantu Mengatasi Kelemahan
Fungsi Organ Hati Limpa Dan Ginjal Melancarkan Peredaran Darah Dan Energi Membantu
PenyembuhanHepatitis Radang Ginjal Mengurangi Nyeri Dan Menenangkan Kanker Tumor Asam Urat
Rheumatik Diabetes
SAMBILOTO
Khasiat: Menghilangkan Lelah Typus TBC Paru-Paru Batuk Rejan Kencing Nanah Menambah Nafsu Makan
Sakit Gigi Pegal Linu Rheumatik Anti Biotik Membantu Fungsi Organ Hati Membersihkan Racun Dalam
Darah Gula Darah Lemak Darah Kolesterol Penawar Bisa Anti Radang Menghilangkan Bengkak Menurunkan
Demam Membunuh Kuman Menguatkan Badan
TEMU HITAM
Khasiat: Menguatkan Rahim Menambah Selera Makan Menguatkan Badan Membersihkan Darah Peluruh
Cacing Peluruh Dahak Pendarahan Rahim Mencegah Rahim Melorot Setelah Melahirkan Membersihkan Nifas
JINTEN HITAM
Khasiat:Sakit Jantung Haid Tidak Lancar Memperkuat Lambung Ambeian Rematik Kolesterol Darah Tinggi
Anemia Asam Urat Radang Tenggorokan Migrain Gangguan Jantung Ginjal Liver Kencing Manis TBC Paru
&ndash; Paru Sesak Nafas Asma Insomnia Stroke Membantu Mengobati Kanker Membuang Racun Dalam
Tubuh
TEMULAWAK
Khasiat: Hepatitis Maag Asma Sembelit Menghilangkan Bau Badan Menambah Nafsu Makan Menguatkan
Dan Melindungi Organ Hati Menguatkan Daya Tahan Tubuh Dan Menambah Stamina Menguatkan
Pencernaan Menambah Darah Merah Membersihkan Darah Kolesterol Dan Lemak Darah
MENIRAN
Khasiat: Menguatkan Sistem Imun Dan Menekan Reaksi Imun Yang Berlebihan Membantu Fungsi Organ
Hati Dan Ginjal Menurunkan Panas Demam Disentri Hipertensi Membantu Mengatasi Radang Pembengkakan
Nyeri sendi Menghambat Pertumbuhan Virus Bakteri Dan Jamur
TAPAK DARA
Khasiat: Anti Kanker Menurunkan Tekanan Darah Menghentikan Pendarahan menenangkan Menyejukkan
Darah Stroke Kencing Manis
RUMPUT MUTIARA
Khasiat: Radang usus Buntu Sumbatan Saluran Sperma Infeksi Saluran Kemih Kanker Lymphosarcoma
Kanker Lambung Kanker Serviks Kanker Payudara Kanker Rektum Kanker Nasopharinx Hepatitis
Cholecytitis Radang Panggul
UMBI DEWA
Khasiat: Membersihkan Dan Menyejukkan Darah Membuyarkan Gumpalan Darah Menghentikan Pendarahan
Menurunkan Tekanan Darah Anti Radang Menghilangkan Nyeri Dan Bengkak Menghambat Sel Kanker
Tumor
MENGKUDU
Khasiat: Melancarkan Proses Metabolisme Tubuh Menenangkan Dan Menstabilkan Tekanan Darah Gula
Darah Dan Siklus Haid Menguatkan Pencernaan Sistim Pernafasan Daya Konsentrasi Seksualitas Anti Radang
Anti Nyeri Anti Kanker Kolesterol Lever Depresi Melangsingkan Dan Menghaluskan Kulit Asam Urat
Melancarkan Kencing Batuk Tumor Membantu Proses Penyembuhan Gangguan Jantung Limpa Paru-Paru
Page 3
KHASIAT 40 TANAMAN HERBAL
Usus Gula
DAUN TEMPUYUNG
Khasiat: Kencing Batu Infeksi Usus Buntu Disentri Wasir Menetralkan Racun Penurun Panas Peluruh Air
Seni Penghancur Batu Tekanan Darah Tinggi Radang Payudara Kandung Kemih Batu Empedu
KUMIS KUCING
Khasiat: Anti Radang Anti Syphilis Anti Kencing Manis Peluruh Kencing Menghilangkan Panas
Membersihkan Darah Sakit Pinggang Membantu Mengikis Batu Ginjal Mengatasi Bengkak Darah Tinggi
Infeksi Ginjal Dan Saluran Kencing Menurunkan Kadar Gula
DAUN UNGU
Khasiat: Wasir Sembelit Varises Menghentikan Pendarahan Melancarkan Peredaran Darah Melancarkan Haid
Bisul Dan Bengkak Payudara Kantung Empedu Berbatu Demam Membersihkan Perut
KEJI BELING
Khasiat: Peluruh Kencing Penghancur,
Author : SUWONDO source:www.google.com

Khasiat Air putih

Seribu Khasiat Air putih untuk Kesehatan Tubuh Kita Meski bergaul, terlibat amat erat setiap hari, tak urung banyak juga rahasia
keunggulan air yang terlewatkan, ternyata sobat lama kita ini amat banyak khasiatnya. Ternyata pula, ketergantungan kita
terhadap air tak sebatas pengusir rasa haus belaka. Mandi dua kali sehari dan cuci rambut paling telat tiga hari sekali sangat
dianjurkan pakar kesehatan dan kebugaran. Alasannya, sentuhan air bersih dengan tubuh membuat badan terasa segar dan
bugar kembali. Untuk menjaga kecantikan pun, kebersihan tubuh harus benar-benar diperhatikan; ditambah lagi minum air
putih 8 - 10 gelas sehari. Bahkan air juga banyak dimanfaatkan oleh para pemeluk agama dan aliran kepercayaan, misalnya
untuk air wudhu, air baptis, sarana mengusir roh jahat, dll. Sejak ratusan tahun sebelum Masehi bangsa Rowawi sudah
mengenal khasiat mandi, entah mandi susu atau berendam di kolam air bersih yang dilengkapi pancuran dan wewangian.
Tujuannya agar tubuh bersih, sehat, dan wangi. Spa yang kita kenal sekarang tak cuma dihubungkan dengan air, melainkan
juga dengan perawatan kecantikan, kesehatan jiwa-badan, serta kebugaran, yang menyertakan bahan-bahan atau cara
alami seperti perawatan wajah dan tubuh dengan aromaterapi, mandi rempah, body scrub, body wrap, pengaturan gizi, yoga,
meditasi. Namun konsep Spa itu sendiri asal-muasalnya hanya berkaitan dengan air. Istilah "spa" diambil dari bahasa Yunani
sante par aqua, artinya kesehatan melalui terapi air. Di Eropa budaya spa sudah berkembang pada abad XVII. Pada masa
itu sudah banyak orang berlibur untuk mencari sumber air mineral guna menanggulangi gangguan kesehatan. Tak usah
jauh-jauh, di daerah Kesultanan Yogyakarta juga masih terlihat peninggalan permandian Taman Sari tempat para putri
Keraton mandi untuk membersihkan diri agar terlihat lebih cantik. Air untuk Kesuburan Menurut para peneliti sebuah lembaga
riset trombosis di London, Inggris, jika orang selalu mandi dengan air dingin, peredaran darahnya akan membaik sehingga
tubuh terasa lebih bugar. Ditambahkan lagi bahwa mandi dengan air dingin akan meningkatkan produksi sel darah putih
dalam tubuh serta meningkatkan kemampuan seseorang terhadap serangan virus. Bahkan, mandi dengan air dingin di waktu
pagi dapat meningkatkan produksi hormon testosteron pada pria serta hormon estrogen pada wanita. Dengan demikian
kesuburan serta kegairahan seksual pun akan meningkat. Selain itu jaringan kulit membaik, kuku lebih sehat dan kuat, tak
mudah retak. Air juga diyakini dapat ikut menyembuhkan penyakit jantung, rematik, kerusakan kulit, penyakit saluran napas,
usus, penyakit kewanitaan, dll. Kini malah pelbagai macam pengobatan alternatif ditawarkan dengan cara kungkum
(berendam) di dalam air mengandung magnet, kadar garam tinggi, belerang atau zat kimia lain yang bisa meningkatkan
kesehatan. Katakanlah Ciater, sekitar 32 km utara Bandung, sudah lama dikenal masyarakat sebagai daerah wisata sejuk
dengan daya tarik tambahan, air panas alami. Mereka meyakini, air panas alami di sana dapat membantu mengobati
penyakit. Memang, berdasarkan penelitian, air panas Ciater mengandung bahan mineral aluminium cukup tinggi. Menurut
klasifikasi balneologi (ilmu yang mempelajari khasiat terapi mandi), air panas Ciater termasuk dalam kategori calcium
magnesium chloride sulfate thermomineral hypertherma dengan kandungan aluminium tinggi(38,5%) serta pH sangat asam
(2,45). Selain untuk pengobatan kulit, air Ciater efektif untuk pengobatan kelumpuhan, misalnya karena stroke. Pasalnya,
bisa membantu memperkuat kembali otot-otot dan ligamen serta memperlancar sistem peredaran darah dan sistem
pernapasan. Efek hidrostatik dan hidrodinamik air Ciater membantu menopang berat badan saat latihan berjalan. Sedangkan
efek panas menyebabkan pelebaran pembuluh darah, meningkatkan sirkulasi darah dan oksigenisasi jaringan, sehingga
mencegah kekakuan otot, menghilangkan rasa nyeri serta menenangkan pikiran. Kandungan ion-ion terutama khlor,
magnesium, hidrogen karbonat dan sulfat dalam air Ciater, membantu pelebaran pembuluh darah sehingga meningkatkan
sirkulasi darah. Selain itu pH airnya mampu mensterilkan kulit. Maklum saja, karena lingkungan yang sangat asam
kuman-kuman akan mati. Di Laut Mati, yang kadar garamnya paling tinggi sedunia, wisatawan pun dianjurkan berendam
untuk menyembuhkan pelbagai macam penyakit. Entah sampai di mana khasiatnya belum diteliti dengan jelas. Cipratan air
mancur pada tubuh pun akan terasa seperti pijatan, sehingga tubuh akan merasa lebih relaks. Para pakar pengobatan
alternatif bahkan menyatakan, bersentuhan dengan air mancur, berjalan-jalan di sekitar air terjun, atau sungai dan taman
dengan banyak pancuran, akan memperoleh khasiat ion-ion negatif. Ion-ion negatif yang timbul karena butiran-butiran air
yang berbenturan itu bisa meredakan rasa sakit, menetralkan racun, memerangi penyakit, serta membantu menyerap dan
memanfaatkan oksigen. Ion negatif dalam aliran darah akan mempercepat pengiriman paket oksigen ke dalam sel dan
jaringan. Mandi menggunakan shower di rumah pun mempunyai efek menghasilkan ion negatif. Di negara maju terapi air
juga sudah banyak dilakukan. Dua pakar asal Jerman, Vincenz Priesnitz dan Pastor Sebastian Kneipp, memanfaatkan air
hangat dan dingin. Semula pasien dimasukkan ke dalam bak air hangat agar berkeringat, kemudian dipindah ke bak air
dingin, lalu diminta pula untuk berjalan-jalan sebentar agar berkeringat lagi. Terakhir, pasien mandi lagi dengan air dingin.
Pertukaran suhu dari panas ke dingin inilah yang menjadi kunci rahasia pengobatan ini. Manfaatnya untuk menstabilkan kerja
jantung dan peredaran darah. Cara serupa sebenarnya juga sudah banyak dianjurkan oleh ahli pengobatan alternatif di
Indonesia. Caranya, mandi atau menyiram tubuh dengan air hangat, kemudian berendam sebentar dalam air dingin (bersuhu
18oC). Bahkan konon terapi ini bisa meningkatkan kesuburan pria maupun wanita. Ketegangan otot pun bisa dijinakkan
dengan mandi air hangat bersuhu sekitar 37oC. Selagi kaki terasa pegal kita sering dianjurkan untuk merendam kaki dengan
air hangat dicampur sedikit garam, maka pegal pun sirna. Ada lagi terapi unik, gabungan antara terapi air dan bunyi. Liquid
sound, dipraktikkan di Klinik Bad Sulza, Rhuringen, Jerman. Caranya, dengan kedua tangan disilangkan di belakang, tubuh
pasien diapungkan di permukaan air kolam dalam posisi telentang. Tubuhnya bisa terapung seperti di Laut Mati karena air
kolam tersebut mengandung garam 3%. Dalam posisi seperti itu telinga pasien yang terendam di dalam air bisa mendengar
dengan jelas alunan musik yang mengalun lewat beberapa pengeras suara, yang dipasang di dasar kolam. Jenis musiknya
atas pilihan pasien, kebanyakan yang lembut sehingga bisa menenangkan. Konon sehabis berendam, badan terasa enteng
dan segar. Pikiran pun bertambah terang. Banyak minum Tubuh pun Bugar Khasiat air tak berhenti pada soal mandi atau
berendam saja. Tidak kalah penting khasiat air putih bila diminum. Selain makanan, air sangat diperlukan oleh tubuh kita.
Seseorang yang kekurangan makan masih dapat bertahan sampai beberapa hari, tapi kekurangan air bisa berakibat fatal,
karena air merupakan bagian terbesar dari komposisi tubuh manusia. Dalam tubuh seorang pria dengan berat rata-rata 70
kg, menurut Dr. Elvina Karyadi, MSc, ahli gizi, kandungan air di dalam tubuhnya kira-kira 45 l. (Pada wanita, kandungan
airnya sedikit lebih rendah sebab komposisi lemak tubuhnya lebih besar.) Dari total kandungan air 45 l di atas, sekitar 30 l
terdapat dalam sel tubuh kita (intraseluler) sedangkan 15 l berada di luar sel (ektraseluler). Yang termasuk air di luar sel
adalah air dalam cairan otak, cairan mata dan hidung, termasuk juga cairan pada saluran pencernaan.
Menurut sumber lain, kandungan air dalam otak 83%, ginjal 82%, jantung 79%, paru-paru 80%, tulang 22%, dan darah 90%.
Bila kandungan air dalam masing-masing organ tersebut tetap dipertahankan sesuai kebutuhan, maka organ tersebut akan
tetap sehat. Sebaliknya bila menurun, fungsinya juga akan menurun dan lebih mudah terganggu oleh bakteri, virus, dll. Maka
bisa dibayangkan betapa besar peran air dalam tubuh kita.
Untunglah tubuh manusia mempunyai mekanisme dalam mempertahankan keseimbangan asupan air yang masuk dan yang
dikeluarkan. Rasa haus pada setiap orang merupakan mekanisme normal dalam mempertahankan asupan air dalam tubuh.
Air yang dibutuhkan tubuh kira-kira 2 - 2,5 l (8 - 10 gelas) per hari. Jumlah kebutuhan air ini sudah termasuk asupan air dari
makanan (seperti dari kuah sup, soto, dll), minuman seperti susu, teh, kopi, sirup dll. Selain itu, asupan air juga diperoleh dari
hasil metabolisme makanan yang dikonsumsi dan metabolisme jaringan di dalam tubuh.
Betapa penting asupan air setiap hari, juga bisa dilihat dari banyaknya air yang pasti dikeluarkan dari tubuh setiap hari
melalui beberapa mekanisme. Ada yang melalui air seni, tinja, keringat, dan juga melalui saluran pernapasan.
Jumlah air yang dikeluarkan tubuh melalui air seni sekitar 1 l/hari. Kalau jumlah tinja yang dikeluarkan pada orang sehat
sekitar 50 - 400 g/hari, kandungan airnya sekitar 60 - 90% bobot tinja atau sekitar 50 - 60 ml air sehari.
Sedangkan, air yang terbuang melalui keringat dan saluran napas dalam sehari maksimum 1 l, tergantung suhu udara
sekitar. Belum lagi faktor pengeluaran air melalui pernapasan. Seseorang yang mengalami demam, kandungan air dalam
napasnya akan meningkat. Sebaliknya, jumlah air yang dihirup melalui napas berkurang akibat rendahnya kelembapan udara
sekitarnya.
Tubuh kita akan menurun kondisinya bila kadar air menurun dan pengisian kurang cepat dilaksanakan. Jelas, karena ada
hubungan yang sangat erat antara kualitas dan kandungan air dalam tubuh dengan respons tubuh kita.
Dr. James M. Rippe, kardiolog dari AS menyarankan untuk minum paling sedikit 1 l lebih banyak dari apa yang dibutuhkan
rasa haus kita. Pasalnya, kehilangan 4% cairan saja akan mengakibatkan penurunan kinerja kita sebanyak 22%! Bisa
dimengerti bila kehilangan 7%, kita akan mulai merasa lemah dan lesu.
Semakin banyak kita melakukan aktivitas, air akan lebih banyak terkuras dari tubuh. Apalagi orang yang tinggal di negara
tropis di mana energi yang dikeluarkan lebih banyak. Sebab itu, para pakar kesehatan mengingatkan agar jangan hanya
minum bila terasa haus. Kebiasaan banyak minum, apakah sedang haus atau tidak, merupakan kebiasaan sehat!
Itu artinya, bekerja di ruang ber-AC pun menuntut kita untuk minum lebih banyak, sekalipun tidak merasa haus. Sebab, di
ruangan ber-AC kita akan lebih cepat mengalami dehidrasi. Bahwa banyak minum akan membantu kulit tidak cepat kering
penting diperhatikan tak hanya oleh mereka yang sehari-hari bekerja di ruang ber-AC, namun juga oleh mereka yang bekerja
dalam ruangan yang suhunya tidak tetap. Suhu naik turun menyebabkan kelembapan ruangan juga tidak menentu. Dengan
minum air akan membantu menetralisasikan pengaruh perubahan tersebut.
Air putih juga bersifat "menghanyutkan" kotoran-kotoran dalam tubuh yang akan lebih cepat keluar lewat urine. Bagi yang
ingin menguruskan badan pun, minum air hangat sebelum makan (sehingga merasa agak kenyang) merupakan satu cara
untuk mengurangi jumlah makanan yang masuk. Apalagi air tidak mengandung kalori, gula, ataupun lemak. Namun yang
terbaik adalah minum air putih pada suhu sedang; tidak terlalu panas, dan tidak terlalu dingin.
Menyadari betapa air amat menunjang kebugaran, kesehatan dan kecantikan tubuh, tak ada salahnya kita memelihara
persahabatan dengan sobat lama kita ini. Selama kita masih dapat menikmati khasiatnya, mari manfaatkan sebaik-baiknya. source : BENI FEBRIANSYAH

Tata Nama Senyawa Kompleks

Penamaan senyawa kompleks sebelum tahun 1930
1.Nama penemunya
(garam Magnus,senyawa Gmelin dan garam Zeise)
2.Warna
(biru prusia, kompleks luteo, kompleks praseo)
Penamaan senyawa kompleks

•Nama dan jumlah ligan yang ada serta nama atom pusat beserta tingkat oksidasinya

•Nama dan jumlah ligan, nama atom pusat serta muatan dari kompleks yang ada
3.1Penamaan Ligan(berdasarkan muatannya)

•Ligan netral

•Ligan negatif

•Ligan Positif (tidak umum)

Penulisan ligan :
Biasanya atom donor ditulis dibagian depan, kecuali beberapa ligan ;
H2O, H2S, dan H2Te
Penamaan ligan Netral
Seperti nama senyawanya, kecuali beberapa senyawa
Penamaan Ligan negatif :
Sisa asam atau bukan.
Ion sisa asam dapat berakhiran –da,it, atau –at
Ion bukan sisa asam,
Biasanya berakhiran –da
Anion yang namanya berakhiran –da pada penamaan –dadiganti dengan –do,kecuali : Ion sisa asam :Yang namanya berakiran –itatau –atsebagai ligan ditambah dengan -o
Ligan-ligan seringkali disingkat namanya 3.2 Urutan Penyebutan Ligan

•Secara alfabetik terlepas dari jumlah dan muatan ligan yang ada

(Holtzclaw dan Robinson,1988:769;IUPAC,1994 :151)
Aturan lama (sebelum th 1971)
Ligan negatif disebut lebih dulu secara alfabetik, kemudian ligan netral yang disebut secara alfabetik pula

•Urutan penyebutan ligan disarankan agar alfabet yang dijadikan dasar dalam menyebutkan urutan ligan adalah pada nama ligan setelah diIndonesiakan.

•[Co(en)2Cl2]+

ion bis(etilendiamin)diklorokobalt(III)

•Jumlah Ligan yang ada dinyatakan dengan awalan di, tri, tetra, dst

•Apabila awalan tersebut telah digunakan untuk menyebut jumlah substituenyang ada pada ligan maka jumlah ligan dinyatakan dengan awalan bis, tris, tetrakis, dst.

•Ligan yang terdiri dari dua atau lebih atomditulis di dalam tanda kurung

3.3 Penyebutan Nama Senyawa kompleks

•Senyawa kompleks netral

Ditulis satu kata
Dinyatakan dengan nama dan jumlah ligan,diikuti dengan nama atom pusat serta bilangan oksidasi dari atom pusat dengan angka romawi
Identifikasi spesi yang ada
Bilangan oksidasi atom pusat yang harganya nol tidak perlu ditulisSenyawa Kompleks Ionik

•Kompleks kation dinyatakan dengan ion diikuti dengan nama dan jumlah ligan, nama atom pusat serta bilangan oksidasi dari atom pusat ditulis dengan angka romawi

•Dinyatakan dengan ion diikuti dengan nama dan jumlah ligan, nama atom pusat serta muatan dari ion kompleks ditulis dengan angka arab


•Nama kompleks Anion

dinyatakan dengan ion diikuti dengan nama dan jumlah ligan, nama atom pusat dalam bahasa latin dengan akhiran –umatau –iumdiganti dengan –at serta bilangan oksidasi dari atom pusat ditulis dengan angka romawi
(----angka arab)

•Senyawa kompleks ionik terdiri dari kation dan anion. Salah satu dapat berupa ion kompleks.

•Nama senyawa kompleks ionik ditulis dua kata, nama kation disebut lebih dulu diikutu dengan nama anion


•Catatan

1. Tata nama Sistemik
2 Angka Stock / angka Ewens-Bassett
Senyawa kompleks berisomer

•Nama senyawa ditambah dengan awalan yang menyatakan isomer misalnya : -cis, -trans, fac, mer dll
 

Apick_Aw0x'z Copyright © 2012 Fast Loading -- Powered by Blogger